Kisah Ade, dari Cikarang ke Perbatasan RI-Malaysia buat Jualan Sate

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Kisah Ade, dari Cikarang ke Perbatasan RI-Malaysia buat Jualan Sate

Dea Duta Aulia - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 11:27 WIB
Penjual sate asal Cikarang di Perbatasan RI-Malaysia.
Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Gemerlap lampu Ibu Kota membuat banyak orang tertarik untuk mengadu nasib di Jakarta dan sekitarnya. Sayangnya tingginya minat masyarakat untuk merantau ke Jakarta membuat persaingan di kota tersebut begitu ketat.

Hal itu lah yang dirasakan oleh seorang pedagang sate Ade Soleman (44) yang saat ini memutuskan untuk membuka usaha di Kecamatan Jagoi Babang, Kalimantan Barat.

Secara administrasi, Kecamatan Jagoi Babang merupakan bagian dari Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Hal yang membuat Jagoi Babang spesial yakni karena letak geografisnya berbatasan langsung dengan Serikin, Malaysia.

Ade mengatakan alasanya dirinya bersama keluarga hijrah dari Cikarang ke daerah perbatasan karena tuntutan hidup dan ajakan dari kakaknya. Kakak Ade sebelumnya telah merantau ke Kalimantan Barat sejak 15 tahun lalu.

"Ke sini (Jagoi Babang) disuruh ke sini sama kakak. Kakak udah 15 tahun lebih di sini jualan gorengan," kata Ade saat ditemui detikcom di Jagoi Babang, Kalbar beberapa waktu lalu.

Meskipun tergolong baru merantau, Ade mengatakan kehidupan di Jagoi Babang lebih enak daripada Cikarang. Apalagi untuk membuka usaha, potensi pembeli yang mampir ke usahanya lebih besar daripada di Cikarang.

"Perbadingannya agak jauh sama di Cikarang kalo masalah ekonomi," ujarnya.

Penjual sate asal Cikarang di Perbatasan RI-Malaysia.Penjual sate asal Cikarang di Perbatasan RI-Malaysia. Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho

Meskipun tidak menyebutkan perbandingan secara angka, Ade mengatakan alasannya lebih suka berdagang sate di Jagoi Babang karena minimnya persaingan. Atas dasar itulah, ia merasa lebih mudah untuk mendapatkan uang.

Perlu diakui selama seminggu tim Tapal Batas detikcom berada di Jagoi Babang, nampak terlihat sejumlah peluang bisa dimanfaatkan oleh banyak orang untuk membuka usaha di kawasan tersebut. Untuk kuliner makanan pokok misalnya, bisa dikatakan pilihan makanan di kawasan Jagoi Babang tergolong sedikit. Sekalipun ingin mendapatkan pilihan makanan yang lebih banyak harus ke Seluas.

Belum lagi saat malam tiba, pilihan makanan di kawasan tersebut semakin menyusut kalau dibandingkan dengan siang hari. Untuk camilan kaki limanya juga serupa. Hanya ada ada penjual gorengan di siang hari yang mangkal di Simpang Take.

"Di sini (Jagoi Babang) pedagang jarang. kalo di Cikarang penuh," katanya.

Ade mengatakan meskipun harga barang-barang di Jagoi Babang cenderung lebih mahal namun hal tersebut bukan masalah besar.

"Meskipun di sini mahal tapi nyari uangnya gampang. Kalo di Cikarang apa-apa murah tapi nyari uangnya susah," jelasnya.

Penjual sate asal Cikarang di Perbatasan RI-Malaysia.Penjual sate asal Cikarang di Perbatasan RI-Malaysia. Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho

Untuk menarik lebih banyak pembeli, Ade tidak hanya menyuguhkan sate saja. Ade turut memboyong sejumlah makanan camilan khas Jabodetabek untuk dijual di Jagoi Babang seperti, pentol kuah, bakso bakar, rujak, hingga sempol.

Ia mengakui hasil penjualannya tersebut mampu menutupi berbagai kebutuhan hidup termasuk untuk anaknya yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di pondok pesantren di Jawa Tengah. Untuk memenuhi kebutuhan sang anak, Ade memanfaatkan layanan Agen BRILink yang ada di daerah Jagoi Babang.

"Tidak menentu kirimnya kadang Rp 1,5 juta kadang Rp 900 ribu per bulan (untuk anak di Jawa Tengah)," kata Ade.

Menurutnya, kehadiran Agen BRILink sangat membantunya dalam melakukan transaksi perbankan. Pasalnya biaya yang diberikan oleh BRI cenderung lebih murah dibandingkan dengan bank lain.

"Pakai BRILink gampang kena biaya transfer nggak masalah, murah biaya transfernya. lebih murah daripada bank lain. (Dulu) Pernah tuh pakai bank lain (selain BRI) mahal transfer Rp 250 ribu biaya transfernya Rp 25 ribu ke bank lain itu mah mahal. Kalo BRI kirim Rp 500 ribu cuma Rp 8 ribu (biaya transfernya). Kalau kirim Rp 1 jutaan biaya transfer Rp 10 ribu," kata Ade.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak juga 'Budidaya Ikan Bandeng Air Payau, Sekali Panen Capai 500 Kg':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT