Pihak Keluarga Korban Kanjuruhan Ragukan Hasil Autopsi PDFI Jatim

ADVERTISEMENT

Pihak Keluarga Korban Kanjuruhan Ragukan Hasil Autopsi PDFI Jatim

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 03 Des 2022 06:19 WIB
Kuasa hukum korban Tragedi Kanjuruhan, Anjar Nawan Yusky. (Azhar/detikcom)
Kuasa hukum korban Tragedi Kanjuruhan Anjar Nawan Yusky (Azhar/detikcom)
Jakarta -

Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur menyatakan tak ditemukan adanya residu gas air mata pada dua jenazah Tragedi Kanjuruhan. Kuasa hukum korban Tragedi Kanjuruhan, Anjar Nawan Yusky, mengaku curiga atas hasil tersebut.

Anjar meragukan hasil autopsi dua korban tersebut. Dia mengatakan pihaknya meminta autopsi ulang.

"Intinya, kami meragukan ya, kami meragukan hasil itu, dan kalau korban kan menolak, ya kami juga mendukung sikap itu, penolakan, dan minta dilakukan autopsi ulang," kata Anjar saat dimintai konfirmasi, Jumat (2/12/2022).

Anjar mengatakan kecurigaan itu timbul lantaran awalnya pihaknya dijanjikan hasil autopsi akan keluar pada waktu 8 minggu. Namun, pada akhirnya hasil autopsi itu keluar hanya dalam waktu kurang satu bulan.

"Nah, apa yang menjadi alasan keraguan juga termasuk penolakan itu? Yang pertama kan karena ketidakjelasan informasi sejak awal ya, nih kita bicara soal transparansi. Kita bicara waktu itu kan Ketua PDFI Jatim dr Nabil bilang pascaekshumasi, ini prosesnya maksimal 8 minggu," katanya.

"Nah, ternyata ini selesai dalam jangka waktu nggak sampai satu bulan. Artinya, kami mencurigai jangan-jangan ada apa ini kok secepat ini jadinya? Apalagi dengan hasil semacam itu ya," tambahnya.

Selain itu, dia menduga hasil autopsi itu dikeluarkan cepat hanya dipergunakan sebagai formalitas pemberkasan perkara. Dia juga mengaku tak diberi tahu bahwa sampel autopsi itu diuji di mana.

"Kami khawatir jangan-jangan ini berkaitan dengan berkas perkara yang kemarin segera dilimpahkan ke kejaksaan tinggi, jangan-jangan sekadar untuk memenuhi formalitas itu aja," katanya.

"Yang kedua tentang independensi laboratorium. Selama ini kami nggak tahu pasti ya, itu sampel dibawa ke mana, diperiksa di lab mana, sejauh mana, laboratorium tempat pemeriksaan itu independensinya. Termasuk apakah metode-metode yang dilakukan itu sudah benar-benar bisa dibuktikan secara ilmiah, kita jadi meragukan itu," tambahnya.

Sebelumnya, Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur menyatakan penyebab kematian 2 korban Tragedi Kanjuruhan yang telah diautopsi adalah kekerasan benda tumpul. Hasil autopsi terhadap 2 jenazah korban tidak ditemukan adanya residu gas air mata.

Dilansir detikJatim, Jumat (2/11), dua jenazah Aremanita yang telah diautopsi pada Sabtu (5/11) itu adalah Natasya Debi Ramadhani (16) dan Nayla Debi Anggraeni (13). Nabil merinci sejumlah temuan dalam autopsi itu.

"Kekerasan benda tumpul. Tulang iga yang patah, dua, tiga, empat, lima. Dan ada pendarahan cukup banyak. Sehingga itu menjadi sebab kematiannya. Kemudian adiknya, Naila juga sama. Tapi ada di tulang dada patahnya, sebagian juga di tulang iga sebelah kanan," kata Ketua PDFI Jawa Timur dr Nabil Bahasuan SpFM menyampaikan itu dalam konferensi pers di Universitas Airlangga Surabaya pada Rabu (30/11).

Ia mengatakan bahwa dalam forensik tidak ada penjelasan lebih detail mengenai apa yang menyebabkan kekerasan benda tumpul terhadap tubuh jenazah. Menurutnya, yang bisa menjelaskan hal itu adalah penyidik kasus.

"Di kedokteran forensik kita tidak bisa mengatakan itu karena apa. Tapi karena kekerasan benda tumpul. Untuk pastinya, tentu di penyidikan yang tahu," ungkapnya

Simak juga 'Penyintas Kanjuruhan Mau Perkara Eks Kapolda Jatim Ditangani Bareskrim':

[Gambas:Video 20detik]




(azh/zap)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT