ADVERTISEMENT

Sentilan ke Komnas HAM-Komnas Perempuan soal Dugaan Putri Dilecehkan

Haris Fadhil - detikNews
Selasa, 06 Sep 2022 20:37 WIB
Konferensi pers Komnas HAM (Anggi-detikcom)
Konferensi pers Komnas HAM (Anggi/detikcom)
Jakarta -

Komnas HAM dan Komnas Perempuan menyatakan ada dugaan kuat pelecehan seksual terhadap istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, oleh Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Pernyataan Komnas HAM itu kemudian dikritik banyak pihak.

Dugaan pelecehan terhadap Putri Candrawathi ini awalnya disebut-sebut menjadi pemicu peristiwa 'tembak-menembak' antara Brigadir Yosua dengan Bharada Richard Eliezer di rumah dinas Ferdy Sambo, Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022) sore. Yosua kala itu disebut melakukan pelecehan terhadap Putri hingga membuat istri Ferdy Sambo itu berteriak dan didengar Eliezer.

Baku tembak kemudian disebut terjadi hingga menyebabkan Yosua tewas. Dugaan pelecehan itu juga dilaporkan ke polisi. Namun belakangan, polisi menghentikan penyidikan dugaan pelecehan di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga itu dengan alasan tak ada dugaan tindak pidana pelecehan yang ditemukan.

"Berdasarkan hasil gelar perkara tadi sore, dua perkara ini kita hentikan penyidikannya karena tidak ditemukan peristiwa pidana," kata Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (12/8/2022).

Menurut Andi Rian, jika memang ada, dugaan pelecehan itu terjadi di rumah Ferdy Sambo di Magelang. Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan timsus telah dikirim ke Magelang untuk mengusut peristiwa di sana. Dia menyebut hanya Allah, Putri, dan Yosua yang mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di Magelang.

"Yang pasti tahu apa yang terjadi ya Allah SWT, almarhum (Brigadir J) dan Bu PC. Kalaupun Pak FS dan saksi lain seperti Kuat, Riki, Susi dan Ricard hanya bisa menjelaskan sepengetahuan mereka," ujar Agus, Minggu (14/8).

Proses penyidikan dugaan pembunuhan Yosua tetap berlanjut. Lima orang ditetapkan sebagai tersangka dugaan pembunuhan, yakni Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada Eliezer, Bripka Ricky, dan Kuat Ma'ruf.

Setelah Polri menggelar rekonstruksi, Komnas HAM menggelar konferensi pers untuk menjelaskan hasil penyelidikan yang dilakukan terkait tewasnya Yosua. Dalam laporan itu, Komnas HAM menyatakan ada dugaan kuat pelecehan seksual terhadap Putri.

"Terdapat dugaan kuat terjadinya peristiwa kekerasan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J kepada Saudari PC (Putri Candrawathi) di Magelang, tanggal 7 Juli 2022," kata komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, dalam jumpa pers di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2022).

Beka menyebut pembunuhan Yosua merupakan peristiwa extrajudicial killing atau pembunuhan di luar hukum. Extrajudicial killing itu, katanya, diduga dipicu pelecehan.

"Terjadi peristiwa pembunuhan terhadap Brigadir J yang merupakan tindakan extrajudicial killing yang memiliki latar belakang adanya dugaan kekerasan seksual," ujar Beka.

Selain Komnas HAM, Komnas Perempuan menyatakan ada dugaan pelecehan yang dialami Putri Candrawathi. Komnas Perempuan, yang ikut dalam pemeriksaan Putri, juga berbicara terkait relasi kuasa terkait dugaan pelecehan seksual dalam kasus pembunuhan Yosua.

Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani awalnya menegaskan soal keengganan pelapor untuk melaporkan kasusnya. Putri Candrawathi disebut malu dan menyalahkan dirinya sendiri. Putri juga disebut takut dengan ancaman dan dampak yang akan mempengaruhi hidupnya.

"Kami perlu menegaskan bahwa keengganan pelapor untuk melaporkan kasusnya sedari awal itu karena memang merasa malu dalam pernyataannya. Ya merasa malu menyalahkan diri sendiri takut pada ancaman pelaku dan dampak yang mungkin mempengaruhi seluruh kehidupannya dalam kasus ini posisi sebagai istri dari seorang petinggi kepolisian pada usia yang jelang 50 tahun memiliki anak perempuan," kata Andy Yentriyani.

Andy mendorong perlunya memikirkan hubungan relasi kuasa dalam kasus ini. Relasi kuasa hubungan atasan dan bawahan dianggap tidak serta merta menghilangkan kemungkinan kekerasan seksual.

"Dan oleh karena itu, kita perlu memikirkan ulang bahwa relasi kuasa atasan dan bawahan saya tidak cukup untuk serta-merta menghilangkan kemungkinan kekerasan seksual," tuturnya.

Nah, pernyataan Komnas HAM dan Komnas Perempuan soal dugaan pelecehan terhadap Putri itu kemudian dikritik berbagai pihak.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Simak Video: Cerita Badar, Atlet Rubik yang Bikin Lukisan Mosaic Rubik Brigadir J

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT