Tentang Nyaris Rp 100 T di Rekening Yosua: Penjelasan PPATK hingga Pengacara

ADVERTISEMENT

Tentang Nyaris Rp 100 T di Rekening Yosua: Penjelasan PPATK hingga Pengacara

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 27 Nov 2022 11:37 WIB
Kabar terbaru kasus Brigadir J berkaitan dengan kronologi hingga motif pembunuhan pada Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Cek selengkapnya.
Brigadir N Yosua Hutabarat (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Heboh di media sosial potongan gambar dokumen Bank Negara Indonesia (BNI) dan tercantum nominal sekitar Rp 99,99 triliun yang diduga sebagai saldo rekening Brigadir N Yosua Hutabarat. Rupanya, hal itu bukan transaksi ataupun saldo rekening Brigadir Yosua. Lantas apa itu?

Dirangkum detikcom, Minggu (27/11/2022), kehebohan itu mulanya terjadi karena unggahan kanal YouTube Irma Hutabarat. Di unggahan itu, Irma mengaku mendapat informasi adanya surat yang diterima keluarga Brigadir Yosua dari BNI Cabang Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Sejurus kemudian, beredar surat berupa berita acara penghentian sementara transaksi tertanggal 18 Agustus.

Sekadar diketahui, Yosua merupakan ajudan mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo. Yosua tewas dalam penembakan di rumah dinas Ferdy Sambo dan kini kasus tersebut sudah masuk di meja hijau dengan terdakwa Ferdy Sambo beserta 4 terdakwa lainnya.

Kembali ke rekening Yosua, dalam berita acara yang beredar itu, tercantum tanda tangan Anita Amalia Dwi Agustine selaku Asisten PNC BNI sekaligus saksi dari BNI dalam kasus Brigadir Yosua. Berita acara itulah yang viral di media sosial. Dalam surat itu, tertulis nama Yosua serta tulisan 'Nominal: Rp 99.999.999.999.999'.

Penjelasan PPATK

Kepala Kepala PPATK Ivan Yustiavandana memastikan angka tersebut bukan saldo rekening Yosua, melainkan nilai plafon tertinggi pembekuan yang lazim dilakukan.

"Itu plafon tertinggi pembekuan. Praktik lazim di perbankan dan selalu menggunakan nilai tertinggi yang hampir mustahil. Itu angka setting di sistem komputer bank, bukan angka saldo," kata Ivan kepada detikcom, Jumat (25/11).

Ivan mengatakan, jika salah satu bank membekukan salah satu rekening, tentunya diatur dengan nilai tertinggi. Hal ini bertujuan membekukan segala aktivitas transaksi dalam jumlah apa pun.

"Jadi, kalau kami perintahkan pembekuan rekening, bank akan setting di sistemnya jumlah maksimal yang akan dibekukan oleh bank sehingga sistem akan membaca numerik yang diberikan," ujarnya.

"Jadi, kalau nasabah transaksi masih di bawah numerik tadi, sistem akan mengunci," tambahnya.

Penjelasan BNI

Rekening yang viral itu adalah atas nama Yosua di Bank BNI. Pihak BNI pun memberi penjelasan yang serupa dengan PPATK.

"Penyebutan nilai nominal dalam format berita acara tersebut merupakan nilai pemblokiran/penghentian sementara transaksi dengan nominal angka maksimum. Oleh karena itu, perlu kami luruskan dan tegaskan di sini bahwa nilai nominal dalam dokumen berita acara tersebut bukanlah nominal transaksi ataupun saldo rekening nasabah," kata Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterangannya, Jumat (25/11).

Okki mengatakan dokumen itu memang terkait dengan pembekuan transaksi milik Yosua. Hal ini diterapkan sesuai dengan peraturan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Nomor 18 Tahun 2017.

"Dokumen tersebut merupakan dokumen berita acara penghentian sementara transaksi bank yang harus dibuat sesuai dengan yang disyaratkan maupun dalam format berdasarkan Peraturan PPATK No 18 Tahun 2017," jelasnya.

Pengacara Sebut Kode Blokir

Lebih lanjut, pengacara keluarga Yosua, Kamaruddin Simanjuntak menyebut tak semua orang paham dengan rekening almarhum Brigadir Yosua yang nyaris Rp 100 triliun. Kamaruddin menegaskan itu kode dalam pemblokiran rekening.

Kamaruddin menjelaskan semula pihaknya melaporkan ke Kabareskrim agar PPATK terlibat terkait rekening Brigadir J. Ternyata PPATK sudah memblokir rekening kliennya.

"Saya laporkan ke Bareskrim dan desak PPATK terlibat. Pasca PPATK terlihat itu diblokir, khususnya BNI Cabang Cibinong. Dibuat jumlah uangnya 999999 sampai 12 kali atau 14 kali, Rp 100 T kurang satu rupiah. Itu sebenarnya kode. Kode bahwa PPATK telah blokir," kata Kamaruddin dilansir detikJateng.

"Belum tentu ada uangnya sebesar itu. Itu kode PPATK. Tapi tidak semua polisi, jaksa, mengetahui kecuali pernah terlibat dalam PPATK," imbuh Kamaruddin.

Simak Video: Hakim ke Acay: Irfan Jadi Terdakwa Kasus Sambo atas Rekomendasi Anda

[Gambas:Video 20detik]

(whn/knv)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT