Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia, Luthfi Yazid, bicara pentingnya manusia di balik RUU Perampasan Aset. Menurutnya, the men behind the gun penting dalam pemberantasan korupsi.
Luthfi mulanya memaparkan dirinya pernah bicara dengan advokat asal Jepang. Dia bertanya bagaimana bisa tingkat korupsi di Jepang sangat rendah.
"Kemarin saya berjumpa dengan seorang advokat dari Jepang kebetulan saya juga menjadi salah satu pendiri dari Japan-Indonesia Lawyers Association saya bertemu dengan Mitamayama Sosaboro Kawata, saya tanya kenapa di Jepang ini tingkat korupsinya sangat rendah bahkan di Jepang itu kalau orang malu dia akan lakukan senpoku dia bunuh diri dengan sobek-sobek perutnya," kata Luthfi saat pemaparan RUU Perampasan Aset di Komisi III DPR, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Advokat Jepang itu, kata dia, menyatakan orang Jepang tidak akan melanggar hukum meski di malam hari atau tidak ada orang yang melihat. Orang Jepang, lanjut dia, takut karena matahari menyaksikan tindak tanduk mereka.
"Dia bilang 'Pak Luthfi tahu kan di Jepang itu meskipun malam hari dan jalan itu traffic light itu merah, itu mereka nggak akan nyeberang Pak Luthfi, jadi kami tidak akan melakukan kejahatan, baik dilihat orang maupun tidak dilihat orang, karena matahari menyaksikan kami, jadi dia takut pada matahari, karena matahari menyaksikan dia," ucap dia.
Atas kisah itu pun, dia menyimpulkan pentingnya peran manusia di balik aturan. Dia menggarisbawahi the men behind the gun.
"Jadi sebenarnya apa namanya peran dari manusia, the men behind the gun-nya, menjadi hal yang sangat penting," ujar dia.
Tonton juga video "Ternyata, Ini Alasan Draft RUU Perampasan Aset Belum Dipublikasikan"
(maa/gbr)