Aroma gurih telur asin yang baru matang memenuhi ruang pemberdayaan di Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Sabtu (4/7). Di sudut lain, sejumlah penyandang disabilitas tampak tekun menganyam tas, sementara yang lain mengolah serabut kelapa menjadi sapu siap jual.
Produk-produk ini bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa lewat kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan, keterbatasan bisa menjelma menjadi karya yang bernilai ekonomi.
Pemandangan ini disaksikan langsung oleh Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf. Fatma menyambangi setiap meja produksi, menyapa para penerima manfaat, dan menyuntikkan motivasi kepada keluarga pendamping.
Salah satu titik yang dikunjungi Fatma adalah Pos Kesehatan Jiwa (Poskeswa) Mergo Waras binaan Puskesmas Dukuhklopo. Bersama Poskeswa Mantap Jiwa di Kecamatan Sumobito, wadah ini menjadi ruang inklusif bagi penyandang disabilitas psikososial. Di sini, mereka mendapatkan rehabilitasi sosial, terapi, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan usaha mandiri.
Di tempat ini, mereka tidak lagi disebut dengan label klinis yang kaku, melainkan sebagai "para tersayang"-sebuah akronim dari Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang.
"Bagi saya, sebutan itu mengingatkan kita semua bahwa setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya," tutur Fatma dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Fatma menegaskan maknanya tidak boleh berhenti sebatas julukan. Istilah ini menjadi pengingat bagi publik bahwa tidak boleh ada lagi warga yang terabaikan hanya karena kondisi kesehatan jiwa atau disabilitasnya.
"Mereka adalah bagian utuh dari masyarakat yang memiliki hak setara untuk bekerja, belajar, berkarya, dan hidup bermartabat," tambahnya.
Fatma mengaku bangga karena proses pemulihan di Poskeswa ini melampaui pengobatan medis. Melalui Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Kementerian Sosial mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan dasar, terapi, bantuan kewirausahaan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Sebagai bentuk dukungan konkret, DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta menyalurkan bantuan ATENSI dengan total nilai Rp82.496.521 kepada 22 penerima manfaat (21 penyandang disabilitas dan 1 kelompok rentan).
Adapun rincian bantuan yang disalurkan antara lain, alat bantu aksesibilitas berupa 2 unit kursi roda standar, 1 unit kursi roda adaptif (untuk penyandang cerebral palsy), dan 4 unit sepeda adaptif.
Kemudian, bantuan kewirausahaan untuk 15 penerima. Modal modal usaha yang disesuaikan dengan potensi masing-masing, mulai dari usaha tambal ban, warung makan/kopi, produksi telur asin, kerajinan tas macrame, mebel dan jaranan, hingga penjualan pakaian.
"Jangan pandang bantuan ini sebagai tujuan akhir. Jadikan ini pemantik semangat untuk terus melangkah menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup," ucap Fatma.
Selain penyerahan bantuan dan peninjauan ruang produksi, rangkaian bakti sosial ini juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang diakses oleh sekitar 100 peserta, termasuk para kader Posyandu.
Sebagai informasi, turut hadir dalam agenda bakti sosial DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Kegiatan ini turut dikawal oleh Penasihat dan Ketua DWP Kabupaten Jombang, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, jajaran Pemkab Jombang, serta perwakilan Kemensos. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat ini menjadi kunci dalam membuka ruang bagi kelompok rentan untuk bangkit dan berdaya.
(anl/ega)