Hakim Cecar Kepala Samsat Kelapa Dua di Sidang Korupsi Pajak Kendaraan

ADVERTISEMENT

Hakim Cecar Kepala Samsat Kelapa Dua di Sidang Korupsi Pajak Kendaraan

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 00:52 WIB
Kepala Samsat Kelapa Dua Bayu Adi Putranto saat memberikan kesaksian di Pengadilan Tipikor Serang
Foto: Kepala Samsat Kelapa Dua Bayu Adi Putranto saat memberikan kesaksian di Pengadilan Tipikor Serang. (Bahtiar Rifai/detikcom)
Serang -

Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Serang Banten heran Kepala Samsat Kelapa Dua Bayu Adi Putranto tidak tahu tiga anak buah melakukan penggelapan uang pajak, padahal penggelapan itu dilakukan selama 9 bulan, dari Juni 2021 hingga Februari 2022. Hakim anggota Ibnu Anwarudin awalnya menanyakan kepada Bayu soal lokasi kerja dirinya dan ketiga terdakwa satu atap atau tidak.

"Di Samsat Induk, di kantor UPT, di satu atap" kata Bayu di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (9/11/2022).

Bayu dihadirkan jadi saksi fakta untuk terdakwa mantan Kasi Penetapan, Penerimaan dan Penagihan Zulfikar; mantan Pengadministasian Penerimaan Samsat Achmad Pridasya; honorer Samsat M Bagza Ilham; dan pembuat sistem aplikasi pembayaran Samsat Budiyono. Keempat terdakwa didakwa penggelapan pajak Rp 10,8 miliar.

Hakim lalu bertanya soal isi berita acara pemeriksaan (BAP) yang menyebutkan terdakwa Zulfikar pernah mengembalikan uang penggelapan di Desember 2021, namun Bayu mengaku baru tahu ada penggelapan di Maret 2022.

"Saya tidak tahu, saat itu penyidikan mengatakan ada pengembalian. Mereka mengembalikan secara langsung," ujarnya.

Hakim mencecar lagi Bayu dengan bertanya sistem pengawasan di Samsat Kelapa Dua. Bayu lalu menjawab dia baru tahu adanya penyimpangan dari Bidang Rendalev (Perencanaan Pengendalian dan Evaluasi) Bapenda.

"Saudara tidak lihat keanehan dan selisih?" tanya hakim.

"Tidak, saya hanya mengecek penerimaan bendahara setelah posting," jawab Bayu.

Bayu menerangkan dirinya hanya menerima laporan pendapatan harian setelah posting dari Bendahara Penerimaan di Samsat Kelapa Dua. Nominal pendapatan yang di-posting Bendahara Penerimaan itulah yang disetorkan ke rekening kas daerah.

Bayu mengaku tak punya akses ke sistem data penerimaan pajak yang digelapkan atau diubah para terdakwa. "Tidak yang mulia, karena tidak memiliki akses tersebut," tutur Bayu.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT