PM Hungaria Anggap Uni Eropa Jadi Ancaman Nyata, Bukan Putin

PM Hungaria Anggap Uni Eropa Jadi Ancaman Nyata, Bukan Putin

Haris Fadhil - detikNews
Minggu, 15 Feb 2026 14:31 WIB
PM Hungaria Anggap Uni Eropa Jadi Ancaman Nyata, Bukan Putin
Viktor Orban (Foto: AP Photo)
Budapest -

Hungaria menganggap Rusia bukan ancaman nyata. Menurut Hungaria, Uni Eropa merupakan ancaman yang nyata.

Dilansir CNN, Minggu (15/2/2026), hal itu disampaikan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, dalam pidatonya kepada para pendukung saat partai nasionalisnya meningkatkan kampanye anti-Uni Eropa menjelang pemilihan nasional.

Dengan hanya delapan minggu tersisa hingga pemungutan suara 12 April, Orban dan partainya, Fidesz, menghadapi tantangan paling serius sejak pemimpin populis sayap kanan itu merebut kembali kekuasaan pada tahun 2010. Sebagian besar jajak pendapat independen menunjukkan Fidesz tertinggal dari partai Tisza yang berhaluan tengah-kanan dan pemimpinnya, Peter Magyar, bahkan ketika Orban berkampanye dengan premis yang tidak berdasar bahwa Uni Eropa akan mengirim warga Hungaria ke kematian mereka di Ukraina jika partainya kalah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pidatonya pada Sabtu (14/2), Orban membandingkan Uni Eropa dengan rezim Uni Soviet represif yang mendominasi Hungaria selama lebih dari 40 tahun dan menolak keyakinan banyak pemimpin Eropa bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan ancaman bagi keamanan benua tersebut.

"Kita harus terbiasa dengan gagasan bahwa mereka yang mencintai kebebasan tidak perlu takut pada Timur, tetapi pada Brussel. Menyebarkan ketakutan tentang Putin adalah hal yang primitif dan tidak serius. Namun, Brussel adalah realitas yang nyata dan sumber bahaya yang mengancam. Ini adalah kebenaran yang pahit, dan kita tidak akan mentolerirnya," katanya, merujuk pada ibu kota de facto Uni Eropa di Belgia.

Orban telah menjadi penentang keras bantuan militer dan keuangan untuk Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh hampir 4 tahun lalu. Dia telah mempertahankan hubungan dekat dengan Moskow sambil mengadopsi sikap agresif terhadap mitra Uni Eropa dan NATO yang dia gambarkan sebagai penghasut perang.

Pada Desember lalu, dia mengatakan 'tidak jelas siapa yang menyerang siapa' ketika puluhan ribu pasukan Rusia membanjiri perbatasan Ukraina pada Februari 2022. Pemerintah Hungaria telah lama berselisih dengan Uni Eropa yang telah membekukan miliaran euro dana untuk Budapest karena kekhawatiran bahwa Orban membongkar lembaga-lembaga demokrasi, mengikis independensi peradilan, dan mengawasi korupsi pejabat yang meluas.

Sebagai balasannya, Orban semakin bertindak sebagai perusak dalam pengambilan keputusan Uni Eropa. Dia secara rutin mengancam untuk memveto kebijakan-kebijakan penting seperti memberikan dukungan keuangan untuk Ukraina.

Menjelang pemilihan umum, dia semakin menggambarkan partai Tisza sebagai boneka yang diciptakan oleh Uni Eropa untuk menggulingkan pemerintahannya dan melayani kepentingan asing. Klaim itu dengan tegas dibantah oleh Tisza.

Magyar, pemimpin partai tersebut, telah berjanji untuk memperbaiki hubungan Hungaria yang tegang dengan sekutu-sekutu Baratnya, menghidupkan kembali ekonomi yang stagnan, dan mengembalikan negara itu ke jalur yang lebih demokratis.

Selain mempertahankan hubungan baik dengan Putin, Orban juga memuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Orban telah menuduh perusahaan multinasional seperti bank dan perusahaan energi mengambil keuntungan dari perang di Ukraina dan berkonspirasi dengan oposisi politiknya untuk mengalahkannya dalam pemilihan.

"Sangat jelas bahwa di Hungaria, bisnis minyak, dunia perbankan, dan elit Brussel sedang bersiap untuk membentuk pemerintahan. Mereka membutuhkan seseorang di Hungaria yang tidak akan pernah menolak tuntutan Brussel," ujarnya.

Jika partainya memenangkan mayoritas kelima berturut-turut dalam pemilihan, Orban berjanji untuk melanjutkan tujuannya membersihkan Hungaria dari entitas yang menurutnya melanggar kedaulatan negara. Dia lalu memuji Trump, yang telah mendukungnya menjelang pemilihan, karena menciptakan lingkungan di mana 'organisasi non-pemerintah palsu dan jurnalis, hakim, dan politisi yang dibeli dan dibayar' dapat diusir.

"Presiden baru Amerika Serikat telah memberontak terhadap jaringan bisnis, media, dan politik liberal global, sehingga meningkatkan peluang kita. Kita pun bisa berbuat banyak dan mengusir pengaruh asing dari Hungaria, beserta agen-agennya, yang membatasi kedaulatan kita. Mesin represif Brussel masih beroperasi di Hungaria. Kita akan membersihkannya setelah April," katanya.

Tonton juga video "Presiden Hungaria Mundur Buntut Kasus Pelecehan Seksual Anak"

Halaman 2 dari 2
(haf/imk)



Berita Terkait