Tak Ada Sepakbola Seharga Nyawa, Mari Bantu Pulihkan Luka Korban Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Tak Ada Sepakbola Seharga Nyawa, Mari Bantu Pulihkan Luka Korban Kanjuruhan

Tim berbuatbaik.id - detikNews
Selasa, 04 Okt 2022 15:01 WIB
Tragedi maut usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10) menewaskan 125 orang. Mari bantu donasi di berbuatbaik.
Tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022). (Foto: berbuatbaik.id)
Jakarta -

Sepakbola Indonesia berduka. Tragedi maut terjadi usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). Sebanyak 125 orang tewas dalam insiden ini.

Cerita pilu pun bermunculan karena sesungguhnya tak ada sepakbola seharga nyawa. Keluarga kehilangan anak ataupun anak kehilangan orangtua di Sabtu kelabu itu.

Salah satu cerita datang dari Muhammad Revo Septiyan yang menuai simpati sekaligus mengiris hati. Suporter Arema asal Gresik ini alami patah tulang setelah berjuang menyelamatkan balita 4 tahun di Tribun 2 saat Tragedi Kanjuruhan terjadi.

"Jadi pas polisi menembak gas air mata ke arah tribun, itu kan penonton panik ke arah pintu keluar. Pas saat itu anak saya melihat anak kecil berumur sekitar 4 atau 5 tahun itu terpisah dari orang tuanya, ia berusaha menyelamatkan dengan menggendong balita tersebut," kata Faisal, sang ayah, kepada detikjatim.

Saat menyelamatkan balita itu, lanjut Faisal, banyaknya penonton yang berlari menuju pintu keluar. Revo sempat terjatuh bersama balita tersebut. Revo lalu terinjak-injak penonton lainnya.

"Saat terjatuh itu, balita itu lepas. Pas anak saya mau selamatkan balita itu, kakinya sudah nggak bisa bergerak karena keinjek banyak orang," kata Faisal.

Tragedi maut usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10) menewaskan 125 orang. Mari bantu donasi di berbuatbaik.Korban tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (Foto: berbuatbaik.id)

Faisal tak tahu nasib balita yang sempat diselamatkan oleh putranya. Dia berharap yang terbaik untuk keselamatan balita yang terlepas dari pengawasan Revo.

"Semoga balita itu juga selamat," harapnya.

Cerita Revo menjadi satu dari sekian cerita sedih yang tercipta dari tragedi Kanjuruhan. Lainnya lagi ada Alfiansyah, anak yang kehilangan kedua orang tuanya saat menonton pertandingan tersebut. Alfiansyah sempat terjatuh saat bersama kedua orang tuanya hendak keluar dari stadion. Tak terbayangkan bagi Alfiansyah, pertandingan yang seharusnya menjadi penghibur diri malah membuat dia menjadi yatim piatu.

Sahabat Baik, tragedi Kanjuruhan menjadi catatan hitam sepakbola Indonesia sekaligus menorehkan luka dan trauma bagi para pencinta sepakbola. Padahal olahraga ini seharusnya menjadi ajang prestasi sekaligus pemersatu bangsa yang penuh kebahagiaan dan sportivitas.

Kejadian ini tentu menjadi bahan renungan sekaligus momen untuk bersama dalam satu jiwa menyembuhkan luka. Mari wujudkan solidaritas dengan Donasi sekarang juga di sini dan bantu para korban bangkit dari kesedihan.

<>

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

Simak juga 'Jokowi Akan Serahkan Santunan ke Korban Tragedi Kanjuruhan':

[Gambas:Video 20detik]



(kny/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT