Komnas HAM Ungkap Ekspresi Datar Pelaku Mutilasi di Papua: Menakutkan!

ADVERTISEMENT

Komnas HAM Ungkap Ekspresi Datar Pelaku Mutilasi di Papua: Menakutkan!

Mulia Budi - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 18:48 WIB
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam (Anggi-detikcom)
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam (Anggi/detikcom)
Jakarta -

Komnas HAM mengungkap ekspresi wajah para pelaku mutilasi empat warga sipil di Mimika, Papua, saat diperiksa. Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyebut para pelaku menunjukkan ekspresi wajah datar.

"Yang paling menakutkan adalah ketika kita memeriksa pelakunya, 'kenapa kalian melakukan mutilasi dan sebagainya?' Mimiknya itu lho, datar begitu," kata Anam dalam konferensi pers di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2022).

Anam mengatakan ekspresi wajah datar itu diperlihatkan oleh semua pelaku. Baik itu pelaku dari anggota TNI maupun pelaku dari warga sipil.

"Dua-duanya jadi dua-duanya itu mimiknya itu datar," ujarnya.

Dia mengatakan para pelaku tak langsung menyesali perbuatannya. Dia menuturkan penyidik harus bertanya berulang sebelum akhirnya para pelaku mengaku bersalah.

"Iya harus ditanya berkali-kali baru ngomong menyesal," kata Anam.

"Itu yang paling menakutkan," imbuhnya.

Komnas HAM Beri Catatan soal Penanganan Kasus

Komnas HAM juga memberi sejumlah catatan terkait penanganan kasus. Komnas HAM meminta para pelaku dihukum seberat-beratnya.

"Komnas HAM Republik Indonesia mengecam tindakan yang dilakukan oleh para pelaku yang melukai nurani dan merendahkan martabat manusia. Oleh karenanya, para pelaku harus dihukum seberat-beratnya termasuk pemecatan dari anggota TNI," kata Anam.

Dia mengatakan Komnas HAM juga mendorong persidangan para terduga pelaku digelar di Mimika. Dia menyebut hal itu perlu dilakukan agar peristiwa tersebut dibuka secara transparan dan tidak kembali terulang. Keluarga korban juga berharap sidang digelar di Mimika agar bisa mengikuti langsung proses persidangan.

"Yang berikutnya adalah Komnas HAM RI mengimbau kepada masyarakat untuk mendukung upaya penegakan hukum dengan memberikan kesaksian, dan mendorong adanya pengadilan koneksitas yang dilaksanakan di wilayah hukum Kabupaten Mimika secara adil dan transparan, demi tegaknya hak atas keadilan korban dan jaminan supaya peristiwa yang sama tidak berulang kembali," ucapnya.

"Pengadilan koneksitas adalah sesuatu yang sifatnya legal dan bisa dilaksanakan. Apalagi ini pelakunya juga ada dari sipil ada dari TNI, korbannya juga ada dari sipil. Nah ini penting soal koneksitas ini, sehingga kami berharap memang Pak Panglima TNI, KSAD, mendorong penegakan hukum ini secara koneksitas," tambahnya.

Komnas HAM juga mendorong penyelidikan kasus mutilasi dilakukan dengan pendekatan scientific crime investigation. Dia mengatakan jejak digital pada ponsel milik para pelaku penting untuk didalami.

"Yang berikutnya Komnas HAM RI mendorong pendalaman kasus ini dengan pendekatan scientific crime investigation khususnya terkait jejak digital. Oleh karenanya meminta para pihak untuk mendalami jejak digital masing-masing pelaku, baik dalam komunikasi, sosial media, maupun pendekatan digital yang lainnya," ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Simak Video: Keluarga Korban Mutilasi di Papua Sampaikan Penolakan Label KKB

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT