×
Ad

Magyar Kontra Moskow, Hungaria Semakin Menjauh dari Rusia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2026 15:22 WIB
Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar menyaksikan seremoni militer di Budapest (David Balogh/Xinhua/IMAGO)
Budapest -

Di era kekuasaan Viktor Orban, tak ada negara Uni Eropa yang lebih pro-Rusia daripada Hungaria. Sosok yang kalah dalam pemilu usai memerintah selama hampir 20 tahun itu bahkan pernah dijuluki "anjing piaraan Putin" atau "agen Kremlin" karena kedekatannya dengan diktator Rusia tersebut.

Selama bertahun-tahun, Hungaria dianggap sebagai risiko keamanan di Uni Eropa dan NATO. Mata-mata Rusia pun leluasa beroperasi dari negara itu. Pada musim semi 2026, terungkap bahwa mantan Menteri Luar Negeri Peter Szijjarto bahkan secara pribadi membocorkan informasi rahasia dari pertemuan Uni Eropa kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Semua itu berakhir sejak pemerintahan baru di bawah Peter Magyar mulai berkuasa pada awal Mei 2026. Berbeda dengan Orban, Perdana menteri yang baru telah berulang kali mengecam keras agresi Rusia terhadap Ukraina. Belum lama ini, pemerintah Hungaria bahkan menyatakan Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.

Kini, pemerintah baru mengambil langkah paling drastis sejauh ini terhadap Moskow. Pekan ini, Kementerian Luar Negeri Hungaria mengusir 10 diplomat Rusia yang dinilai melanggar Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik.

Kemenlu di Budapest tidak menjelaskan lebih rinci dalam unggahannya di Facebook. Namun, dalam lingkaran diplomat istilah yang digunakan biasanya mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan adalah mata-mata. Pemerintah menegaskan keputusan tersebut diambil untuk melindungi keamanan dan kedaulatan Hungaria.

Meski demikian, langkah itu tidak berarti memutus hubungan diplomatik dengan Rusia. Hungaria tetap ingin "mempertahankan dialog yang diperlukan, saling menghormati, dan mematuhi aturan", tulis Kemenlu.

Kembali ke dalam Aliansi

Pernyataan Menteri Luar Negeri Hungaria Anita Orban singkat. Namun, berita utama dan komentar segera bermunculan. Untuk pertama kalinya, pemerintah baru Hungaria menunjukkan perubahan signifikan dalam kebijakan Rusia. Langkah itu sekaligus menjadi salah satu sanksi diplomatik paling keras terhadap Moskow sejak pergantian sistem politik pada 1989/90.

Pakar intelijen Peter Tarjani mengatakan kepada portal Index bahwa persoalan ini "bukan konflik diplomatik, melainkan perkara intelijen yang serius". Dengan langkah tersebut, kata dia, Hungaria juga kembali "ke arus utama kebijakan keamanan" para sekutunya.

Andras Racz, ilmuwan politik sekaligus pakar Rusia terkemuka dari Hungaria dan wakil direktur Hungarian Institute of Foreign Affairs (MKI), mengatakan kepada kantor berita pemerintah MTI bahwa Hungaria merupakan satu-satunya anggota Uni Eropa dan NATO yang dalam beberapa tahun terakhir belum melakukan pengusiran semacam itu. Langkah tersebut, kata Racz, "seharusnya sudah dilakukan empat setengah tahun lalu". Kini, "Hungaria membayar utang lamanya kepada para sekutu".

Kedekatan dengan Rusia

Di bawah Viktor Orban, Hungaria menjadi satu-satunya negara Uni Eropa yang tidak pernah secara tegas mengecam perang total Rusia terhadap Ukraina. Dalam dua tahun terakhir kekuasaannya, Orban bahkan berulang kali menyalahkan Ukraina dan Barat yang memancing agresi Rusia.

Namun, kebijakan pro-Rusia sudah dianut Orban sejak jauh sebelumnya, yakni sejak kembali berkuasa pada 2010. Dia berdalih, Hungaria sangat bergantung pada pasokan energi Rusia untuk kemajuan ekonomi. Klaim bahwa gas Rusia lebih menguntungkan sebenarnya telah lama terbantahkan.

Selain itu, pembangunan dan perluasan pembangkit listrik tenaga nuklir Paks dengan bantuan Rusia juga akan membebani keuangan negara selama puluhan tahun. Tanpa keuntungan nyata, kedekatan Orban dengan Rusia sebabnya menjadi teka-teki bagi banyak kalangan di Eropa.

Bagi Hungaria, kedekatan dengan Rusia ironisnya kerap melahirkan ancaman bagi keamanan nasional. Ironisnya, Orban terus menuduh para pengkritiknya sebagai pihak yang melanggar kedaulatan Hungaria. Hingga 2016, misalnya, perwira intelijen Rusia selama bertahun-tahun dapat mengikuti latihan paramiliter di lingkungan kelompok sayap kanan ekstrem Hungaria tanpa gangguan.

Sejak 2012, badan intelijen Rusia juga selama bertahun-tahun mencuri sejumlah besar data dari Kementerian Luar Negeri dan lembaga pemerintah Hungaria lainnya tanpa mendapat protes terbuka dari pemerintah.

Pada 2019, Rusia bahkan diizinkan memindahkan kantor pusat International Investment Bank (IIB), yang dikenal sebagai "bank mata-mata", ke Budapest. Bank itu baru dipindahkan kembali pada 2023 setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi. Secara keseluruhan, jurnalis investigasi Szabolcs Panyi berulang kali memperingatkan bahwa Hungaria telah menjadi "pusat logistik dan pangkalan operasi badan intelijen Rusia", sehingga membahayakan seluruh kawasan.

Penolakan dari banyak warga Hungaria

Kebijakan Orban yang sangat pro-Rusia pada akhirnya memicu penolakan yang semakin besar di kalangan warga Hungaria. Sikap Peter Magyar yang jelas pro-Eropa dan pro-Barat menjadi salah satu faktor penting kemenangan partainya, Tisza (Kehormatan dan Kebebasan). Dalam kampanye pada musim semi 2026, bendera Eropa kerap terlihat dalam berbagai unjuk rasa. Seruan "Rusia, pulanglah!" juga terdengar spontan.

Berbeda dengan mantan Perdana Menteri Orban, Magyar dan para petinggi Partai Tisza meyakini tempat Hungaria hanya di Eropa. Hubungan dengan Rusia, menurut mereka, cukup dijaga secara pragmatis dan dalam tingkat yang terbatas. Namun, banyak pengamat dan pakar terkejut melihat betapa radikal pemerintah Magyar kini menjauh dari Rusia.

Mantan wakil kepala Information Office (IH), badan intelijen luar negeri Hungaria, Andras Telkes, menulis di surat kabar Nepszava bahwa pengusiran para diplomat itu menunjukkan keberadaan intelijen Rusia di Hungaria tampaknya "sangat dalam". Menurut dia, negara itu menghadapi persoalan serius.

Bagi Telkes, pengusiran 10 diplomat membantu memulihkan kepercayaan badan-badan intelijen negara anggota NATO terhadap Hungaria. Namun, ia juga mencatat: "Mengusir dua atau tiga orang akan menjadi sebuah sinyal. Mengusir 10 orang berarti perang." Langkah tersebut, katanya, menciptakan persoalan keamanan serius bagi Hungaria.

Suplai gas Rusia akan dihentikan?

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam pengusiran diplomat Rusia dari Hungaria dengan nada yang luar biasa keras. Ia menyebut adanya "lobi Russophobia di Budapest" dan mengancam akan memberikan respons yang "keras dan menyakitkan". Andrei Kolesnik, anggota Komite Pertahanan Duma Negara Rusia, bahkan mengatakan penghentian pasokan gas ke Hungaria perlu dipertimbangkan.

Menteri Luar Negeri Hungaria Anita Orban mungkin lebih memahami ancaman semacam itu dibanding siapa pun di pemerintahan baru Hungaria. Pada 2007, ia meraih gelar doktor dengan disertasi tentang kebijakan energi Rusia di Eropa Tengah. Setahun kemudian, dia menerbitkan buku berjudul Power, Energy and the New Russian Imperialism.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork