Pilu Transmigran di Kalimantan Rindu Pulang ke Kampung Halamannya

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Pilu Transmigran di Kalimantan Rindu Pulang ke Kampung Halamannya

Dea Duta Aulia - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 15:55 WIB
Wati, Buruh sawit di Perbatasan RI-Malaysia.
Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Meskipun usianya tidak lagi muda, seorang buruh sawit wanita bernama Wati (44) di Kecamatan Jagoi Babang, Kalimantan Barat, nampak begitu semangat menyelesaikan pekerjaan. Satu demi satu sawit yang telah dipanen dipindahkan olehnya dengan sekuat tenaga.

Meskipun raut mukanya nampak bersemangat, ia akui menyimpan rindu yang begitu mendalam terhadap keluarganya di kampung halaman. Selain menjadi buruh sawit wanita, Wati merupakan seorang transmigran asal Pangandaran, Jawa Barat, yang memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Barat sejak 9 tahun lalu.

"Pindah ke Kalimantan di tahun 2013. Awalnya suami pengen ke sini ke Kalimantan saya ikut," kata Wati saat ditemui oleh detikcom di kebun sawit Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.

Keputusan Wati untuk merantau ternyata membuat dirinya jauh dari keluarga. Faktor finansial yang serba pas-pasan membuat dirinya terus mengurungkan niat untuk pulang ke kampung halaman di Pangandaran, Jawa Barat.

"Nahan rindu untuk ketemu keluarga sedih. Belum mudik sejak 2013. Rindu keluarga banget," kata Wati.

Ia mengakui kondisi tersebut kerap membuat dirinya menangis. Pasalnya ia ingin sekali bertemu secara langsung dengan orang tuanya yang saat ini sudah lansia.

"Mamaku (ibu saya) sudah tua masih ada di sana. Bapak sudah nggak ada. Ibu di sana pengennya (saya) pulang tapi keadaan tidak bisa," katanya.

Wati, Buruh sawit di Perbatasan RI-Malaysia.Wati, Buruh sawit di Perbatasan RI-Malaysia. Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho

Untuk melepas rindu, Wati hanya bisa memanfaatkan video call saja. Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan olehnya setiap saat. Jagoi Babang yang lokasinya berada di perbatasan RI-Malaysia membuat jaringan sinyal kerap sulit didapatkan.

Untuk menyiasati hal tersebut, Wati rela untuk menyewa jaringan internet WiFi milik tetangga agar bisa video call dengan keluarga.

"Sinyalkan jelek, cari sinyal ke orang yang punya WiFi bayar Rp 3 ribu 1 jam itu dipakai buat video call untuk keluarga. Nggak setiap hari, seminggu 3 kali nggak tentu," katanya.

Karena rasa rindu dengan keluarga begitu besar, Wati kadang menangis ketika video call.

"Kadang nelpon nangis karena nggak bisa ketemu," jelasnya.

Banting Tulang Demi Bertahan Hidup di Ujung Negeri

Klik Selanjutnya

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT