ADVERTISEMENT

KLHK Galang Komitmen 'Stop Wariskan Sampah' dengan Galakkan Daur Ulang

Dea Duta Aulia - detikNews
Kamis, 18 Agu 2022 09:33 WIB
Komitmen Stop Wariskan Sampah
Foto: Istimewa
Jakarta -

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara resmi membangun komitmen bersama bertajuk 'Indonesia Stop Wariskan Sampah' yang telah disepakati oleh pemerintah yang diwakili KLHK, produsen air minum kemasan diwakili Le Minerale, industri daur ulang diwakili oleh Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), dan komunitas penggerak lingkungan yang diwakili oleh Mulung Parahita pimpinan Muryansyah, Selasa (16/8). Hal itu berbarengan dengan penyambutan aktivis solo Triathlon, Muryansyah yang menempuh jarak 1.293 kilometer dari Bali ke Jakarta.

Solo Triathlon merupakan bagian dari kampanye 'The Rising Tide-A Grassroot Movement for Sustainability' dengan misi mendorong aksi kerja sama untuk menciptakan ekosistem pengelolaan sampah rumah tangga berkelanjutan.

"Terima kasih atas kreativitas, inisiatif dan langkah-langkah positif yang memberikan inspirasi ini. Ini adalah kampanye untuk kesadaran. Karena itu, sebelum berbicara kebijakan pemerintah yang paling penting adalah kampanyenya dulu sehingga masyarakat bisa memahami persoalan yang ada di sekitar mereka," kata Menteri LHK Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis, Kamis (18/8/2022).

Siti mengatakan membangun kesadaran masyarakat untuk mengurangi timbunan sampah plastik merupakan hal sulit untuk dilakukan. Namun jika dilakukan dengan cara berkolaborasi maka hal tersebut bisa diwujudkan.

"Membangun kesadaran masyarakat itu adalah yang paling berat. Setelah (komitmen bersama) ini, pekerjaan rumahnya sangat banyak. Ini adalah hadiah untuk bangsa Indonesia dan kita harus lanjutkan, abadikan dan kerjakan," jelasnya.

Melalui kolaborasi ini, semua pihak diharapkan dapat berkomitmen melaksanakan Permen LHK 75/2019 dan bekerja bersama mengelola pengurangan sampah dengan memprioritaskan konsumsi produk kemasan besar dan mengintegrasikan kebiasaan daur ulang serta ekonomi sirkular di Indonesia.

Melalui komitmen bersama ini pula, produsen diharapkan bisa lebih aktif mengedukasi masyarakat untuk melakukan pilah sampah dari rumah, mendukung kegiatan untuk mendongkrak angka pengumpulan (collection rate), daur ulang sampah (recycling rate), dan mendorong Gerakan Ekonomi Sirkular sebagai bagian dari Extended Producers Responsibility (EPR).

KLHK melalui Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 menargetkan pengurangan sampah hingga sebesar 30 persen pada tahun 2030. Target pengurangan tersebut dilakukan dengan, antara lain mendorong produsen air minum dalam kemasan (AMDK) memprioritaskan pengurangan produk desain berbentuk mini menjadi lebih besar (size up) hingga ke ukuran 1 liter untuk mempermudah pengelolaan dan pendaur ulangan sampahnya.

Di samping itu, produsen diminta juga untuk mengimplementasikan mekanisme pertanggungjawaban terhadap produk dalam kemasan plastik yang dijual, saat nantinya produk tersebut menjadi sampah (Extended Producers Responsibility/EPR). Dua hal ini, upaya Size up dan EPR oleh produsen masih menjadi tantangan implementasi Permen KLHK No. 75/2019.

Menanggapi kesepakatan komitmen bersama tersebut, Muryansyah mengatakan organisasinya akan terus berperan aktif mengedukasi masyarakat atau konsumen untuk melakukan pilah sampah dari rumah.

"Pemerintah dan para pihak harus lebih serius mendukung Gerakan Ekonomi Sirkular dan pentingnya usaha daur ulang (recycle) sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya pengurangan sampah," kata Muryansyah.

Meski demikian, Muryansyah berpesan agar KLHK menetapkan prioritas aksi, misalnya dengan secepatnya mendorong produsen untuk memproduksi kemasan plastik lebih besar, dan melarang kemasan saset mini atau kemasan di bawah 1 liter untuk kemasan air minum.

Mengingat sangat banyak sampah tercecer sepanjang perjalanan kampanye The Rising Tide, karenanya target Permen KLHK No. 75/2019 untuk mengurangi peredaran kemasan plastik berukuran kecil harus terus direalisasikan.

"Pengumpulan sampah plastik akan lebih mudah dilakukan apabila bentuknya besar, bukan ukuran mini seperti saset sabun, deterjen atau shampo, sedotan, gelas plastik air mineral dan bungkus plastik lainnya, yang sulit didaur ulang dan tidak punya nilai ekonomi. Apabila produsen bisa didesak untuk memperbesar (size up) produk plastik kemasan mereka, maka ini akan memudahkan upaya pengumpulan sampah dan pendaur ulangannya yang lebih bernilai ekonomi tinggi," kata Muryansyah.

Sementara itu, Corporate Sustainability Director Le Minerale Ronald Atmadja mengatakan pihaknya selaku produsen akan memegang komitmen yang disepakati bersama KLHK dan para pihak lainnya.

"Selaku produsen yang bertanggung jawab, kami ikut dalam kesepakatan komitmen bersama ini dan terus menerus mendukung pelaksanaan Permen LHK 75/2019 sebagai bagian dari upaya menekan volume sampah di Indonesia," kata Ronald Atmadja.

Ronald menekankan bahwa pihaknya akan memegang teguh komitmen bersama untuk mengimplementasikan tanggung jawab pada produk kemasan yang sudah terjual dan tak terpakai lagi (Extended Producers Responsibility/EPR).

"Kami juga sepakat dan ikut mendorong langkah-langkah strategis yang digagas pemerintah untuk upsizing kemasan plastik dan mengakselerasi recycling supaya terus meningkat setiap tahun," tutupnya.

Lihat juga video 'Warga Parepare Ubah Sampah di Pantai Jadi Seni Ekobrik':

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT