Selain Saluran Air Kuno, Ribuan Artefak Juga Ditemukan di Proyek MRT Glodok

ADVERTISEMENT

Selain Saluran Air Kuno, Ribuan Artefak Juga Ditemukan di Proyek MRT Glodok

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 20:34 WIB
Artefak yang ditemukan di lokasi proyek MRT Glodok (Tiara-detikcom)
Artefak yang ditemukan di lokasi proyek MRT Glodok (Tiara/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah artefak hingga benda diduga cagar budaya ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A segmen Glodok-Kota (CP203). Temuan itu terdiri dari pecahan keramik hingga pipa air kuno era Batavia.

Pantauan detikcom di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A jalur Glodok-Kota, Selasa (20/9/2022), terlihat saluran air terbentang di sepanjang area proyek dengan panjang sekitar 400 meter itu.

Beberapa arkeolog tampak mencabut dan memindahkan satu per satu material saluran air. Saluran air yang terbuat dari terakota itu dilapisi bata kuning dan bata merah.

Bata-bata yang telah dicopot kemudian dikumpulkan di wadah yang telah dilapisi busa. Tak hanya saluran air, di lokasi ditemukan serpihan artefak.

Serpihan artefak itu terdiri dari pecahan piring, bebatuan, bata, keramik hingga botol kaca. Arkeolog Senior Universitas Indonesia (UI), Junus Satrio Atmodjo, mengatakan keramik itu diduga merupakan peninggalan abad 17-20.

Junus juga terlibat selama proses penanganan artefak hingga objek cagar budaya di lokasi proyek MRT Jakarta. Junus lokasi proyek ini diduga merupakan bagian dari Sungai Ciliwung Lama yang berdekatan dengan permukiman penduduk China, Jepang, hingga Arab. Mereka diduga kerap membuang sampah dan barang-barang di sungai.

"Mereka kan di luar benteng ya, bukan hanya China, Jepang, Arab. Tetapi lebih dikenal dengan kawasan Pecinan karena jadi pasar yang tinggal di sini terutama setelah keributan 1740, banyak yang keluar dari Jakarta, dari benteng kemudian (hendak) bermukim tapi harus di selatan benteng. Jadi di kawasan ini," kata Junus.

Artefak yang ditemukan di lokasi proyek MRT Glodok (Tiara-detikcom)Artefak yang ditemukan di lokasi proyek MRT Glodok. (Tiara/detikcom)

"Karena dulu ini sungai, semua dibuang di sungai. pecahan gede, kecil buang sana," tambahnya.

Dia kemudian menjelaskan soal bata kuning yang diduga merupakan bata impor dari Skotlandia. Berbeda dengan bata merah lokal, bata kuning ini disebut lebih tahan terhadap air sehingga menjamin bangunan tahan ratusan tahun.

"Bata kuning didatangkan dari Eropa. Sebutannya adalah fireclay, itu istilah khusus bata yang tidak tembus air. Dia lebih tahan digunakan untuk daerah basah. Jadi bangunan tua di seluruh Kota Tua ini pasti mengandung bata kuning. Karena ini dulu daerah rawa ya. Kalau bata merah masih menarik air, kapilarisasi dengan tekanan berat dia pecah di bawah. Kalau dengan bata kuning impor ini, kekuatannya bisa menjamin bisa ratusan tahun," ujarnya.

Artefak yang ditemukan di lokasi proyek MRT Glodok (Tiara-detikcom)Artefak yang ditemukan di lokasi proyek MRT Glodok (Tiara/detikcom)

Dia mengatakan ada ribuan artefak yang ditemukan di proyek MRT Jakarta fase 2. Mayoritas benda-benda itu ditemukan di kawasan CP203, yakni Glodok-Kota.

"Ribuan. Tapi kecil-kecil seperti pecahan keramik. Banyak juga karena kecil kita tak bisa ambil sebagai sampel karena nggak bisa dianalisis," jelasnya.

"Khususnya di bawah kita (jembatan)," tambahnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Simak juga Video: MRT Mulai Bangun Infrastruktur Stasiun Harmoni-Mangga Besar

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT