Terlilit Utang Bank Buat Ngutangin Saudara, Saya Harus Bagaimana?

ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Terlilit Utang Bank Buat Ngutangin Saudara, Saya Harus Bagaimana?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 14 Jul 2022 08:17 WIB
Ilustrasi Tolak Pinjam Uang
Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Saling bantu membantu dan tolong menolong dalam ikatan persaudaraan keluarga sangat dianjurkan. Tapi bagaimana bila keluarga yang sudah dibantu malah tidak mengenal terima kasih dan menyusahkan belakangan hari.

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com Berikut pertanyaan lengkapnya:

Assalamualaikum wr wb,
Saya Dewi beralamat di Kota Jambi.
Izin bertanya.

Saat ini saya mengalami satu masalah, masalah itu berupa pinjaman di Bank. Saat pinjaman secara sadar memberikan uang pinjamannya ke orang lain, dan orang lain berjanji akan mengangsurnya, tidak ada jaminan.

Yang saya minta ke peminjam karena menganggap saudara. Saat ini ternyata si peminjam berulah dengan sengaja mengulur pembayaran dengan ada berbagai alasan. Sementara pihak bank tidak bisa mentoleransi penundaan pembayaran.

Bagaimana solusi dari permasalahan ini? Mohon saran. Yang saya mau, saya memiliki kekuatan agar si peminjam merasa bertanggung jawab untuk membayar,,bukan sekehendaknya membayar.

Jalan apa yang harus saya tempuh ntuk permasalahan saya ini. Adakah payung yang bIsa melindungi dan menolong saya agar pinjaman saya dibayar dari peminjam?

Terima kasih atas jawabannya
Wassalam

Jambi 11 Juli 2022
Dewi

Untuk menjawab pertanyaan pembaca detik's Advocate di atas, kami meminta pendapat advokat Achmad Zulfikar Fauzi, SH. Berikut penjelasan lengkapnya:

Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Terimakasih atas pertanyaan yang saudara tanyakan

Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu mengenai perikatan yang ada dari pertanyaan yang ibu Dewi tanyakan. Adanya 2 perikatan yang pertama yaitu perikatan antara Ibu Dewi dengan bank dan kedua adanya perikatan antara Ibu Dewi sebagai kreditur (pihak yang memiliki piutang) dengan saudara Ibu Dewi (pihak yang memiliki utang) .

Dua perikatan tersebut seharusnya dipisahkan karena konsekuensi hukum atas dua perikatan itu pun berbeda.

Lebih jelasnya saudara dapat Baca artikel detiknews, "KTP Saya Dipinjam Teman buat Utang Pinjol dan Diteror, Saya Harus Bagaimana?"

KTP Saya Dipinjam Teman buat Utang Pinjol dan Diteror, Saya Harus Bagaimana?

Sehingga dapat saya simpulkan perikatan antara Ibu Endra Dewi dengan pihak Bank BRI dengan saudara ibu Endra Dewi, merupakan perikatan yang berbeda. Sehingga kami sarankan agar saudara agar lebih fokus untuk melakukan pembayaran kepada Bank BRI dan segera melakukan upaya hukum perdata dengan cara melakukan penagihan, setelah itu melakukan upaya hukum dengan menguasakan penagihan dengan menggunakan jasa advokat(pengacara dan/atau kuasa hukum) Anda agar melakukan peringatan (somasi somasi) untuk saudara penanya membayar.

Jikalau tidak diindahkan maka anda dan kuasa hukum dapat melakukan gugatan perdata ke pengadilan negeri di mana tempat kediaman si berutang agaranda dapat pengembalian utang.

Lebih jelasnya saudara dapat Baca artikel detiknews:

Bolehkah Saya Minta Bantuan Aparat Negara untuk Nagih Utang?

Adapun dasar hukum yang berlaku di Indonesia mengenai perikatan antara Ibu Dewi debitur (pihak yang memiliki utang) dengan bank BRI sebagai kreditur (pihak yang memiliki piutang) dan kedua adanya perikatan antara Ibu Dewi sebagai kreditur (pihak yang memiliki piutang) dengan Saudara Ibu Dewi sebagai debitur (pihak yang memiliki utang), adalah sebagai berikut:

Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum perdata yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Dalam Pasal 1313 yang menyatakan bahwa:

"Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih."

Selanjutnya, Perjanjian baru dapat dikatakan sah dan mengikat serta mempunyai kekuatan hukum, apabila telah memenuhi unsur sebagaimana yang telah ditegaskan dalam pasal 1320 KUHPerdata, yang mengatur adanya syarat sahnya perjanjian yaitu:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
3. Suatu hal tertentu.
4. Suatu sebab yang halal.

Bahwa adapun dasar hukum yang menjadi landasan utang piutang antara penanya dengan bank dan antara Anda dengan saudara anda diatur dalam Pasal 1754 KUHPerdata di mana berbunyi:

Pinjam-meminjam adalah persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain sesuatu jumlah tentang barang-barang atau uang yang menghabiskan karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan dengan jumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.

Dalam ketentuan Pasal 1754 KUHPerdata tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang meminjamkan sejumlah uang atau barang tertentu kepada pihak lain, ia akan menerima kembali jumlah uang yang sama sesuai dengan persetujuan yang disepakati.

Demikian semoga bermanfaat. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Salam


Achmad Zulfikar Fauzi, SH
Advokat Freelance di Rachmat S. Negoro dan Rekan
Associates di Ongko Purba and Partner
Rekan di Ronnauli Silaen dan Partner
Anggota Advokat Alumni Unsoed dan Anggota Peradi DPC Jakarta Pusat

Simak Video: Tutorial Lunasi Utang

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT