ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Kisah Ahok, Pertahankan Budaya Dayak Melalui Mandau

Dea Duta Aulia - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 12:45 WIB
Ahok Pengrajin Mandau
Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Bagi masyarakat suku Dayak Bidayuh, mandau bukan hanya sebatas senjata tajam biasa saja. Namun bagi mereka, mandau merupakan senjata tradisional yang memiliki segudang makna dan manfaat.

Atas dasar itulah Pengrajin Mandau asal Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Ahok (65) terus melestarikan senjata tradisional tersebut. Pria yang merupakan keturunan asli suku Dayak Bidayuh ini mengatakan mandau memiliki dua fungsi utama, yakni untuk adat dan berladang.

"Untuk adat dan berladang mandaunya beda lagi," kata Ahok saat ditemui oleh detikcom beberapa waktu lalu.

Khusus untuk mandau adat, kesakralannya masih terus dijaga. Ia mengatakan masyarakat suku Dayak Bidayuh percaya mandau adat tidak bisa sembarangan untuk digunakan atau bahkan dikeluarkan.

Mandau adat hanya bisa dikeluarkan pada acara-acara tertentu saja, seperti Gawai, ritual adat untuk syukuran setelah panen yang dilakukan suku Dayak. Ritual tersebut biasanya dilakukan setahun sekali agar menarik banyak minat wisatawan untuk datang menyaksikan.

Ahok Pengrajin MandauMasyarakat suku Dayak Bidayuh percaya mandau adat tidak bisa sembarangan untuk digunakan atau bahkan dikeluarkan (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Dikutip dari website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mandau kerap digunakan saat peperangan, pengayuan, dan pelengkap tarian adat. Pada masa lalu, mandau terkenal sebagai senjata tajam yang kerap digunakan untuk memenggal kepala musuh.

"Mandau adat hanya bisa dikeluarkan ketika acara adat seperti Gawai. Kalau pakai baju adat itu bisa merinding jadi agak takut-takut. Kalau ada acara adat itu boleh, jadi nggak boleh sembarang itu pakai baju Dayak jadi harus ada ritualnya gitu," jelasnya.

Menurut kepercayaan warga setempat, mandau adat memiliki sifat 'panas' artinya kerap mencari darah. Oleh karena itu ketika sebelum Gawai, biasanya mandau adat dibuatkan ritual khusus dengan menghadirkan sesajen. Mandau adat lalu dicipratkan darah ayam atau babi.

"Kalau Gawai gitu kita kasih 'makan' dulu mandaunya gitu," kata Ahok.

Meskipun kental dengan unsur magis, Ahok mengatakan pada dasarnya mandau khas suku Dayak merupakan senjata tradisional yang telah digunakan oleh leluhur untuk mencari kehidupan.

"Parang (Mandau) merupakan khas dari leluhur kita untuk kerja, untuk mencari kehidupan, bukan untuk membunuh orang, tidak. Parang ini untuk menghidupkan manusia dari dulu sampai sekarang," kata Ahok.

Ahok Pengrajin MandauMandau khas suku Dayak merupakan senjata tradisional yang telah digunakan oleh leluhur untuk mencari kehidupan (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Khusus untuk mandau ladang, ia mengatakan senjata tersebut bisa dikatakan tidak sesakral mandau adat. Mandau ladang memang dikhususkan untuk membantu masyarakat Dayak bekerja. Tak hanya itu, mandau ladang juga bisa dikeluarkan dan digunakan kapan pun.

Tak hanya itu, mandau jenis tersebut kerap dijadikan oleh Ahok sebagai merchandise bagi para wisatawan yang datang ke desa Sebujit. Harga mandau jenis tersebut dijual olehnya berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu tergantung dari ukuran.

Klik halaman selanjutnya >>>

Simak juga 'Mulusnya Jalan Menuju Perbatasan Jagoi Babang di Kalbar':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT