ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Video Call Sex Disebar Bila Tak Mau Bayar Rp 18 Juta, Saya Lapor Siapa?

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 08:43 WIB
A young couple talking to each other via online video chat.
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Teknologi yang terus berkembang membuat berbagai modus kejahatan baru, salah satunya cyber crime. Berikut yang dialami pembaca detik's Advocate.

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com Berikut pertanyaan lengkapnya:

Halo detik's Advocate

Saya diajak video call telanjang. Tetapi dia merekam diam-diam dan mengancam akan menyebarkan di sosmed bila tidak mau membayar Rp 18 juta. Apakah saya ini korban? Lalu saya minta perlindungan hukum ke siapa?

Wawan
Bandung

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyannya.

Secara singkat, apa yang Anda alami, merupakan rangkaian tindak pemerasan dan Anda sebagai korbannya. Berikut penjelasannya.

Pemerasan merupakan salah satu tindak pidana umum yang dikenal dalam hukum pidana positif di Indonesia. Tindak pidana pemerasan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ("KUHP") pada Pasal 367 Bab XXIII. Sebenarnya, dalam bab ini mengatur dua macam tindak pidana, yaitu pemerasan (afpersing) dan tindak pidana pengancaman (afdreiging). Kedua tindak pidana itu memiliki inti atau sifat yang sama pada dasarnya, yakni suatu perbuatan yang memiliki tujuan memeras orang lain.

Karena itu, sifatnya yang sama, kedua tindak pidana ini diatur dalam bab yang sama. Kata 'pemerasan' dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar 'peras' yang bisa bermakna leksikal 'meminta uang dan jenis lain dengan ancaman.

Afpersing berasal dari kata kerja afpersen yang berarti memeras (Marjanne Termorshuizen, 1999: 16). Dalam Black's Law Dictionary (2004: 180), lema blackmail diartikan sebagai 'a threatening demand made without justification'. Sinonim dengan extortion, yaitu suatu perbuatan untuk memperoleh sesuatu dengan cara melawan hukum seperti tekanan atau paksaan.

Pemerasan diatur dalam hukum pidana sebagaimana Pasal 368 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ("KUHP"), yang berbunyi:

"Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun".

Menurut Andi Hamzah, Subjek pasal ini adalah 'barangsiapa' ada empat inti delik atau delicts bestanddelen dalam pasal 368 KUHP.

Pertama, dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kedua, secara melawan hukum.

Ketiga, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman.

Keempat, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang.

Lihat juga video 'Marshel Widianto Tegaskan Tak Sebarkan Video Dea OnlyFans':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikut



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT