Komnas HAM Duga Ada Upaya Obstruction of Justice di Kasus Mutilasi Papua

ADVERTISEMENT

Komnas HAM Duga Ada Upaya Obstruction of Justice di Kasus Mutilasi Papua

Mulia Budi - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 18:31 WIB
Jumpa Pers Komnas HAM soal Kasus Mutilasi Warga Papua
Konferensi pers Komnas HAM. (Mulia/detikcom)
Jakarta -

Komnas HAM mengungkap adanya upaya penghilangan barang bukti atau merintangi penyidikan (obstruction of justice) oleh para terduga pelaku mutilasi di Mimika, Papua. Tindakan itu disebut sengaja dilakukan untuk menutupi kebenaran peristiwa tersebut.

"Komunikasi antarpelaku setelah peristiwa dan juga adanya berbagai upaya obstruction of justice. Jadi ini ada upaya obstruction of justice untuk menghilangkan barang bukti," kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2022).

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyebut upaya obstruction of justice dilakukan para pelaku dengan menghapus jejak komunikasi di ponsel. Dia mengatakan jejak komunikasi itu dihapus usai mutilasi terjadi.

"Kalau obstruction of justice itu kan biasanya terjadi setelah peristiwa ya kan, terus untuk menutupi peristiwa bukan bagian dari peristiwa itu sendiri. Nah, mutilasi itu bagian dari peristiwanya itu sendiri. Kalau menghapus komunikasi itu kan setelah peristiwa setelah ini naik terus ada penghapusan komunikasi itu," tutur Anam.

Pelaku Mutilasi Papua, 6 TNI-4 Sipil-1 DPO

Komnas HAM juga menyebut ada satu orang masuk daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus mutilasi di Mimika, Papua. Komnas HAM menyampaikan DPO tersebut bernama Roy Marthen Howai.

Peran Roy itu terungkap berdasarkan rekonstruksi. Namun Komnas HAM, tidak membeberkan apa peran Roy.

"Ada beberapa adegan dalam rekon (rekonstruksi) yang kemudian mengarahkan pada peran Saudara Roy Marthen Howai yang sampai saat ini statusnya masih DPO dari pihak kepolisian," ujar Beka.

"Enam orang pelaku anggota TNI dan tiga orang pelaku sipil, jadi kan ada 10 ya. Enam anggota TNI dan tiga warga sipil. Satunya, Saudara Roy, masih DPO sampai saat ini," ujar Beka.

(haf/haf)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT