×
Ad

Antrean Panjang BBM Jadi Wajah Baru Krisis Iran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 03 Sep 2026 09:25 WIB
Di berbagai kota di Iran, para pengemudi melaporkan harus menunggu berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar (Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance)
Teheran -

Hanya beberapa hari setelah Washington mengumumkan putaran baru sanksi ekonomi terhadap Iran, kelangkaan bensin di negara itu semakin terlihat di jalan-jalan.

Di berbagai kota di Iran, pengemudi melaporkan harus mengantre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar. Video yang beredar di media sosial menunjukkan sejumlah orang datang sebelum tengah malam atau bahkan tidur di dalam mobil demi mendapatkan bahan bakar keesokan paginya. Beberapa stasiun pengisian bahkan tutup sebelum seluruh kendaraan dalam antrean terlayani.

Situasinya bahkan lebih sulit untuk bahan bakar diesel. Sopir truk mengatakan antrean di stasiun pengisian dekat kota-kota besar dapat membentang hingga beberapa kilometer. Mereka terpaksa menunggu semalaman hanya untuk mendapatkan cukup bahan bakar agar bisa kembali bekerja.

Iran sebenarnya sudah menghadapi defisit bensin sekitar 15 juta liter (sekitar 4 juta galon) per hari. Kerusakan akibat perang, kesulitan mengimpor produk olahan minyak, dan blokade Amerika Serikat (AS) yang semakin ketat membuat masalah struktural lama itu semakin sulit ditangani.

Berjam-jam mengantre demi beberapa liter

Seorang warga Karaj, kota di sebelah barat ibu kota Teheran, mengatakan kepada DW bahwa sejumlah stasiun pengisian membatasi pembelian setiap orang hingga sekitar 5 liter (sekitar 1,3 galon).

"Saya sedang mengantre bensin sekarang. Butuh sekitar 45 menit hanya untuk sampai sejauh ini," katanya. "Kemarin saya pergi ke beberapa stasiun. Ada yang tutup, ada yang tidak memiliki bensin, dan ada pula yang antreannya sangat panjang."

Ia mengatakan kembali datang pada pukul 06.00 keesokan harinya dengan harapan bisa menghindari kerumunan. Namun, ia kembali menemukan antrean panjang.

Ia menduga kelangkaan tersebut sebagian digunakan untuk mempersiapkan opini publik menghadapi kenaikan harga bensin. Klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.

Bagi sopir truk, waktu yang dihabiskan untuk mengantre berarti kehilangan pendapatan.

"Seluruh hidup kami dihabiskan entah dalam antrean diesel atau di jalan," kata seorang sopir. Ia menceritakan bahwa dirinya tidur di sebuah stasiun pengisian sambil menunggu truk tangki yang mungkin tiba sekitar tengah hari dan hanya memasok bahan bakar untuk beberapa lusin truk.

Sopir lainnya mengatakan telah menunggu sejak pukul 08.00 setelah gagal mendapatkan diesel sehari sebelumnya.

Bagi pengemudi yang pendapatannya bergantung langsung pada kendaraan yang terus beroperasi, setiap hari yang hilang menambah beban biaya asuransi, ban, oli, perbaikan, dan pemeliharaan yang terus meningkat.

Apakah Iran mencampur bensinnya?

Kelangkaan tersebut terjadi bersamaan dengan penggunaan metanol dalam bensin yang diproduksi di dalam negeri.

Vahid Ghaneifard, CEO Persian Gulf Star Oil Company, baru-baru ini mengonfirmasi bahwa kilang tersebut mulai menguji metanol sebagai bahan oksigenat dalam bensin.

Perusahaan mengatakan metanol mencakup sekitar 0,5% dari campuran. Otoritas penyulingan Iran mengatakan standar bahan bakar nasional mengizinkan konsentrasi metanol hingga 3%.

Pejabat pemerintah menegaskan bahwa uji coba tersebut memenuhi persyaratan teknis. Namun, waktunya memicu kecurigaan publik.

Video yang dibagikan secara daring menunjukkan pengendara membawa botol berisi bahan bakar yang tampak sangat jernih dan mengklaim kualitas bensin telah menurun.

Sebagian orang menuduh air atau alkohol dalam jumlah berlebihan dicampurkan ke dalam pasokan bensin. Tuduhan tersebut belum mendapat konfirmasi independen.

Namun, setidaknya ada satu insiden kontaminasi air yang telah dikonfirmasi. Di kota Rafsanjan, otoritas setempat mengakui bahwa air tercampur dengan bensin di sebuah stasiun pengisian setelah video menunjukkan mobil dan sepeda motor mengalami masalah.

Pejabat mengatakan insiden tersebut disebabkan oleh kerusakan teknis dan sedang diselidiki.

Ketidakpercayaan terhadap kualitas bahan bakar meningkat

Bagi pengendara yang sudah menghadapi kelangkaan, insiden-insiden terisolasi dapat memperkuat kekhawatiran yang lebih luas.

Seorang warga Teheran mengatakan kepada DW bahwa ia telah menghabiskan sekitar 1 miliar toman, sekitar US$5.250 (sekitar Rp 93,9 juta) berdasarkan kurs saat ini, untuk memperbaiki mobilnya setelah poros engkol mengalami kerusakan. Ia meyakini kualitas bensin yang buruk menyebabkan kerusakan tersebut, meski hubungan itu belum dapat dibuktikan secara independen.

Ia mengatakan enggan melakukan protes secara terbuka.

Warga lainnya di Rey, sebelah selatan Teheran, mengatakan kepada DW bahwa para pengendara berkumpul di luar sebuah stasiun pengisian setelah sejumlah mobil diduga mengalami kerusakan usai mengisi bahan bakar.

Kekhawatiran tersebut bukan semata persoalan teknis. Hal ini mencerminkan merosotnya kepercayaan antara konsumen dan pemerintah ketika pemerintah juga sedang membahas kenaikan harga bensin dan diesel.

Teheran berpendapat sistem subsidi saat ini mendorong konsumsi berlebihan dan penyelundupan, sekaligus membebani keuangan negara secara tidak berkelanjutan.

Namun, konsumen menunjuk persoalan lain, seperti kendaraan yang tidak efisien, transportasi umum yang tidak memadai, serta pendapatan yang tidak mampu mengimbangi inflasi.

Apakah kenaikan harga sedang dipersiapkan?

Ekonom Hassan Mansour meyakini pemerintah sedang mempersiapkan landasan politik untuk menaikkan harga energi.

Para pejabat berulang kali mengatakan harga bensin Iran terlalu rendah secara artifisial, dalam jumlah besar diselundupkan ke luar negeri, dan perekonomian Iran mengonsumsi jauh lebih banyak energi untuk setiap unit output dibandingkan negara-negara yang sebanding.

Solusi yang diusulkan adalah mendekatkan harga bahan bakar domestik dengan harga internasional.

"Sekali lagi, pemerintah mendapati dirinya sedang mempersiapkan landasan untuk menaikkan harga pembawa energi," kata Mansour kepada DW.

Namun, persoalannya lebih dalam daripada sekadar subsidi bensin.

Mansour menyoroti kondisi keuangan industri minyak Iran. Dokumen anggaran menunjukkan National Iranian Oil Company memiliki utang puluhan miliar euro kepada bank sentral dan bank-bank komersial. Perusahaan tersebut juga memiliki kewajiban besar kepada National Development Fund dan menghadapi kewajiban pajak yang signifikan.

Ketika utang-utang tersebut secara realistis tidak dapat dilunasi, menurut Mansour, kondisi itu melemahkan keuangan negara dan secara tidak langsung berkontribusi terhadap ketidakstabilan mata uang serta inflasi.

Karena itu, kenaikan harga bensin dapat berfungsi sekaligus sebagai langkah untuk mengendalikan permintaan dan sumber tambahan pendapatan bagi negara.

Pilihan yang berisiko secara politik

Pemerintah hanya memiliki sedikit pilihan yang mudah.

Ketika impor semakin sulit dibiayai dan diangkut, produksi dalam negeri kesulitan mengimbangi konsumsi.

Meningkatkan produksi secara cepat membutuhkan investasi dan teknologi. Sementara itu, mengurangi konsumsi berarti memperketat penjatahan bahan bakar atau menaikkan harga. Keduanya memiliki risiko politik.

Otoritas Iran masih mengingat apa yang terjadi pada November 2019, ketika kenaikan harga bensin secara tiba-tiba memicu protes nasional, yang kemudian diikuti tindakan keras mematikan dan pemutusan akses internet.

Saat ini, kondisi ekonomi jauh lebih rapuh.

Perang telah merusak infrastruktur, sanksi internasional semakin diperketat, dan daya beli rumah tangga merosot tajam. Antrean panjang untuk mendapatkan bahan bakar menjadi sumber frustrasi lainnya.

Bagi Teheran, menaikkan harga mungkin membantu mengurangi defisit bensin.

Namun, jika dilakukan ketika masyarakat sudah harus mengantre semalaman untuk mendapatkan bahan bakar, kebijakan tersebut dapat mengubah kelangkaan energi menjadi krisis baru berupa kemarahan publik, sesuatu yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Artikel ini ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi dari oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

Simak Video 'Update Harga BBM Pertamina 1 September, Ada yang Naik':

width="1" height="1" />




(nvc/nvc)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork