ADVERTISEMENT

DKI Lanjutkan Perubahan Nama Jalan di Jakarta, Godok Nama Tokoh Nasional

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Selasa, 19 Jul 2022 11:59 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan perubahan 22 nama jalan di wilayah Jakarta. Nama-nama jalan itu diambil dari nama tokoh-tokoh Betawi.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta masih membahas kelanjutan perubahan nama jalan di sejumlah titik di Ibu Kota. Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Iwan Henry Wardhana mengatakan, di tahap kedua perubahan nama jalan, bakal diperluas dengan mengambil nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia maupun nasional.

"Masih proses pembahasan dengan tim. Kalau kami Dinas Kebudayaan mengikuti saja kalau Pak Gub akan ada periode berikutnya yang lebih baik dari sisi dari penokohan, terutama tokoh nasional. Termasuk kita menggodok (nama) tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia dan nasional, kemudian beberapa pahlawan," kata Iwan kepada wartawan, Selasa (19/7/2022).

Iwan menjelaskan tahap selanjutnya akan menyasar jalan-jalan besar dan panjang. Terkait pemilihan nama tokoh, Dinas Kebudayaan menerapkan kriteria khusus dalam memilih perubahan nama, salah satunya tokoh tersebut mesti berkaitan dengan sejarah di wilayah itu.

"Dia yang jelas harus seirama dengan tematik tokoh yang sudah jadi ruas jalan, itu kriterianya. Tapi sebagai bahan pembahasan saja, saya dengan kawan-kawan harus melibatkan banyak pihak sejarawan, tentu saja orang orang yang memiliki kapasitas keilmuan di bidang sejarah," tandasnya.

Dia juga menyadari mayoritas jalan besar di Jakarta sudah diberi nama tokoh-tokoh nasional. Karena itu, pihaknya berencana memenggal ruas jalan yang panjang sehingga bisa diberi nama baru.

"Misalnya ada nama-nama di sekitar itu harus yang cocok karena ruasnya yang panjang kita ada penggalan ruas baru, misal Laksamana John Lie, tokoh Angkatan Laut tapi berdarah Etnis Tionghoa, cocoknya di mana, misalnya di Kelapa Gading, tapi ini masih contoh," ucapnya.

Iwan juga merespons adanya penolakan pergantian nama jalan di Tanah Tinggi. Menurutnya, penolakan itu harus dihormati.

"Di Tanah Tinggi itu Hamid Arif dia tokoh seniman besar. Dulu di Senen ada Studio Golden, nah tokoh ini dia memang suka beraktivitas di Tanah Tinggi karena dulu Senen itu pusat seni. Justru menurut saya harus bangga. Dinamika biasalah, Wali Kota yang memberikan sosialisasi kepada warga masyarakatnya, apakah ada dinamika, saya rasa harus dihormati itu," ucapnya.

(taa/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT