Istri Tutupi Kehamilan dengan Lelaki Lain Sebelum Nikah, Saya Harus Gimana?

ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Istri Tutupi Kehamilan dengan Lelaki Lain Sebelum Nikah, Saya Harus Gimana?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 09:32 WIB
Ilustrasi Ibu Hamil
Foto: Getty Images/iStockphoto/My photos for your work and joy!
Jakarta -

Dalam berumah tangga, kejujuran menjadi kunci utama. Tapi bagaimana bila ada salah satu pasangan yang tidak jujur, bahkan menutupi kehamilannya dengan orang lain?

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate sebagai berikut:

Pagi detik's Advocate

Pada bulan Juni saya menikah. Tapi awal Agustus ini sudah hamil. Saat tes ke dokter ternyata umur janin sudah 4 bulan. Padahal saya dan istri saya belum pernah melakukan hubungan ranjang sebelum pernikahan.

Saya merasa dibohongi karena selama ini istri saya mengaku hamil. Apalagi diduga itu hamil dengan orang lain.

Apa yang harus saya lakukan?

Terima kasih

Jhon
Medan

Pembaca lain juga bisa mengirim pertanyaan seputar hukum yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com


JAWABAN:

Terima kasih atas pertanyaannya. Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Atas hal yang anda alami, kami mengaku ikut bersimpati. Atas permasalahan di atas, maka Anda bisa melakukan penyangkalan atas anak yang dikandung istri Anda. Hal itu diatur dalam Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan yang menyatakan :

Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya, bilamana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berzina dan anak itu akibat daripada perzinaan tersebut.

Bila fakta di atas membuat anda merasa tertipu dan mengakibatkan rasa cinta pudar, maka langkah lain yaitu melakukan permohonan gugatan cerai. Pasal 39 ayat (1) dan (2) menyatakan:

(1) Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
(2) Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.

Penjelasan Pasal 39 ayat (2) huruf a menyatakan:

(2) Alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian adalah:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

Apakah Istri Telah Menipu?

Bila anda merasa tertipu, maka perbuatan istri anda harus memenuhi unsur-unsur penipuan seperti berbohong atau memalsukan identitas atau martabat, menggerakkan orang lain, yang tujuannya adalah menguntungkan diri sendiri. Tindak pidana penipuan sendiri diatur dalam Pasal 378 KUHP:

Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Meski demikian, pidana adalah ultimum remidium. Upaya hukum terakhir. Sebelum mengambil langkah tersebut, sebaiknya dibicarakan dengan keluarga.

Demikian jawaban dari kami


Semoga bermanfaat

Tim Pengasuh detik's Advocate

Tentang detik's Advocate

detik's Advocate adalah rubrik di detikcom berupa tanya-jawab dan konsultasi hukum dari pembaca detikcom. Semua pertanyaan akan dijawab dan dikupas tuntas oleh para pakar di bidangnya.

Pembaca boleh bertanya semua hal tentang hukum, baik masalah pidana, perdata, keluarga, hubungan dengan kekasih, UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), hukum merekam hubungan badan (UU Pornografi), hukum waris, perlindungan konsumen dan lain-lain.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.

detik's advocate

Pertanyaan dan masalah hukum/pertanyaan seputar hukum di atas, bisa dikirim ke kami ya di email: redaksi@detik.com dan di-cc ke email: andi.saputra@detik.com

Semua jawaban di rubrik ini bersifat informatif belaka dan bukan bagian dari legal opinion yang bisa dijadikan alat bukti di pengadilan serta tidak bisa digugat.

(asp/asp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT