ADVERTISEMENT

Analisis Pakar soal Tujuan Hakim Tanya Ekspresi Sambo Pakai Analogi Emoji

Eva Safitri - detikNews
Jumat, 25 Nov 2022 08:20 WIB
Ferdy Sambo menjalani sidang kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Sedangkan istrinya, Putri Candrawathi hadir virtual karena positif COVID-19, Selasa, 22/11/2022.
Ferdy Sambo (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Majelis hakim penasaran terhadap ekspresi Ferdy Sambo seusai penembakan Brigadir N Yosua Hutabarat. Hakim meminta saksi menjelaskan ekspresi Sambo itu dengan analogi emoji WA.

Pertanyaan hakim itu terjadi saat sidang kasus perusakan CCTV hingga menghambat penyidikan pembunuhan Yosua dengan terdakwa AKP Irfan Widyanto. Hakim meminta asisten rumah tangga (ART) Sambo, Diryanto alias Kodir, yang menjadi saksi di sidang tersebut, menjelaskan ekspresi Sambo dengan analogi emoji WhatsApp.

Lantas apa yang hendak digali hakim?

Pakar hukum pidana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Hibnu Nugroho menilai hakim ingin mengetahui aspek perencanaan dan eksekusi penembakan tersebut. Dia menilai ekspresi seseorang dapat menunjukkan konstruksi tindak kejahatan.

"Pandangan saya ini kan pasalnya pembunuhan berencana, sehingga aspek perencanaan dan eksekusi itu seperti apa. Kan gitu. Jadi kan syarat suatu perencanaan pidana itu adanya waktu untuk berpikir, berpikir itu relatif, bisa lama, bisa sebentar. Kemudian ada berpikir untuk melanjutkan kehendak atau tidak," kata Hibnu ketika dihubungi, Kamis (24/11/2022).

"Ketiga, ekspresi eksekusi. Nah, eksekusi penembakan itu dalam keadaan seperti apa, apakah dalam keadaan tenang, apakah dalam keadaan sedih, apakah dalam keadaan sangat emosional, apakah tergesa-gesa. Itulah yang saya kira melihatnya tadi hakim mengkonstruksikan konsep cara perencanaan tadi untuk eksekusi," lanjutnya.

Hibnu lalu menjelaskan pentingnya pengetahuan ekspresi pelaku dalam melakukan suatu kejahatan. Hal itu akan berpengaruh pada perumusan formulasi perencanaan.

"Jadi kalau memang dalam keadaan nangis atau apa, hakim bisa merumuskan. 'Oh, ini masuk kualifikasi sebagai bentuk perencanaan', karena namanya suatu tindak pidana ekspresi melakukan kejahatan itu penting. Apakah ekspresinya biasa-biasa saja, apa dengan marah yang begitu sangat tinggi, atau bagaimana. Ekspresi berpengaruh penting untuk merumuskan formulasi perencanaan," ucapnya.

Hibnu mengatakan tindak kejahatan tidak lepas dari ekspresi. Menurutnya, ekspresi juga dapat menunjukkan sejauh mana motif seseorang melakukan tindakannya.

"Bicara hukum bicara ekspresi. Ekspresi marah dan kesal itu penting. Ekspresi itu kan menunjukkan motif. Hukum itu tergantung niat, pelaksanaan kehendak, sehingga pelaksanaan kehendak itu perlu ekspresi, masa tanpa ekspresi," ucapnya.

Lihat video 'Hendra Izinkan Acay Lapor Dirtipidum soal Kematian Yosua: Kulitnya Saja':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/haf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT