Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, mengakui kekalahannya dalam pemilihan parlemen. Orban kalah dari rivalnya, Peter Magyar yang merupakan seorang mantan orang dalam pemerintahan dan pendatang baru di dunia politik di negara tersebut.
Dilansir AFP dan Reuters, Senin (13/4/2026), berdasarkan hasil 46 persen suara yang telah dihitung menunjukkan partai Tisza yang berhaluan tengah-kanan dan pro-Uni Eropa (UE) memenangkan 135 kursi atau mayoritas dua pertiga di parlemen yang beranggotakan 199 orang, mengungguli partai Fidesz milik Orban.
Meski perhitungan belum final, Viktor Orban mengakui kekalahan telak tersebut. Victor Orban menyebut dirinya lengser dari jabatannya yang telah diembannya selama 16 tahun lamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil pemilihan, meskipun belum final, sudah jelas dan dapat dipahami; bagi kami, hasil ini menyakitkan namun tidak ambigu," kata Orban.
"Kami tidak lagi dipercaya untuk memegang tanggung jawab dan kesempatan untuk memerintah. Saya telah mengucapkan selamat kepada partai pemenang," imbuhnya.
Lembaga survei memprediksi rekor partisipasi pemilih, dengan televisi Hungaria menunjukkan antrean panjang di luar beberapa tempat pemungutan suara di Budapest. Data pada setengah jam sebelum pemungutan suara dijadwalkan ditutup, menunjukkan 77,8 persen pemilih memberikan suara mereka, naik dari 67,8% pada empat tahun sebelumnya.
Berakhirnya masa pemerintahan Orban setelah 16 tahun berkuasa akan memiliki implikasi signifikan tidak hanya bagi Hungaria, tetapi juga bagi Uni Eropa, Ukraina, dan wilayah lainnya.
Hal ini kemungkinan besar akan mengakhiri peran oposisi Hungaria di dalam UE, yang berpotensi membuka jalan bagi pinjaman senilai 90 miliar euro (105 miliar dolar AS) untuk Ukraina yang dilanda perang, yang selama ini diblokir oleh Orban.
Kekalahan Orban juga bisa berarti pencairan dana UE untuk Hungaria yang sempat ditangguhkan oleh blok tersebut, karena apa yang disebut Brussels sebagai pengikisan standar demokrasi oleh Orban.
Lengsernya Orban juga akan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin kehilangan sekutu utamanya di UE dan mengirimkan gelombang kejutan melalui lingkaran sayap kanan Barat, termasuk Gedung Putih.
Di Hungaria, kemenangan Tisza dapat membuka jalan bagi reformasi yang menurut partai tersebut bertujuan untuk memerangi korupsi serta memulihkan independensi peradilan dan lembaga-lembaga lainnya.
(wnv/wnv)










































