Timur Tengah Memanas, Houthi Bidik Jalur Dagang Dunia

Timur Tengah Memanas, Houthi Bidik Jalur Dagang Dunia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 15 Jul 2026 17:00 WIB
Timur Tengah Memanas, Houthi Bidik Jalur Dagang Dunia
Jakarta -

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam memperluas serangan ke jalur pelayaran strategis di Laut Merah, sementara Arab Saudi meningkatkan ekspor minyak melalui Pelabuhan Yanbu di barat Madinah sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz.

Di saat yang sama, Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, memicu ancaman balasan dari Teheran dan memperbesar risiko gangguan terhadap pasokan energi global.

Pada Rabu (15/7), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa jika tekanan terhadap Iran terus berlanjut, jalur ekspor energi di kawasan tidak akan aman bagi siapa pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ekspor energi di kawasan harus bisa dinikmati semua pihak di dunia, atau tidak sama sekali," demikian pernyataan IRGC yang dikutip oleh kantor berita IRNA.

Sehari sebelumnya, Selasa (14/7), Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa Washington siap meningkatkan tekanan terhadap Iran apabila perundingan tidak dilanjutkan.

"Saya akan menyimpan target-target energi sebagai yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Saudi alihkan ekspor minyak ke Laut Merah

Di tengah meningkatnya ancaman terhadap Selat Hormuz, Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Data Signal Ocean menunjukkan pemuatan minyak di Yanbu mencapai sekitar 4,7 juta barel per hari pada Minggu (12/7), mendekati kapasitas maksimal terminal tersebut.

Peningkatan ini menjadikan Yanbu sebagai jalur ekspor utama Saudi ketika pengiriman melalui Teluk Persia terganggu akibat konflik Iran-AS.

Menurut sumber industri pelayaran, Yanbu hampir tidak memiliki ruang tambahan untuk meningkatkan ekspor apabila situasi semakin memburuk.

"Yanbu telah beroperasi mendekati kapasitas maksimum dalam beberapa pekan terakhir. Ada kekhawatiran bahwa Houthi akan membuka front baru, tetapi hampir tidak ada ruang lagi untuk meningkatkan volume pengiriman," ujar seorang sumber industri pelayaran kepada Reuters.

Reuters juga melaporkan bahwa Arab Saudi tengah mempertimbangkan perluasan kapasitas jaringan pipa menuju pantai Laut Merah agar ekspor minyak dapat dilakukan tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Namun, meningkatnya aktivitas ekspor tersebut juga memunculkan kekhawatiran baru. Sejumlah pelaku industri menilai Pelabuhan Yanbu berpotensi menjadi sasaran kelompok Houthi apabila konflik terus meluas.

Iran ancam Bab el-Mandeb, Houthi kembali konfrontatif

Ancaman tidak hanya datang dari Selat Hormuz. Para analis menilai Iran dapat memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu arteri perdagangan terpenting di dunia.

Pada Senin (13/7), seorang pejabat senior Houthi menyatakan bahwa kelompok tersebut siap menutup Selat Bab el-Mandeb apabila Arab Saudi terus menyerang Yaman.

Kelompok itu mengklaim langkah tersebut dapat mendorong harga minyak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,26 juta) per barel.

Ketegangan meningkat setelah Houthi menembakkan rudal ke Arab Saudi sebagai balasan atas serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa. Insiden itu mengakhiri gencatan senjata tidak resmi yang telah bertahan sekitar 4 tahun antara Riyadh dan kelompok yang didukung Iran tersebut.

Menurut analis senior International Crisis Group, Ahmed Nagi, insiden itu bukan sekadar persoalan satu penerbangan dari Iran.

"Houthi sedang menguji batas baru. Jika mereka berhasil, mereka akan semakin percaya diri, meningkatkan tuntutan, dan mencoba melampaui batas-batas lain," ujarnya.

Peneliti Chatham House, Farea al-Muslimi, mengatakan Arab Saudi selama ini relatif menahan diri dalam konflik Iran-AS, tetapi situasinya akan berbeda jika pengaruh Riyadh di Yaman mulai terancam.

Sementara analis politik Yaman, Abdel-Bari Taher, menilai kondisi negara tersebut masih sangat rentan untuk dimanfaatkan sebagai arena persaingan kekuatan regional.

"Kawasan ini kini berada dalam situasi konfrontasi menyeluruh. Yaman menjadi lingkungan yang sangat rentan terhadap konflik karena terpecah oleh kelompok-kelompok bersenjata dan tidak memiliki kendali penuh atas wilayah laut maupun wilayah udaranya," katanya.

Blokade AS picu ancaman baru terhadap jalur energi global

Pada Rabu (15/7), Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran setelah menuduh Teheran menyerang kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan militernya menyerang puluhan sasaran militer Iran selama sekitar 7 jam. Serangan tersebut dibalas Iran dengan meluncurkan rudal ke sejumlah negara yang menjadi tuan rumah pasukan Amerika Serikat, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Iran mengecam langkah Washington dan mengancam akan memperluas gangguan terhadap ekspor energi di kawasan tersebut.

"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini hanya akan berlangsung bagi semua pihak atau tidak akan berlangsung bagi siapa pun," tegas Garda Revolusi Iran.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, juga menyalahkan Washington atas eskalasi terbaru. "Amerika Serikat adalah pihak yang melakukan agresi, bukan korbannya," katanya.

Di sisi lain, Trump mengatakan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan. "Lebih baik kalian mencapai kesepakatan, atau kalian tidak akan memiliki apa pun yang tersisa," ujar Trump.

Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan potensi gangguan di Selat Bab el-Mandeb memicu kekhawatiran di pasar energi global. Kedua jalur tersebut merupakan koridor utama perdagangan minyak dunia. Para analis memperingatkan bahwa apabila kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan, tetapi juga oleh pasar energi dan rantai pasok internasional.


Editor: Rizki Nugraha

Lihat juga Video Houthi Rudal 4 Kapal AS di Laut Arab dan Teluk Aden

(ita/ita)


Berita Terkait