ADVERTISEMENT

Jejak Panas Dingin SBY-Megawati di Balik 5 Pertanyaan Tak Terjawab

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 23 Jun 2022 13:00 WIB
SBY dan Megawati bersalaman di pemakaman Habibie (BPMI Setpres)
Foto: SBY dan Megawati saat bersalaman di pemakaman Habibie (BPMI Setpres)
Jakarta -

Politikus senior PDIP Panda Nababan mengungkap bahwa benih konflik antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bermula dari lima pertanyaan yang tak terjawab. Lima pertanyaan ini muncul dalam konteks ketika SBY diisukan maju sebagai capres saat masih menjadi Menko Polhukam.

Dikutip dari buku 'Dari Soekarno Sampai SBY Intrik & Lobi Politik Para Penguasa' yang ditulis, Tjipta Lesmana benih-benih konflik Mega-SBY bermula pada 2003, saat muncul isu SBY akan maju sebagai capres. Berikut ini kronologinya.

Akhir 2003: Santer beredar isu Menko Polkam SBY akan maju dalam Pilpres 2004. SBY sering muncul dalam iklan di TV untuk sosialisasi pemilu. Karena banyak protes, KPU menghentikan tayangan itu. Kubu Mega mencium 'aroma politik' SBY dan mengucilkannya.

1 Maret 2004: Sesmenko Polkam Sudi Silalahi menyatakan, SBY merasa dikucilkan oleh Presiden Megawati dengan tidak dilibatkan dalam pembahasan tentang PP Kampanye Pejabat Tinggi Negara. Istana menjawab, saat itu SBY ada di Beijing. 'Perang mulut' kedua kubu pun dimulai. Taufiq Kiemas menyebut SBY 'jenderal kok kayak anak kecil'.

9 Maret 2004: SBY mengirim surat pada Megawati, isinya konsultasi tugasnya sebagai Menko Polkam. Mega tak membalasnya.

11 Maret 2004: SBY mengirim surat pada Megawati, mengundurkan diri sebagai Menko Polkam.

13 Maret 2004: SBY berkampanye di Banyuwangi untuk Partai Demokrat.

16 September 2004: 'Debat capres' di televisi. Mega berpesan pada panitia bahwa tidak ada acara jabat tangan antar sesama capres.

5 Oktober 20004: Hari TNI ke-59, Presiden Megawati berpesan agar semua pihak legowo menerima hasil pilpres. Mega meneteskan air mata.

Saat itu KPU telah mengumumkan bahwa pemenang pilpres adalah SBY. SBY hadir dalam HUT TNI itu dan menjadi 'bintang lapangan'. Tempat duduk SBY dan Mega diatur sedemikian rupa sehingga keduanya tidak berjumpa.

20 Oktober 2004: SBY membacakan sumpah presiden. Mega yang diundang menolak datang dengan alasan agar khusyu mendoakan acara SBY itu berjalan lancar. Faktanya, Mega memilih berkebun dan membaca buku di rumahnya di Kebagusan, Jaksel.

20 Oktober 2004 sore: Mega mengundang warga sekitar dan kader PDIP untuk buka puasa di Kebagusan. "Saya katakan, kita bukan kalah (dalam pemilu), tapi kurang suara. Jangan merasa kita kalah, kita hanya kekurangan suara!" pidato Mega kala itu.

Saat Mega bertanya apakah kader PDIP siap merebut kembali "kursi" yang lepas itu, hadirin menjawab, "Siaaap!"

Sementara itu, dikutip dari buku 'Jejak Para Pemimpin' yang ditulis oleh Hanta Yuda dan Tim Poltracking Indonesia, Megawati bahkan mengaku ditikam dari belakang oleh SBY.

"Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Namun, kalau ini (Yudhoyono) saya nggak bisa karena dia menikam saya dari belakang,"

Tahun 2005: Indonesia menjadi tuan rumah Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika. Presiden SBY mengirim Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro untuk mengirim undangan pada Mega, sebab Purnomo dinilai dekat dengan Mega. Mega menolak menerima Purnomo.

Simak Video 'Terungkap! 5 Pertanyaan Megawati yang Belum Dijawab SBY':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT