Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone di sebelah selatan Mekkah sebelum pesawat nirawak itu memasuki wilayah udara terlarang di atas kota suci tersebut. Kelompok Houthi yang dituduh berada di balik serangan membantah telah menargetkan Mekkah.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan drone tersebut dicegat pada Selasa (15/9) malam. Ia menyebut upaya itu sebagai "tindakan memalukan" dan menegaskan keamanan Mekkah sebagai "garis merah".
Namun, pejabat Houthi Hazem al-Assad membantah tuduhan tersebut. "Klaim tentang menargetkan Mekkah adalah kebohongan usang yang sudah pernah digunakan sebelumnya dan sekarang tidak lagi memperdaya siapa pun," tulisnya di X.
Pemerintah Arab Saudi sebelumnya mengeluarkan peringatan keamanan untuk sejumlah wilayah pada Selasa, termasuk Mekkah dan Jeddah. Peringatan tersebut kemudian dicabut. Otoritas Saudi tidak segera melaporkan apakah ada proyektil yang mencapai wilayahnya, sementara tidak ada pihak yang langsung mengaku bertanggung jawab.
Otoritas di Mekkah meminta warga tetap tenang dan mengikuti instruksi resmi. Menurut Reuters, peringatan tersebut merupakan yang pertama kali dikeluarkan untuk Mekkah sejak eskalasi terbaru konflik.
Al-Maliki mengatakan insiden kali ini merupakan upaya Houthi kedua untuk menyerang Mekkah setelah kelompok tersebut meluncurkan rudal balistik ke arah kota itu pada Juli 2017.
Houthi kembali membantah tuduhan tersebut. Mohammed al-Farah, anggota biro politik Houthi, mengatakan kelompoknya tidak menargetkan Mekkah dan menyebut tuduhan itu sebagai "kebohongan terang-terangan", menurut kantor berita SABA yang dikelola Houthi.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tetap mengecam serangan yang oleh koalisi Saudi dikaitkan dengan Houthi. "Rakyat Pakistan sedih dan terganggu oleh tindakan keterlaluan ini," kata Sharif melalui X. Ia menyebutnya sebagai tindakan "keji dan mengerikan".
Serangan Houthi meluas di Laut Merah
Insiden di sekitar Mekkah terjadi setelah sepekan serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut mengumumkan sejumlah serangan, termasuk terhadap sebuah pangkalan udara pada Senin (14/9), yang mereka klaim sebagai pembalasan atas serangan udara Saudi terhadap Yaman.
Koalisi pimpinan Saudi mengatakan serangan tersebut melukai 13 warga sipil.
Pada saat yang sama, pasukan Houthi memperluas penguasaan mereka di pesisir barat Yaman. Pejabat pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan menentang Houthi mengatakan kelompok tersebut kini secara efektif menguasai hampir seluruh pesisir barat negara itu di sepanjang Laut Merah.
Houthi juga menguasai sejumlah wilayah yang menghadap Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran utama dunia. Pemerintah Yaman mengatakan pasukan Saudi dan Yaman merespons dengan meningkatkan serangan udara terhadap posisi Houthi, termasuk di sekitar pelabuhan Mokha yang direbut kelompok tersebut pekan lalu.
Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi mengatakan pasukan pemerintah sedang mengatur kembali kekuatan untuk mencegah Houthi mengancam Bab el-Mandeb dan pelayaran internasional.
"Kami tidak akan membiarkan Houthi sekali lagi mengubah keuntungan di medan perang menjadi kenyataan," kata Al-Saadi dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Selasa.
Duta Besar Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil mengatakan aktivitas Houthi di kawasan tersebut telah meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan energi global. Menurutnya, kelompok tersebut telah "memiliterisasi selat internasional untuk memeras ekonomi global".
Gangguan minyak menambah tekanan
Eskalasi di Laut Merah berlangsung ketika Arab Saudi juga menghadapi gangguan terhadap jalur ekspor minyaknya. Riyadh menuduh kelompok berbeda yang didukung Iran dan berbasis di Irak sebagai pelaku serangan Jumat (11/9) terhadap East-West Pipeline.
Pipa sepanjang 1.200 kilometer tersebut menghubungkan ladang minyak Saudi di kawasan Teluk dengan Laut Merah dan menjadi jalur ekspor utama ketika pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu.
Arab Saudi belum mengatakan kapan operasi pipa akan kembali normal. Namun, Menteri Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, mengatakan minyak mentah diperkirakan kembali mengalir "dalam hitungan hari". Para pedagang yang dikutip Reuters memperkirakan penutupan berkepanjangan dapat mengurangi hingga 4% pasokan minyak global.
Harga minyak Brent naik melewati 108 dolar AS per barel pada Selasa, sementara harga rata-rata diesel eceran di AS mencapai hampir 6,27 dolar per galon.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman pada Selasa bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo. Kedua pemimpin menekankan perlunya menjamin kebebasan dan keamanan pelayaran di Bab el-Mandeb dan Laut Merah.
Mohammed bin Salman sebelumnya juga menghubungi Presiden AS Donald Trump untuk meminta dukungan militer. Menurut Reuters, dukungan Amerika sejauh ini terbatas pada bantuan intelijen.
Sementara itu, Wakil Duta Besar AS untuk PBB Jennifer Locetta mengatakan kemajuan Houthi di sekitar Bab el-Mandeb mengancam keamanan energi global. Ia menyerukan penghentian pengiriman senjata dan bantuan keuangan Iran kepada Houthi.
Editor: Rizki Nugraha
Lihat juga Video Arab Saudi Gagalkan Serangan Drone Houthi Dekat Makkah
(nvc/nvc)