Saksi Curhat Beli Rumah Eks Pejabat Samsat Banten tapi Malah Disita

ADVERTISEMENT

Saksi Curhat Beli Rumah Eks Pejabat Samsat Banten tapi Malah Disita

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 23 Nov 2022 18:50 WIB
Sidang kasus korupsi Samsat di PN Tipikor Serang (Bahtiar-detikcom)
Sidang kasus korupsi Samsat di PN Tipikor Serang (Bahtiar/detikcom)
Serang -

Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan Oktorisma dan Kristian Harianto sebagai saksi di sidang korupsi pajak kendaraan Samsat Kelapa Dua, Tangerang, Banten. Dua saksi itu merupakan pembeli rumah dari terdakwa bernama Zulfikar yang merupakan eks pejabat Samsat Banten.

Oktorisma mengatakan dirinya ditawari membeli rumah Zulfikar di Tangerang senilai Rp 1,2 miliar pada April 2022. Ada juga tiga motor jenis Ninja RR senilai Rp 50 juta yang ditawarkan. Selain itu, Kristian ditawari rumah terdakwa lain bernama Pridasya senilai Rp 350 juta dan rumah terdakwa bernama Bagza senilai Rp 600 juta.

"Saya beli dari Zul Rp 1,2 miliar, saya tertarik buat bengkel usaha saya," kata Oktorisma di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (23/11/2022).

Dia mengatakan dirinya dan Zulfikar sepakat dengan harga tersebut hingga dibuatkan perjanjian pengikatan jual beli atau PPJB. Dia mengaku tidak tahu bahwa ternyata pejabat Samsat Kelapa Dua ini terjerat kasus dugaan korupsi.

"Menyerahkan uang, disuruh terdakwa, ini uang mau gimana, dia minta cash dan disarankan langsung ke Bank Banten di Bapenda, waktu itu ke Bapenda," ujarnya.

"Saya bayar cash ke Bapenda, disaksikan sama Pak Bayu (Kepala Samsat Kelapa Dua Bayu Adi Putranto) juga. Saya serahkan ke Bapenda, karena saat penyerahan ke Pak Zul, dia nggak ada, saya serahkan Pridasya, katanya mau disetorkan ke Bank Banten kata Pak Zul," tuturnya.

Belakangan, dia baru tahu rupanya uang pembelian rumah itu untuk pengembalian kerugian negara. Dia mengaku kaget karena rumah yang dibeli olehnya malah disita karena terkait kasus.

"Tujuannya ternyata untuk pengembalian," ujarnya.

"Saya sih udah pasrah, saya ingin uang dikembalikan, karena masa depan saya batal semua, pernikahan batal, batal semua malu saya sama keluarga," sambungnya.

Sebelumnya, kasus dugaan korupsi penggelapan pajak di Samsat Kelapa Dua diduga terjadi sejak Juni 2021 hingga Februari 2022 dan merugikan negara Rp 10,8 miliar. Penggelapan pajak diduga dilakukan oleh Zulfikar, Achmad Pridasya, dan M Bagza Ilham sebagai pegawai Samsat untuk kendaraan mobil. Satu terdakwa lain adalah Budiyono sebagai pembuat aplikasi pembayaran Samsat Banten.

Simak juga 'KPK Tetapkan AKBP Bambang Kayun Tersangka Dugaan Suap-Gratifikasi':

[Gambas:Video 20detik]



(bri/haf)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT