Ibu Penderita Atresia Bilier, Antara Cemas dan Senang Bisa Transplantasi Hati

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 22 Mei 2022 17:57 WIB
Jakarta -

Hari itu, Maria mengungkapkan kegelisahannya saat menunggu hari-hari menuju proses transplantasi hati bagi Cio, anaknya. Setelah menunggu beberapa minggu di rumah singgah milik Yayasan Rumah Satu Hati dan melewati berbagai langkah administrative serta medis, akhirnya surat pemberitahuan tanggal tindakan itu sampai di tangannya.

"Rasanya ya sedikit ada juga kecemasan, deg-degan. Ya namanya mau mendonorkan organ tubuh, ada juga perasaan senang bisa donor untuk anak. Yang lain (orang tua) juga terkadang tidak bisa donor untuk anak. Saya merasa bangga bisa donor untuk anak. Mudah-mudahan hati saya cocok untuk anak saya," ungkap Maria dalam program Sosok Minggu, (22/5/2022).

Bagi Maria, keputusan untuk mendonor telah didiskusikan dahulu dengan suaminya. Ada berbagai pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum terputus kesimpulan, ibu-lah yang harus berbagi hati.

"Sempat ayahnya yang maju, tapi kami berkompromi lagi karena ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga. Biar saya saja yang maju karena kan saya di rumah saja. Ayahnya kan cari nafkah, takutnya nanti tidak kuat atau bagaimana. Saya berkomitmen, saya yang maju," terangnya.

Cio adalah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang menderita penyakit atresia bilier. Beruntung, orang tua Cio lolos screening sebagai pendonor hati untuk anaknya. Sebab, belum tentu DNA yang identic dapat serta-merta menjadi pendonor hati.

Hery, ketua yayasan Rumah Satu Hati mengatakan bahwa waktu yang dimiliki anak-anak atresia bilier tidaklah banyak. Sebab, kerusakan hati bisa cepat menyebar dan merusak organ tubuh lain. Maka, Hery pun sering berdiskusi dengan para orang tua yang berkejaran dengan waktu agar tetap memahami resiko yang dihadapi.