Situasi di Asia Barat atau yang sering disebut Timur Tengah semakin ngeri. Belum selesai perang di Gaza dan Iran, kini kondisi makin mendidih saat Houthi menyerang wilayah Arab Saudi.
Dirangkum detikcom, Jumat (7/8/2026), Asia Barat telah memanas gara-gara ulah Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran pada Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk.
Pada Kamis (6/8), muncul informasi kalau Iran dan kelompok proksinya bersiap melancarkan serangan ke Arab Saudi. Kabar itu dilaporkan Al Arabiya berdasarkan sumber senior di Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber Saudi tersebut mengatakan 'sejumlah laporan intelijen yang kredibel' menunjukkan adanya koordinasi antara kelompok Houthi yang bermarkas di Yaman, milisi-milisi Irak yang didukung Iran, dan IRGC dalam mempersiapkan serangan-serangan terhadap Saudi. Laporan itu sangat mengkhawatirkan karena muncul saat Saudi menunjukkan upaya mendorong perdamaian di Timur Tengah dengan negosiasi bergerak ke arah positif.
Saudi juga dilaporkan tidak akan ragu untuk mengambil segala langkah untuk merespons setiap bentuk agresi. Informasi tersebut muncul tak lama setelah sumber-sumber Irak mengatakan mereka memiliki informasi yang mengindikasikan adanya niat faksi-faksi bersenjata untuk melancarkan serangan drone terhadap 'negara-negara tetangga dalam waktu 48 jam'.
Sumber senior Saudi itu mengatakan serangan tersebut dapat menargetkan fasilitas sipil dan energi, termasuk infrastruktur vital, bandara-bandara, dan pelabuhan. Sebagian informasi intelijen yang diperoleh mencakup pemantauan terhadap pemindahan posisi rudal dan drone sebagai persiapan untuk kemungkinan serangan serentak.
Saudi merupakan salah satu sekutu AS di Timur Tengah. Hubungan AS dan Saudi disebut tetap 'sangat kuat' di semua tingkatan, termasuk antara militer kedua negara.
Houthi Serang Saudi
Setelah informasi itu muncul, Houthi benar-benar melakukan serangan ke Arab Saudi. Kelompok pemberontak itu melancarkan serangan terhadap wilayah selatan Saudi dan menyebabkan 11 orang luka-luka.
Ini menjadi jumlah korban terbanyak di wilayah Saudi selama negara itu berkonflik dengan Houthi yang bermarkas di Yaman lebih dari 4 tahun terakhir. Houthi, yang bermarkas di Yaman dan didukung Iran, memang telah meningkatkan serangan terhadap Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui internasional sejak bulan lalu.
Serangan itu diklaim sebagai dukungan Houthi untuk Iran yang berperang melawan AS. Dilansir AFP, Juru bicara koalisi pimpinan Saudi untuk memerangi Houthi, Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan serangan itu terjadi pada Kamis (6/8) malam.
Korban luka itu terdiri atas tujuh warga Saudi, dua warga negara Mesir, satu warga negara Yaman dan satu warga negara Pakistan. Serangan yang memicu korban luka itu terjadi di wilayah Najran, yang berbatasan dengan Yaman.
Saudi telah memimpin koalisi militer mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional dalam melawan Houthi sejak 2015. Konflik di Yaman sendiri bermula lebih dari 11 tahun lalu, yang melibatkan pasukan pemerintah yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Houthi hingga saat ini masih menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, dan wilayah-wilayah strategis lainnya di negara tersebut. Situasi pertempuran di Yaman relatif mereda sejak April 2022 setelah gencatan senjata diumumkan.
Namun, Houthi kembali aktif melancarkan serangan-serangan yang menargetkan Saudi sejak perang Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran meluas. Pertempuran juga berkobar setelah penerbangan langsung dari Iran mendarat di Sanaa yang dikuasai Houthi.
Hal itu memicu reaksi keras koalisi Saudi. Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi.
Masih pada Kamis (6/8), Houthi juga meluncurkan serangan di Yaman yang menewaskan sedikitnya 58 tentara pemerintah Yaman. Serangan rudal dan drone itu menargetkan posisi-posisi militer di wilayah tengah dan timur Yaman.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan tersebut menargetkan pasukan pemerintah Yaman untuk merespons apa yang disebutnya sebagai peningkatan kekuatan militer yang didukung Saudi. Saree menyebut serangan-serangan itu melibatkan sejumlah besar rudal balistik dan drone.
Kementerian Pertahanan Yaman bersumpah untuk membalas serangan Houthi 'pada tempat dan waktu yang tepat'.










































