ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Intip Proses Pembuatan Mandau, Senjata Tradisional Suku Dayak

Dea Duta Aulia - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 18:33 WIB
Mandau Suku Dayak
Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Mandau merupakan salah satu senjata tradisional khas suku Dayak yang masih banyak digunakan oleh masyarakat di Kalimantan. Bahkan demi melestarikan budaya tersebut, tidak sedikit masyarakat suku Dayak masih memproduksi mandau dengan cara tradisional.

Penasaran dengan senjata tradisional tersebut, detikcom pun mendatangi salah seorang Pengrajin Mandau, Ahok (65) yang tinggal di Desa Sebujit, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Di rumahnya yang sederhana, Ahok ternyata memiliki 'kantor' yang biasa digunakan untuk memproduksi mandau.

Di 'kantor' tersebut terdapat sejumlah alat-alat untuk membuat mandau seperti bara api, besi lempeng, palu, dan perkakas lainnya.

"Mandau ini parang, sejarah dulu orang bikin parang untuk mengerjakan ladang atau kebun untuk dibawa ke hutan. Parang ini bukan untuk bermusuhan tapi mencari makan, potong kayu, dan lainnya," kata Ahok kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan proses pembuatan mandau dimulai dengan cara memanaskan lempeng besi yang berukuran tebal di sebuah bara api. Langkah ini dilakukan agar mempermudah Ahok untuk membentuk lempeng besi menjadi sebuah mandau.

Keunikan dari mandau khas suku Dayak sendiri terlihat dari sejumlah ukiran yang terdapat pada gagangnya. Biasanya, semakin ukiran gagang mandau terlihat rumit maka status sosialnya tinggi. Tak hanya itu, gagangnya pun biasanya terbuat dari tanduk rusa atau tulang.

"Pembuatan mandau, awalnya besi lempengan diproses, kemudian dibakar agar mudah diproses," kata Ahok.

Ahok Pengrajin MandauSemakin ukiran gagang mandau terlihat rumit maka status sosialnya tinggi (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Setelah lempeng besi memerah karena panas, barulah Ahok mulai memukulnya sehingga mandau dapat terbentuk. Saat proses ini, sesekali, mandau yang masih 'mentah' disejajarkan untuk dilihat apakah lurus atau tidak. Jika tidak maka Ahok akan memukul sisi lain sehingga bisa lurus.

Langkah selanjutnya, jika bentuk mandau sudah terbentuk barulah mulai diasah agar mata pisaunya dapat terlihat. Setelah selesai proses tersebut dilanjutkan dengan membuat sarung pembungkus mandau.

Ahok mengatakan bahan dasar pembuatan sarung mandau tergolong cukup unik. Pasalnya jenis kayu yang digunakan untuk pembuatan sarung yakni pelaek yang diambil dari hutan. Menurutnya kayu jenis ini kerap digunakan oleh seorang dukun untuk melakukan ritual.

"Kayu pelaek untuk orang dukun kita gunakan untuk sarung mandau," kata Ahok.

Kayu pelaek kemudian dibagi menjadi dua lalu diukur agar mata pisau mandau bisa masuk. Jika sudah tinggal membuat simpainya (ikatan), selanjutnya dicat dengan warna merah dan hitam.

"Dulu warna merah didapatkan dari buah-buahan sementara untuk warna hitam dibuat dari arang sisa pembakaran. sekarang kedua warna tersebut sudah menggunakan cat," kata Ahok.

Ahok Pengrajin MandauUntuk membuat mandau dari awal hingga selesai membutuhkan waktu 3 hari (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Ia mengatakan untuk membuat mandau dari awal hingga selesai membutuhkan waktu 3 hari. Ketika sudah jadi, ada rekan kerjanya yang mengambil mandau untuk dijual di Pontianak.

"Kawan yang beli ke sini, orang Pontianak yang beli," kata Ahok.

Tak hanya warga lokal saja yang membeli mandaunya. Menurutnya senjata tradisional tersebut juga pernah dibeli oleh orang yang berasal dari luar negeri.

"Luar negeri juga ada yang beli pernah juga orang Jepang," jelasnya.

Ahok mengatakan rata-rata dalam sebulan mampu menjual 4-5 mandau dengan harga berkisar Rp 250 ribu sampai Rp 400 ribu tergantung ukuran. Adapun mandau yang dijual yakni berupa mandau untuk ladang dan merchandise.

Khusus untuk mandau adat, tidak diperjualbelikan. Biasanya mandau adat didapatkan dari hasil warisan para orang tua. Menurut kepercayaan warga, mandau adat memiliki sifat 'panas' artinya kerap mencari darah. Oleh karena itu ketika Gawai, biasanya mandau adat dibuatkan ritual khusus dengan menghadirkan sesajen. Mandau adat lalu dicipratkan darah ayam atau babi.

"Dari mandau itu cukup untuk menghidupkan dari mandau saja anak saya tamat SMA dari hasil jual mandau," kata Ahok.

Selain menggantungkan hidup dari penjualan mandau, Ahok juga membuat bidai yang merupakan tikar tradisional khas suku Dayak. Sesekali ia turut berladang guna menambah penghasilan.

"Bidai saya juga buat," kata Ahok.

Ahok Pengrajin MandauKhusus untuk mandau adat, tidak diperjualbelikan dan biasanya didapatkan dari hasil warisan para orang tua (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Setiap penjualan mandau dan bidai digunakan olehnya untuk memenuhi berbagai keperluan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Jika ada uang lebih, ia dialokasikan untuk ditabung di Bank BRI.

"Dulu kalau nabung di bawah kasur, sekarang di bank (BRI)," ujar Ahok.

Sementara itu, Kepala Unit Bank BRI Seluas Zerry Hudha mengatakan menabung di bank jauh lebih aman dibandingkan dengan menyimpan uang secara pribadi di rumah. Apalagi lagi untuk masyarakat yang sering berkegiatan di luar rumah, maka menyisihkan penghasilan dengan cara menabung di bank merupakan pilihan tepat.

Sebagai informasi, detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Jagoi Babang, Kecamatan di Kalbar yang Berbatasan dengan Malaysia"

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT