Dinas KPKP Diminta Gandeng 'Pemburu Sapu-sapu' demi Ekosistem Ciliwung

Dinas KPKP Diminta Gandeng 'Pemburu Sapu-sapu' demi Ekosistem Ciliwung

Brigitta Belia Permata Sari - detikNews
Rabu, 04 Feb 2026 18:36 WIB
Dinas KPKP Diminta Gandeng Pemburu Sapu-sapu demi Ekosistem Ciliwung
Sejumlah warga tengah menjaring ikan sapu-sapu di kali Anak Ciliwung, Jakarta, beberapa waktu lalu. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto meminta Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) menindaklanjuti maraknya fenomena ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung. Dia menduga dominasi ikan sapu-sapu di aliran Ciliwung berkaitan dengan persoalan limbah.

"Nanti bisa disampaikan ke Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP). Ikan sapu-sapu biasanya muncul di sungai yang bermasalah dengan limbah. Ini perlu ditindaklanjuti," ujar Uus dalam keterangan, Rabu (4/2/2026).

Ia menekankan langkah tersebut penting untuk memastikan keamanan masyarakat, khususnya terkait konsumsi ikan dari perairan sungai. Menurutnya, Dinas KPKP akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan agar masyarakat Jakarta merasa aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, ia juga meminta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov DKI menindaklanjuti keterlibatan warga yang selama ini membantu melakukan intervensi populasi ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung.

ADVERTISEMENT

Ke depan, pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam penanganan ikan sapu-sapu diharapkan dapat berkolaborasi guna menjaga kelestarian lingkungan sungai.

"Nanti saya minta KPKP untuk mengecek langsung ke lapangan," katanya.

Ikan sapu-sapu ramai diburu karena bersifat invasif. Ikan sapu-sapu juga berpotensi mengganggu ekosistem di Ciliwung karena tak ada pemangsanya.

Akibatnya, populasi ikan sapu-sapu yang banyak dinilai dapat menekan jumlah ikan asli yang berhabitat di Ciliwung. Diketahui, ikan sapu-sapu Ciliwung berasal dari Amerika Selatan, terutama wilayah Sungai Amazon.

Sebelumnya, Dinas KPKP menegaskan ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar dari Sungai Ciliwung tidak layak dikonsumsi. Hal ini disebabkan tingginya risiko kontaminasi logam berat berbahaya, seperti timbal, merkuri, dan kadmium, serta cemaran bakteri E. coli.

Meski secara biologis ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi jika dibudidayakan secara terkontrol, ikan yang hidup di sungai tercemar tidak melalui pengawasan mutu dan keamanan pangan. Akumulasi zat kimia berbahaya, seperti mikroplastik hingga limbah industri, dalam tubuh ikan berpotensi menimbulkan keracunan kronis dan gangguan kesehatan serius apabila dikonsumsi secara rutin.

(bel/jbr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads