×
Ad

Akankah Israel Perluas Kendalinya di Selatan Lebanon?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 10 Jun 2026 18:26 WIB
Jakarta -

Berkali-kali tentara Israel meminta warga Tyre untuk mengungsi dari kota di Lebanon bagian selatan itu, yang sebelumnya dihuni lebih dari 100.000 orang serta sekitar 10.000 pengungsi dari daerah sekitarnya. Namun, ayah dan anggota keluarga Lily tetap bertahan, kata Lily, seorang pekerja sosial asal kota Tyre.

Lily, yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya demi alasan keamanan, kini tinggal bersama teman-temannya di Beirut. Namun, setiap ada kesempatan, perempuan 29 tahun itu kembali ke Tyre untuk mengantarkan obat-obatan dan makanan.

"Tyre sekarang seperti kota hantu," katanya kepada DW.

Sejak awal Maret, serangan udara Israel yang terus-menerus membuat warga pergi secara bertahap. Serangan drone dan artileri juga masih terus terjadi pekan ini, Israel menyatakan menargetkan kelompok militan Lebanon, meski ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel.

"Tiga minggu lalu, hanya ada satu apotek yang buka setiap dua atau tiga hari sekali, lalu tutup lagi karena alasan keamanan," lanjut Lily. "Ada beberapa toko kelontong yang masih buka, tapi jumlahnya bisa dihitung jari. Dan sulit sekali mendatangkan pasokan. Tidak ada yang mau ke Tyre lewat jalan darat karena terlalu berbahaya," ungkapnya.

Kecemasan yang tak kunjung mereda

Kadang militer Israel memberi peringatan sebelum menyerang suatu gedung, kata Lily. "Namun, kenyataannya mereka malah menghantam empat gedung. Atau gedung yang diperingatkan tidak diserang sampai seminggu kemudian. Jadi, tidak ada kepastian waktu, dan itu membuat semua orang cemas karena tidak tahu apa yang akan terjadi," ceritanya.

Di lain waktu, serangan bahkan terjadi tanpa peringatan sama sekali, tambahnya. Pada Minggu (07/06), sebuah rumah keluarga bersejarah milik sahabat dekatnya yang terletak di dekat kawasan yang ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia hancur rata dengan tanah.

"Tidak ada peringatan, tapi untungnya tidak ada orang di sana," kata Lily. Ia menambahkan bahwa sahabatnya, seorang perempuan berusia 32 tahun yang pernah menjadi relawan Palang Merah, kebetulan sedang dalam proses pindah ke Prancis untuk pekerjaan baru. Korban utama dari serangan itu adalah belasan kucing yang selama ini dirawat oleh keluarga tersebut.

"Dia sangat terpukul," kata Lily. "Kami semua terpukul. Dan kami mempertanyakan, kenapa. Karena tidak ada target militer di sana. Kecuali kalau kucing sekarang dianggap sebagai target militer."

Pertanyaan yang banyak diajukan warga Lebanon selatan, kata Lily, adalah apakah mereka bisa kembali ke rumah, berapa lama pasukan Israel akan berada di tanah mereka, dan apakah tentara Israel mungkin terus bergerak lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon.

Pada Maret lalu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Kartz, menyatakan warga tidak akan bisa kembali ke Lebanon selatan sampai "keselamatan dan keamanan warga Israel di wilayah utara terjamin."

Israel telah menetapkan "garis kuning" yang disebutnya sebagai batas zona penyangga keamanan untuk melindungi warganya dari serangan kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Garis itu berada sekitar 10 kilometer dari perbatasan. Namun, ada laporan yang menyebut pasukan Israel beroperasi melampaui garis kuning itu hingga Sungai Litani, untuk pertama kalinya sejak 2006.

Selain Tyre, baru-baru ini Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk kota selatan Lebanon lainnya, Nabatieh, yang juga berada di luar garis kuning tersebut.

Dari penjagaan perbatasan ke kendali wilayah

Pada akhir Mei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan ingin pasukannya "memperkuat dan memperluas" kendali mereka di wilayah Lebanon. Pemerintah Israel sebelumnya juga menyatakan menginginkan "kebebasan beroperasi" di Lebanon, meski para ahli berpendapat bahwa hal ini sebagian besar merujuk pada serangan udara.

Dalam sebuah laporan pada Juni, para pakar di lembaga konsultan risiko berbasis di AS, Institute for Applied Geopolitics, menyatakan bahwa semua ini menandai "pergeseran dari pertahanan perbatasan terbatas menuju strategi kendali wilayah dan pencegahan."

"Skala dan simbolisme operasi ini mengingatkan pada pendudukan Israel tahun 1982, dan menunjukkan kemungkinan pembentukan kembali zona keamanan jangka panjang," ungkap laporan tersebut.

Namun, hal itu dibantah oleh Yossi Kuperwasser, kepala Jerusalem Institute for Strategy and Security sekaligus mantan kepala divisi riset militer Israel. Menurutnya, Israel sebenarnya belum masuk sejauh itu ke wilayah Lebanon.

"Jarak yang ingin dicapai militer di Lebanon, dan yang telah disetujui pemerintah, adalah sekitar 10 kilometer dari perbatasan—agar komunitas kami di sisi selatan perbatasan terlindung dari tembakan langsung rudal anti-tank," kata Kuperwasser kepada DW.

Ia mengakui memang ada perdebatan soal apakah perlu masuk lebih jauh lagi ke Lebanon.

"Kami membayar harga mahal akibat serangan drone hampir setiap hari, dan ada korban jiwa, jadi itu mungkin memengaruhi perdebatan," katanya. "Tapi sejauh yang saya tahu, belum ada keputusan baru untuk melampaui garis kuning."

Meski begitu, ia menambahkan bahwa kekhawatiran warga Lebanon bagian selatan tetap beralasan. "Karena semakin besar tekanan yang diberikan kepada Israel, semakin besar kemungkinan Israel mengevaluasi ulang kebijakan itu."

Zona keamanan atau ekspansi wilayah?

Saat ini, menurut David Wood, analis senior Lebanon di lembaga think tank International Crisis Group, warga Lebanon tidak terlalu khawatir soal kemungkinan "pendudukan Israel meluas hingga ke Beirut." Namun, mereka tetap cemas bahwa pasukan Israel bisa bergerak lebih jauh ke wilayah lain di Lebanon bagian selatan, seperti Nabatieh.

"Menurut saya, inti dari apa yang sedang terjadi sekarang adalah bahwa mereka (Israel) merasa memiliki kebebasan bertindak," kata H.A. Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute for Defense and Security Studies di London dan Center for American Progress.

"Namun, mereka tahu kebebasan bertindak ini tidak akan bertahan selamanya, tidak di bawah pemerintahan Trump, dan tentu tidak di bawah siapapun setelahnya. Jadi, saya pikir mereka memanfaatkan momen ini untuk menarik garis-garis baru, menciptakan zona-zona keamanan semacam itu," ungkapnya.

Meski pasukan Israel memang menarik diri dari satu kota di Lebanon selatan pekan lalu, Hellyer mengatakan bahwa sejarah menunjukkan zona keamanan Israel sering berubah menjadi wilayah yang diduduki atau dicaplok secara permanen. Ia mencontohkan Dataran Tinggi Golan di Suriah serta pernyataan terbaru Netanyahu soal mengendendalikan 70% wilayah Gaza.

"Ini adalah bagian dari apa yang saya sebut sebagai supremasi Israel," jelas Hellyer, merujuk pada konsep hubungan internasional "paramountcy" yang menggambarkan bagaimana negara-negara kuat mengendalikan negara yang lebih lemah. "Intinya mereka yang memegang kendali penuh, mereka bisa melakukan apa yang mereka mau, tidak ada yang bisa berkata tidak, dan hukum serta aturan tidak lagi berlaku."

Meski begitu, Hellyer dan Wood dari Crisis Group sama-sama berpendapat bahwa masih ada cara untuk mengendalikan pasukan Israel di Lebanon, terutama dengan melibatkan negara-negara seperti Amerika Serikat dan lainnya, termasuk Jerman.

"Mereka bahkan tidak perlu menjatuhkan sanksi kepada Israel," kata Hellyer. "Mereka hanya perlu berkata, 'kami tidak akan lagi mendukung ini'."

"Sebagai sekutu utama Israel, AS harus menekan para pemimpin Israel untuk benar-benar mematuhi gencatan senjata, kemudian mulai menarik pasukan dan memberi jalan bagi tentara Lebanon untuk masuk dan menegakkan kendali," kata Wood.

Ia menambahkan bahwa rencana zona penyangga Israel di Lebanon bagian selatan pada akhirnya tidak berjalan, karena Hizbullah tetap meluncurkan drone dan roket ke Israel serta menimbulkan korban di pihak tentara Israel.

Sementara bagi Lily, warga Tyre yang kini mengungsi, juga tidak yakin rencana Israel untuk kotanya akan berhasil, meski alasannya berbeda.

"Saya sudah berbicara dengan begitu banyak orang di sini, dan mereka semua bilang ingin kembali ke rumah," katanya kepada DW.

"Bagaimanapun, ini bukan pertama kalinya kami diserang atau diduduki, bukan pertama kalinya kami mengungsi, kehilangan orang tersayang, atau kehilangan rumah. Jadi kami akan membangun kembali. Karena itulah mentalitas orang-orang di selatan. Kami tangguh, dan ini tanah kami."

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor Tezar Aditya Rahman/Yuniman Farid

width="1" height="1" />

Tonton juga video "Makin Jengkel, Trump Minta Netanyahu Hati-hati atau Bakal Sendirian"




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork