ADVERTISEMENT

Rusia Masih Serang Ukraina, Berhasilkah Misi Perdamaian Jokowi?

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 02 Jul 2022 15:05 WIB
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana dalam diskusi Warga Tanpa Warga Negara di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/8/2016)
Guru besar UI Hikmahanto (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menjalankan misi perdamaian dengan melakukan pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun serangan masih dilakukan Rusia terhadap Ukraina. Jadi efektifkah ikhtiar Jokowi menghentikan konflik di Eropa Timur itu?

Menurut guru besar hukum internasional UI Prof Hikmahanto Juwana, perang tidak bisa serta-merta berhenti mendadak segera setelah Jokowi menjalankan kunjungan ke Ukraina-Rusia. Dia juga mengatakan kedua negara tersebut nantinya bisa kembali melakukan ekspor-ekspor bahan pangan.

"Tentu gencatan senjata tidak akan dirasakan langsung, tetapi perlahan-lahan akan berkurang. Dan nanti kita akan lihat Ukraina bisa lakukan ekspor gandum dan Rusia juga bisa ekspor pupuk ke negara-negara berkembang," kata Hikmahanto kepada wartawan, Sabtu (2/7/2022).

Jokowi bertemu Zelensky di Kyiv, Ukraina. Seperti diketahui, Presiden Jokowi sedang melakukan kunjungan kerja ke tiga negara, yakni Jerman, Ukraina, dan Rusia.Jokowi bertemu Zelensky di Kyiv, Ukraina. Seperti diketahui, Presiden Jokowi sedang melakukan kunjungan kerja ke tiga negara, yakni Jerman, Ukraina, dan Rusia. (Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency)

Hikmahanto mengatakan Jokowi telah melakukan langkah cerdas karena telah memberi tahu bahwa peperangan ini akan memberikan dampak pada krisis pangan. Dia mengapresiasi langkah Jokowi yang meminta peperangan ini segera dihentikan.

"Bapak Presiden esensinya ingin menyampaikan, terlepas dari alasan dari pihak-pihak yang terlibat dalam perang, termasuk AS dan sekutunya, bahwa perang akan membawa penderitaan pada rakyat banyak di negara berkembang dan karenanya perang harus dihentikan," ujarnya.

Lebih lanjut, dia melihat Zelensky dan Putin merasa antusias atas kehadiran Jokowi. Hikmahanto menyebut Rusia membutuhkan alasan Jokowi untuk menghentikan perang ini.

"Rusia tidak ingin mengulangi kebodohan AS yang keluar secara tiba-tiba dari Afghanistan," sambungnya.

Jokowi mengunjungi Presiden Zelensky di Ukraina pada Rabu (29/6). Kemudian, Jokowi mengunjungi Presiden Putin di Rusia pada Kamis (30/6). Namun pada hari selanjutnya, ternyata Rusia masih melancarkan serangannya ke Ukraina.

Presiden RI Jokowi dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Dok. Pemerintah Kremlin)Presiden RI Jokowi dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Dok. Pemerintah Kremlin)

Rudal Rusia menyerang sebuah apartemen di dekat kota pelabuhan Odesa, Ukraina. Laporan terbaru menyebut jumlah korban bertambah menjadi 21 orang.

Dilansir dari Reuters, Jumat (1/7), juru bicara pemerintah daerah Odesa, Serhiy Bratchuk, mengatakan 21 orang telah dipastikan tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia 12 tahun.

Korban bukan hanya berasal dari apartemen, tapi juga tiga orang di kamp liburan atau resor di depan apartemen. Seorang anak juga tewas oleh rudal yang menghantam kamp liburan atau resort di dekat apartemen.

Simak Video 'Serangan Rudal Hantam Apartemen Ukraina, Zelensky: Teror Disengaja!':

[Gambas:Video 20detik]



(azh/dnu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT