Hakim Penasaran Ekspresi Sambo Usai Penembakan Yosua: Kalau Emoji, yang Mana?

ADVERTISEMENT

Hakim Penasaran Ekspresi Sambo Usai Penembakan Yosua: Kalau Emoji, yang Mana?

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 24 Nov 2022 13:16 WIB
Jakarta -

Majelis hakim yang mengadili terdakwa kasus obstruction of justice AKP Irfan Widyanto penasaran akan ekspresi Ferdy Sambo usai penembakan Brigadir N Yosua Hutabarat. Hakim meminta asisten rumah tangga (ART) Sambo, Diryanto alias Kodir, menjelaskan ekspresi Sambo dengan analogi.

Kodir adalah saksi dalam persidangan AKP Irfan Widyanto. Dalam kesaksiannya, Kodir mengaku diperintah Ferdy Sambo memanggil AKBP Ridwan Soplanit selaku Kasatreskrim Polres Jaksel usai penembakan terhadap Yosua terjadi pada 8 Juli 2022.

"Bagaimana wajah FS saat itu (memerintahkan) memanggil Kasatreskrim?" tanya hakim ketua Ahmad Suhel dalam sidang di PN Jaksel, Kamis (24/11/2022).

"Menangis, seperti menangis," kata Kodir.

"Menangis, marah gimana?" cecar hakim.

"Seperti menangis," jawab Kodir lagi.

Hakim meminta Kodir menjelaskan ekspresi Sambo seperti emoji aplikasi WhatsApp. Hakim meminta Kodir menjelaskan rinci.

"Emoji gitu lho, di WA ada emoji, marah, sedih, kesal, jengkel, pusing, gimana?" tanya hakim lagi.

"Matanya merah. Merah karena air mata," kata Kodir.

Kodir mengaku tidak berani bertanya ke Sambo mengapa matanya merah. Kodir juga mengaku mendengar suara tembakan lebih dari tiga kali pada Jumat, 8 Juli 2022.

Hakim juga sempat meminta Kodir mempraktikkan bunyi suara tembakan yang dia dengar. Kodir mengatakan suara tembakan itu terdengar cepat.

"Letusan kedua, tiga, jeda berapa?" kata hakim Suhel.

"Sekitar 4 detik, 3 detik," jawabnya.

"Coba ilustrasikan," timpal hakim.

Kodir pun mempraktikkan bunyi suara tembakan. Menurut Kodir, bunyinya sangat keras dan terdengar dari posisinya yang berada di depan rumah dina Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga.

"Dor, dor, dor, jeda, bunyi lagi. Bunyinya sama, sangat keras," jelas Kodir.

Dalam kasus ini, AKP Irfan Widyanto didakwa merusak CCTV yang membuat terhalanginya penyidikan kasus pembunuhan Yosua Hutabarat. Perbuatan itu dilakukan mantan Kasubnit I Subdit III Dittipidum Bareskrim Polri bersama enam orang lainnya.

Enam terdakwa lain yang dimaksud adalah Ferdy Sambo, Kompol Baiquni Wibowo, AKBP Arif Rachman Arifin, Kompol Chuck Putranto, Brigjen Hendra Kurnia, dan Kombes Agus Nurpatria Adi Purnama. Mereka didakwa dengan berkas terpisah.

Irfan didakwa dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 dan Pasal 48 juncto Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 233 KUHP dan Pasal 221 ayat 1 ke-2 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

(zap/haf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT