Kisah Sukses Guru di Desa Transmigrasi, Kini Punya Banyak Ladang Bisnis

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Kisah Sukses Guru di Desa Transmigrasi, Kini Punya Banyak Ladang Bisnis

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 18:12 WIB
Guru dan Petani Porang dari Kalbar, Sarno
Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Ada salah satu alasan yang paling Sarno ingat ketika akhirnya memutuskan untuk bertransmigrasi dari Jawa ke Kalimantan, yaitu ia tak ingin selamanya mengontrak dan memiliki rumah sendiri. Sebab sewaktu masih kerja di suatu perusahaan di Jakarta pada tahun 1980-an, pria asal Magetan tersebut mengaku sering dimarahi pemilik kontrakan karena telat membayar uang sewa.

"Saya merantau di Jakarta, kerja di Jakarta. Anggapan saya tanggal 1 waktunya bayar kontrakan, tapi perusahaan belum gajian, saya dimarah-marah sama yang punya kos, 'kok ini ga bayar-bayar'. 'Mohon maaf Bu memang waktunya bayar, tapi saya belum gajian mau bayar apa', tapi kayaknya yang punya tidak paham," ujar Sarno kepada detikcom belum lama ini.

"Makanya saya transmigrasi, pas udah punya anak. Saya nih mikir, saya besok kalau punya anak, sekolah nanti pulang ke mana kalau selamanya ngontrak. Ngontrak kalau diusir sama yang punya kan sedih," imbuhnya.

Ia pun memutuskan membawa istrinya, Sukarni, dan anaknya bertransmigrasi ke Dusun Sindang Jaya, Desa Kumba, Kecamatan Jagoi Babang, Kalimantan Barat. Salah satu wilayah di ujung Kalimantan yang dekat dengan perbatasan Indonesia-Malaysia hingga masih minim fasilitas jalan aspal mulus hingga lancarnya sinyal internet.

Berbekal ijazah sekolah pendidikan guru (SPG), ia memutuskan menjadi guru honorer. Namun, ia juga memanfaatkan waktu di luar mengajarnya untuk bertani dan berkebun hingga membuka peluang usaha lain. Hal ini yang kelak membuatnya menjadi 'sukses' di tanah perantauan.

"Saya berangkat, ini pertama yang saya syukuri saya nanam kacang panjang, begitu dibawa bibit kacang 1 bungkus kecil, buahnya (tumbuh) luar biasa. Saya betah di sini. Saya honor nggak digaji, gajinya Rp 50 ribu tapi 9 bulan juga nggak dibayar. Tapi saya betah, betah. 91 saya trans, 95 saya diangkat pegawai negeri," ujarnya.

"Walaupun gajinya hanya Rp 75 ribu diangkat dulu, tapi Alhamdulillah bisa kuliah lagi, bisa sertifikasi. Tahu kan sekarang gaji pegawai negeri, terutama guru, orang juga sedikit ngiri, karena ada sertifikasi itu," imbuhnya.

Karena sikapnya yang tak mau diam, ia terus mencoba menanam jenis segala tanaman. Mulai dari merica, sawit hingga porang.

"Dan saya memang orangnya nggak mau dengok-dengok bahasa Jawanya, artinya diam nggak ngapa-ngapa, nggak ada gunanya. Saya lebih baik berkebun atau apa aja lah," ujarnya.

Selain berkebun, Sarno membangun rumah walet pada tahun 2011, bahkan diklaimnya menjadi yang pionir di daerahnya. Ia juga membuat warung kecil di rumahnya hingga menjadi satu-satunya agen BRILink di kawasan yang masih memiliki akses jalan tanah tersebut.

"2011 saya bangun yang separuh, saya bangun walet itu banyak yang bilang itu rumah apa yah, gila apa, di sini kok bangun walet, saya dibilang gila. Mau gila mau ndak, yang penting saya tidak merugikan orang lain. (Sekarang) di Kumba (ada) lebih dari 60 gedung walet. Di tahun 2011 saya pertama, kalau lewat jalan negara jejer (banyak rumah walet), 2011 di Desa Kumba baru saya sendiri," urai Sarno.

Adapun harga walet per kilogram (kg)-nya bisa mencapai Rp 8,5-9 juta, bahkan pernah mencapai Rp 17 juta. Adapun walet milik Sarno dan Sukarni biasanya dipanen 3 kali dalam dua bulan dan sekali panen biasanya mendapatkan 2 kg sarang walet.

Dari berbagai usahanya itu, ia memiliki banyak aset hingga kebun. Misalnya ada dua mobil yang terparkir di rumahnya, yaitu Toyota Fortuner dan mobil double cabin. Namun menghadapi masa pensiun, Sarno mengaku tetap masih melakoni berbagai aktivitas di luar tugas utamanya sebagai guru.

Ia juga bercerita bahwa dalam mengembangkan usahanya itu, dirinya beberapa kali memanfaatkan pinjaman dari Bank BRI.

"Saya memang nasabah BRI sudah berapa kali minjam, saya tidak ingat, tapi yang terakhir Rp 250 juta sampai sekarang belum lunas. Karena ini utang, belum selesai, perlu, ngambil lagi, ditutup. Anggap aja utang Rp 50 juta, masih kurang Rp 10 juta, saya perlu duit, pinjam lagi Rp 75 juta, sisanya diambil," ujarnya.

"Lebih seringnya buat modal usaha, dari toko, rumah. Menurut saya BRI sangat membantu para nasabah yang menggunakan dengan sebaik-baiknya, artinya pinjamnya untuk apa. Pernah untuk nanam sawit, ada juga pinjam ke BRI untuk bangun walet, Alhamdulillah salah satunya pinjaman dari BRI, BRI sangat membantu, dengan catatan, kalau meminjam, harus membayar setiap bulannya sesuai perjanjian," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT