×
Ad

China Jadi Penentu Ekspor Minyak Iran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 10 Mar 2026 14:32 WIB
Jakarta -

Ancaman Iran telah membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir berhenti. Namun, para pakar meragukan Iran akan mengambil risiko memblokade jalur pelayaran tersebut dalam jangka panjang sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

"Sekitar 70% perdagangan nonmigas Iran melewati pelabuhan yang bergantung pada akses melalui Selat Hormuz," kata analis gas dan ekonomi Dalga Khatinoglu dikutip dari Iran International, media yang berbasis di London.

Memblokade selat itu dalam jangka panjang justru akan merugikan Iran sendiri.

"Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju Cina dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri," kata pakar energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International kepada Bloomberg TV.

Harga minyak dan gas melonjak sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/02). Biaya satu barel minyak diperkirakan bisa naik hingga 100 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta) atau lebih jika pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi terlalu berbahaya.

Jalur utama perdagangan minyak

Menurut Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) Amerika Serikat, sekitar 20% minyak mentah yang dikonsumsi dunia diangkut melalui jalur laut ini. Lebih dari 80% pengiriman tersebut menuju Asia, terutama Cina, India, dan Jepang.

Menurut media Iran International, penutupan Selat Hormuz tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak, tetapi juga bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG). Sekitar 30% bahan bakar penerbangan Eropa dan 20% LNG global diangkut melalui jalur tersebut.

Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, negara anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada, memiliki cadangan strategis yang cukup untuk menghadapi gangguan pasokan sementara selama beberapa minggu.

Iran bergantung pada Cina

Blokade tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke Barat, tetapi juga ekspor Iran yang ditujukan ke Cina dan India. Hal ini akan memperparah krisis ekonomi Iran.

Iran telah dikenai sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terhadap ekspornya. Sanksi tambahan dari PBB diberlakukan antara 2006 hingga 2015 terkait program nuklir Iran.

Sanksi sempat dilonggarkan antara 2016 dan 2018 setelah Iran ikut dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan sanksi ketat setelah menarik AS dari kesepakatan tersebut.

Sanksi Barat juga membuka celah bagi Iran untuk tetap berdagang karena tidak ada sanksi bagi negara yang tidak mematuhi pembatasan tersebut. Akibatnya, lebih dari 80% ekspor Iran dikirim ke Cina, menurut platform data dan analisis Kpler. Saat ini, Cina menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia.

Sanksi Barat terhadap ketiga negara itu memaksa mereka menjual minyak dengan harga diskon. Cina diuntungkan oleh harga yang lebih murah, sementara Iran harus menerima pendapatan ekspor yang lebih rendah. Selain itu, sanksi yang memaksa penggunaan armada kapal bayangan, perantara, dan rute alternatif juga meningkatkan biaya transportasi.

"Saat ini, Cina merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi," kata Nikolay Kozhanov dari Qatar University.

Cina diversifikasi impor minyak

Itulah mengapa perkembangan ekonomi Cina lebih penting bagi Iran dibandingkan sanksi baru dari PBB. Sanksi terhadap Iran, Rusia, dan Venezuela juga memungkinkan Cina mendiversifikasi sumber impor minyaknya.

Cina telah menjauh dari pemasok yang memiliki hubungan erat dengan AS, seperti negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang banyak terintegrasi dalam sistem keamanan dan keuangan yang dipimpin AS.

Menurut Kozhanov, sanksi telah melemahkan Iran terlepas dari ketahanan ekonominya. Hal ini karena sanksi sangat membatasi akses Iran terhadap teknologi baru, pembiayaan internasional, dan investasi. Hal ini mengurangi produksi minyak Iran dalam jangka panjang.

"Iran kemungkinan tetap hadir di pasar minyak global, tetapi sebagai pemasok yang secara struktural dilemahkan dan menjual dengan diskon besar, secara bertahap mempertahankan volume perdagangan yang stabil dengan pendapatan per unit yang lebih rendah," kata Kozhanov.

Ia menambahkan bahwa "spiral negatif yang lambat dari sektor minyak Iran mencerminkan penurunan umum dan bertahap dalam kinerja dan stabilitas keseluruhan rezim."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Algadri Muhammad

Editor: Muhammad Hanafi


width="1" height="1" />Lihat juga Video: Rusia-China Kecam Serangan ke Iran: Langgar Hukum Internasional




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork