ADVERTISEMENT

China Dinilai Tidak Mudah Terapkan Soft Power ke Indonesia

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 11:46 WIB
Diskusi FSI
Diskusi FSI (Foto: dok. FSI)
Jakarta -

Bisa jadi China kini menjadi salah satu kampiun ekonomi dan politik dunia. Tapi Forum Sinologi Indonesia (FSI) menilai tidak mudah bagi China menerapkan soft power ke Indonesia. Apa alasannya?

Soft power itu berupa kampanye kebudayaan melalui berbagai platform digital.

"Upaya yang sangat aktif dari China untuk menjangkau masyarakat Indonesia melalui berbagai platform media merupakan bagian dari strategi tersebut untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia," kata Ketua FSI Johanes Herlijanto kepada wartawan, Rabu (21/9/2022).

Soft power itu seperti menayangkan sinetron China yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia di televisi nasional. Lalu membuat Voice of China pada 2018. Serta membuat berbagai akun di media sosial.

"Mengingat media merupakan alat yang sangat efektif untuk membangun sebuah hegemoni," ujar Johanes.

Dalam kurang lebih dari satu dasawarsa terakhir, China telah melakukan berbagai upaya untuk menghadirkan informasi yang ramah kepada masyarakat Indonesia. Namun, kata mahasiswa doktoral asal Universitas Hawaii, Susi Tekunan, didapati sejumlah kendala dan tantangan yang cukup berat.

"Pertama, kualitas program yang disiarkan sering kali relatif rendah dan lebih mengutamakan kuantitas. Kedua, sasaran yang ingin dicapai adalah masyarakat Tionghoa," ujar Susi.

Akhirnya, banyak program dari China yang kurang penonton.

"Sikap sentimen anti-China dan kecurigaan terhadap intensi China masih tinggi di Indonesia," ucap Susi.

Pernyataan di atas juga disampaikan dalam diskusi hibrid yang digelar FSI dan bisa ditonton di YouTube. Hadir dalam acara itu juga pakar dari China dan Cultural Studies dari Universitas Indonesia (UI), Rahadjeng Pulungsari Hadi.

Lalu apakah Indonesia harus takut kepada soft power China?

"Membangun narasi positif tentang agama sangat penting bagi Tiongkok. Kita diyakinkan bahwa Tiongkok bukan tanpa agama. Pemerintah Tiongkok juga berusaha mengambil hati rakyat Indonesia lewat media. Namun, sepanjang kita berpegang teguh pada ideologi kita, Pancasila, maka kita tidak perlu khawatir terhadap Tiongkok," kata Rahadjeng Pulungsari Hadi.

(asp/zap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT