Ikan sapu-sapu ramai diburu banyak pihak. Masyarakat, perangkat pemerintah, hingga TNI menjaring ikan sapu-sapu demi penyelamatan lingkungan.
Perburuan ikan sapu-sapu di Jakarta awalnya digerakkan oleh masyarakat yang peduli dengan kondisi Sungai Ciliwung. Populasi ikan sapu-sapu meningkat signifikan di Ciliwung karena tak ada predator di atasnya.
Ketiadaan pemangsa alami membuat ikan sapu-sapu ini berkembang biak dengan cepat. Kondisi ini juga membuat ikan dengan nama latin Hypostomus plecostomus ini menguasai ekosistem air tawar di Jakarta.
Melalui video yang kerap dibagikan di media sosial (medsos), kegiatan perburuan ikan sapu-sapu pun semakin marak dilakukan. Banyak pihak menjaring atau menangkap langsung ikan sapu-sapu karena kekhawatiran rusaknya ekosistem air tawar di Indonesia.
Pihak yang menangkap ikan sapu-sapu untuk menjaga keseimbangan lingkungan perairan pun semakin banyak. Pemerintah dan TNI juga ikut serta menangkap ikan sapu-sapu agar populasi ikan invasif ini dapat teredam.
Warga menjaring ikan di kali Cengkareng, Jakarta Bara beberapa waktu lalu. Tampak ikan sapu-sapu ditampung di perahu (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom) |
Pram Dukung Sapu-sapu Diburu
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendukung langkah penangkapan ikan sapu-sapu yang belakangan marak dilakukan di sejumlah aliran sungai di Ibu Kota. Dia mendukung upaya penangkapan ikan sapu-sapu secara masif guna menekan populasinya.
"Saya menyetujui kalau dilakukan secara masif untuk mengurangi ikan sapu-sapu. Apa yang dilakukan oleh PPSU dan Wali Kota Jakarta Pusat kemarin, Pemerintah DKI Jakarta memberikan apresiasi," kata Pramono di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026).
Dia menilai keberadaan ikan tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Dia mengatakan sifat ikan sapu-sapu yang invasif membuatnya dapat mengancam keberadaan ikan lokal.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Foto: Belia/detikcom) |
Menurutnya, populasi ikan sapu-sapu bisa mendominasi dan mengganggu rantai makanan ekosistem air tawar jika tidak dikendalikan.
"Kalau dibiarkan, ikan-ikan lain seperti wader dan sebagainya bisa hilang," ujarnya.
Selain berdampak pada ekosistem, Pramono juga mengingatkan potensi risiko jika ikan sapu-sapu dikonsumsi. Ia menyebut ikan tersebut bisa mengandung zat berbahaya karena mereka juga menyerap zat yang sudah mengkontaminasi perairan.
"Karena dia makan apa saja, dagingnya berpotensi mengandung kontaminasi zat berbahaya," jelasnya.
Sapu-Sapu Ditangkap di Kali Depan PI
Seratus personel gabungan dari Dinas KPKP DKI, hingga Gulkarmat Jakarta Pusat menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, tepat di depan Plaza Indonesia (PI), Menteng. Puluhan ekor ikan sapu-sapu berukuran besar ditangkap.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menyebut ikan sapu-sapu itu ditangkap karena dianggap berpotensi mengganggu ekosistem sungai. Ikan-ikan invasif itu akan dimusnahkan.
Puluhan ikan sapu-sapu ditangkap di kali depan Plaza Indonesia Foto: (Pemprov DKI Jakarta) |
"Sebelumnya kami juga sudah menyelesaikan permasalahan serupa di kali Ciliwung. Hasilnya 41 ekor ikan sapu sapu berukuran besar berhasil ditangkap," ujar Hasudungan dalam keterangan, Jumat (10/4).
Puluhan ikan yang ditangkap di Kali Cideng itu dibawa ke Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPSHP) Dinas KPKP DKI Jakarta untuk dimusnahkan dengan cara dikubur. Ikan ini punya daya tahan sangat tinggi karena mampu bertahan hidup di air yang kandungan oksigennya rendah.
"Kami berharap dari pascapenangkapan ikan sapu sapu di aliran Kali Cideng lebih sehat karena ikan invasif yang mengganggu ekosistem dan susah dikendalikan," imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota (Walkot) Jakarta Pusat, Arifin, menuturkan, penangkapan dan pemusnahaan ikan ini bertujuan mengedukasi warga agar tidak mengkonsumsi ikan yang mengandung bakteri dari limbah yang dibuang ke dalam saluran.
"Sisa limbah yang dibuang ke kali Cideng mrnjadu santapan ikan sapu sapu sehingga jika warga mengkonsumsi ikan ini dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan tubuh. Kami akan melakukan penangkapan serupa di kali atau sungai yang banyak berkembang biak," kata Arifin.














































