BRIN Ungkap Progres Perkembangan Teknologi Nuklir Pangan hingga Kesehatan

BRIN Ungkap Progres Perkembangan Teknologi Nuklir Pangan hingga Kesehatan

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 06 Agu 2026 20:38 WIB
BRIN presentasi hasil riset teknologi nuklir (Cahyo - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
BRIN presentasi hasil riset teknologi nuklir (Cahyo - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menampilkan hasil riset teknologi nuklir saat audiensi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta. Kepala BRIN Arif Satria menyebut teknologi yang ditampilkan itu termasuk dalam nuklir damai yang bertujuan untuk energi, pangan, hingga kesehatan.

"Jadi soal nuklir tadi kan nuklir itu kan tidak hanya untuk energi, nuklir ini termasuk untuk pangan, nuklir untuk kesehatan," kata Arif kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk kesehatan, BRIN tengah mengembangkan radiofarmaka. Yakni obat yang mengandung zat radioaktif dan digunakan dalam dunia kedokteran nuklir untuk mendiagnosis maupun mengobati penyakit kanker.

"Jadi sekarang itu kita sudah tadi saya sampaikan ada radiofarmaka yang sudah dikembangkan, dan ini akan sangat penting untuk identifikasi cancer maupun untuk mengatasi cancer," ujar Arif.

Sementara itu, nuklir di sektor pangan yang dikembangkan adalah untuk mengawetkan. Ia memastikan akan terus mengembangkan potensi nuklir tersebut.

"Kalau kita ekspor buah-buahannya memang beberapa negara mensyaratkan adanya iradiasi supaya apa? Supaya bahan buah-buahannya itu lebih awet, dan sekarang kita sudah kembangkan fasilitas itu di Pasar Jumat ya, di BRIN, juga ada di Serpong yang sangat penting untuk peningkatan kualitas produk-produk ekspor kita," ujarnya.

Arif menegaskan BRIN terus mengembangkan teknologi nuklir secara menyeluruh. Hal itu sebagai langkah antisipasi apabila Indonesia memutuskan mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di masa depan.

"Kami berusaha menguasai seluruh rantainya. Penambangan dan pemurnian uranium dan torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi sampai pengolahan limbah," ujarnya.

"BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulainya sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," lanjut Arif.

(eva/dek)


Berita Terkait