ADVERTISEMENT

HNW Sambut Baik Pancasila Jadi Mata Pelajaran Wajib di Sekolah

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 29 Jun 2022 16:46 WIB
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW)
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyambut baik keputusan pemerintah menjadikan Pancasila mata pelajaran wajib di semua tingkatan pendidikan mulai tahun ajaran baru 2022/2023. Artinya, pemerintah sudah siap hadir menjadi contoh terbaik dalam pemahaman dan pelaksanaan Pancasila.

"Sebab, metode pendidikan dan pengajaran yang terbaik adalah dengan keteladanan. Dengan mewajibkan mata pelajaran Pancasila di sekolah, maka pemerintah sudah siap memposisikan diri sebagai teladan dalam melaksanakan Pancasila dengan baik dan benar," kata HNW dalam keterangannya, Rabu (29/6/2022).

Dalam pemaparan di hadapan ratusan guru dari Pusat Pendidikan Islam untuk Anak (PPIA) Baitul Maal, Banten, hari ini, HNW mengatakan Pancasila memang harus diajarkan secara formal di seluruh jenjang pendidikan dengan baik dan benar, dan terutama dengan keteladanan. Apalagi bangsa Indonesia masih paternalistik.

"Maka bila sila Ketuhanan yang maha esa diajarkan, hendaknya para peserta didik mendapatkan keteladanan bagaimana sila itu dijalankan dengan baik, benar dan solutif. Jangan sampai diajarkan sila ketuhanan yang Maha Esa tapi terjadi perilaku anti-agama, bahkan atheis, atau dibenarkannya tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama yg rahmatan lil alamin," ujar HNW.

Begitu juga dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab tentu harus menghadirkan perilaku dalam berbangsa dan bernegara yang bisa menjadi teladan, yaitu perilaku manusiawi, yang adil dan beradab.

"Sehingga hukum yang diterapkan benar-benar hukum yang memberi keadilan dan berdampak pada hadirnya kemanusiaan yg beradab, bukan laku biadab dengan hukum yang tebang pilih, atau hukum yang menyasar pihak-pihak berdasarkan like dan dislike," imbuh HNW.

Kemudian, untuk sila persatuan Indonesia peserta didik perlu mendapatkan keteladanan berulang dari pemerintah yang berorientasi merawat dan menguatkan persatuan Indonesia. Peserta didik juga harus bisa menerima perbedaan, keragaman dalam konteks untuk mempersatukan.

"Jangan malah peserta didik mendapat kesan dibiarkannya para buzzer yang menyebar kebencian dan memecah belah persaudaraan dan persatuan bangsa. Juga mestinya separatis dan separatisme tidak dibiarkan menyebar dan menguat, karena membahayakan Persatuan Indonesia," tuturnya.

Pancasila, lanjut Hidayat, juga sangat gamblang menyebutkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sehingga mestinya orientasi pemerintah adalah menguatkan semangat bermusyawarah dan mementingkan maslahat rakyat melalui para wakilnya.

"Dengan demikian prinsip mencari solusi atasi masalah, agar hidup bisa yang rukun dan damai selalu bisa dihadirkan. Jangan malah memberi kesan sebaliknya, keputusan seringnya diambil dengan menang-menangan, banyak-banyakan suara atau melalui voting," ungkapnya.

Hidayat menambahkan kalau masyarakat ber-Pancasila dengan baik dan benar, maka orientasinya juga adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terkait dengan pelajaran wajib Pancasila, HNW melihat pemerintah penting tampil sebagai teladan.

Apalagi dalam pembukaan UUD 45 disebutkan 'serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial' yang artinya, ini adalah perintah. Maka akan menjadi pelajaran yang menarik dan meyakinkan peserta didik, bila pemerintah tampilkan contoh teladan realisasi daripada sila yang ke 5 ini.

"Atau apa hambatannya sehingga yang terlihat dan dirasakan Rakyat adalah ketimpangan dan belum terwujudnya keadilan yang merata bagi seluruh Rakyat Indonesia, tanpa membedakan SARA," jelas HNW.

HNW mengungkapkan dalam perumusan Pancasila selain tokoh-tokoh nasionalis kebangsaan, juga menghadirkan keterlibatan aktif tokoh-tokoh nasionalis dari umat Islam baik dari latar belakang ormas maupun partai politik Islam.

HNW menjelaskan mereka bermusyawarah bersama dan memutuskan hal-hal yang sangat mendasar bagi cita-cita Indonesia Merdeka, baik ideologi dan dasar negara Pancasila UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Para tokoh umat Islam juga menyelamatkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan menerima perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta menjadi ketuhanan yang maha esa, dengan tambahan penjelasan bahwa yang dimaksud ketuhanan yang maha esa adalah tauhid dan dengan kenegarawanan semacam itulah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia terselamatkan.

"Dan itu semuanya membuktikan bahwa Pancasila telah terlaksana dengan penuh keteladanan oleh para bapak dan ibu bangsa. Hal yang sangat penting diulangi, agar Pancasila sebagai mata pendidikan wajar, akan sukses diajarkan dan dipraktikkan, untuk memandu dan mewariskan NKRI secara baik dan benar kepada generasi penerus bangsa, generasi milenial, Z dan lain-lain," ucap HNW.

(fhs/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT