Inspirasi

Bagaimana Cara Pondok Tasawuf Underground Merangkul Anak Punk?

Khairul Ma'arif - detikNews
Minggu, 10 Apr 2022 15:38 WIB
Pondok Tasawuf Underground merupakan pondok pesantren yang diisi kalangan anak punk dan jalanan untuk memperdalam ilmu agama lewat metode Peta Jalan Pulang.
Anak punk dan anak jalanan dalam Pondok Tasawuf Underground. (Grandyos Zafna/detikcom)
Tangsel -

Aksi nyata Halim Ambiya merangkul anak-anak jalanan didasari dari tendensi sosial-keagamaan yang dia renungkan dalam-dalam. Dia melihat masjid-masjid seolah masih terbatas untuk 'orang-orang saleh'. Menurutnya, kaum yang 'belum saleh' juga perlu dirangkul, di antara mereka ada anak jalanan dan anak punk.

"Ya (dulu) saya melihat ini belum ada yang merangkul, padahal ini tugas masjid. Dakwahnya (masjid) hanya terfokus pada orang yang sudah datang ke masjid, mereka yang sudah punya kesadaran rohani. Tapi, mereka tidak berusaha untuk menyadarkan orang yang masih dalam kegelapan," kata Halim, berbincang dengan detikcom di Pondok Pesantren Underground, Rabu (6/4/2022).

Halim Ambiya adalah pendiri Pondok Tasawuf Underground, markasnya beralamat di kompleks ruko Ciputat, Jl RE Martadinata, Tangerang Selatan, Banten. Di sinilah para anak jalanan dan anak punk menimba ilmu agama dan ilmu wirausaha. Anak jalanan dan anak punk memang menjadi sasaran aksi mulianya.

"Makanya kita merekrut mereka yang lagi mabuk, yang lagi beler, mereka yang lagi bermasalah di jalanan, kita rekrut. Kita jemput bola, bukan hanya menunggu bola," kata Halim.

Halim Ambiya pendiri Pondok Tasawuf Underground. (Khairul Ma'arif/detikcom)Halim Ambiya pendiri Pondok Tasawuf Underground. (Khairul Ma'arif/detikcom)

Islam sebagai agama kasih sayang bagi seluruh alam semesta harus hadir tanpa terkecuali untuk anak jalanan dan kaum yang biasa disebut sebagai anak punk. Mereka adalah kaum mustadh'afin, kaum marginal. Ternyata, Halim membuktikan, ini bukan pekerjaan mustahil.

"Dan mereka menyadari bahwa agama telah hadir bersama mereka, melakukan konseling, melakukan bimbingan, memberikan 'peta jalan pulang' agar mereka bisa kembali kepada keluarga, melanjutkan lagi pendidikannya. Itu kan gara-gara mereka belajar agama," tutur Halim.

Total ada sekitar 130 anak jalanan yang pernah bergabung di Pondok Tasawuf Underground binaan Halim, sebagian dari mereka sudah mentas dari jalanan, ada yang menjalankan wirausaha hingga bekerja di pasar. Untuk saat ini, ada 26 anak jalanan yang bermukim di markas Ciputat ini, di luar itu ada pula 45 anak yang dibina di jalanan.

Dari Pondok Tasawuf ini, anak jalanan diberdayakan melalui kewirausahaan. Ada tujuh cabang jasa binatu (laundry) yang dijalankan. Aksi Halim Ambiya juga mendukung anak jalanan ke jenjang pendidikan yang lebih baik. Untuk saat ini, ada tujuh anak jalanan yang dia sekolahkan. Sudah ada tiga anak jalanan yang berkuliah di perguruan tinggi mengambil jurusan ilmu hukum dan tarbiyah (pendidikan).

Saat detikcom bersilaturahmi, Halim yang mengenakan topi pakol khas Afghanistan ini tengah mengajar ngaji murid-muridnya di ruko tiga lantai ini. Halim mengawali pembelajaran dengan berceramah lalu dilanjutkan belajar dengan yang sudah ia tuliskan di papan tulis.

Selepas mengajar anak jalanan di sini, pria 47 tahun ini bercerita, Pondok Tasawuf ini awalnya bergerak melalui media sosial mulai 2012 silam. Aksinya dilanjutkan dengan berkeliling di kafe-kafe lantas berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Baru tahun 2020, Pondok Tasawuf Underground di Ciputat ini beroperasi.

Bagaimana cara merangkul?

Bukan pekerjaan sembarangan untuk merangkul anak-anak jalanan dan anak-anak punk. Butuh pendekatan spesifik, tentu saja dengan terjun ke jalanan. Itu butuh nyali. Halim yang merupakan mantan wartawan surat kabar dan media daring (online) ini merasa terbantu dengan pengalaman jurnalistiknya.

"Sebab kalau ente nggak punya jiwa kewartawanan masuk ke kawasan prostitusi, masuk ke pangkalan preman, nggak bakalan berani," kata Halim.

Halim yang juga mantan dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah serta pelaku bisnis penerbitan ini sadar bahwa perjuangannya adalah perjuangan mengubah mental manusia, secara spesifik adalah mental anak jalanan. Kesabaran yang luar biasa dibutuhkan dalam menempuh jalan ini. Halim mengidentifikasi anak-anak punk ini banyak yang tercerabut dari akar pendidikan dan akar keluarga.

"Iya kan orang tuanya aja dilawan, apalagi orang lain? Apalah artinya saya. Maka harus dengan persahabatan," kata dia.

Pendekatan persahabatan nyatanya mampu mendekatkan dirinya dengan anak-anak jalanan yang berkarakter punk, antikemapanan, dan memberontak. Dia mengingat-ingat cara Nabi Muhammad SAW dalam merangkul Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Usman Bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Nabi Muhammad menyebut mereka semua sebagai sahabat. Dengan begitulah, Nabi Muhammad dapat mengembangkan Islam.

Bukan cuma berperan sebagai sahabat, Halim Ambiya juga berperan sebagai orang tua bagi anak-anak jalanan dan anak-anak punk yang diasuhnya. Sebagai orang tua, dia akan membela anak-anaknya ketika mereka ditangkap polisi atau Satpol PP. Bantuan hukum bakal diberikan demi menyelamatkan mereka.

Selain berperan sebagai sahabat dan orang tua, Halim Ambiya menjadi guru. Dia tidak hanya membela anak-anaknya, tapi juga menunjukkan hal yang benar dan membedakannya dengan hal yang salah. Bila si murid salah, maka guru berani mengatakan perbuatan murid sebagai kesalahan.

"Ketiga peran itu saya mainkan," ujar Halim.

Anak-anak punk memanfaatkan momentum ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka belajar mengaji di kolong tol Tebet, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Mereka mengaji dengan dibimbing relawan dari komunitas Tasawuf Underground.Anak-anak punk memanfaatkan momentum Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka belajar mengaji di kolong tol Tebet, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Mereka mengaji dengan dibimbing relawan dari komunitas Tasawuf Underground. (Pradita Utama/detikcom)
Anak-anak punk memanfaatkan momentum ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka belajar mengaji di kolong tol Tebet, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Mereka mengaji dengan dibimbing relawan dari komunitas Tasawuf Underground.Anak-anak punk memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka belajar mengaji di kolong tol Tebet, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Mereka mengaji dengan dibimbing relawan dari komunitas Tasawuf Underground. (Pradita Utama/detikcom)
Anak-anak punk memanfaatkan momentum ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka belajar mengaji di kolong tol Tebet, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Mereka mengaji dengan dibimbing relawan dari komunitas Tasawuf Underground.Anak-anak punk memanfaatkan momentum Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka belajar mengaji di kolong tol Tebet, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Mereka mengaji dengan dibimbing relawan dari komunitas Tasawuf Underground. (Pradita Utama/detikcom)

Dulu, dia merangkul anak-anak punk di Pondok Ranji (Ciputat Timur), Cipinang (Jakarta Timur), Tanah Abang (Jakarta Pusat), atau kolong tol Tebet (Jakarta Selatan). Mereka kemudian 'ditarik' dan dibina, diberi tempat singgah, dikasih makan, dan disekolahkan.

"Sekarang sudah ada pondoknya sudah dikenal mengetahui di medsos tidak menutup kemungkinan mereka tiba-tiba datang ke sini karena sudah dikenal ada kepercayaan. Dulu awal-awal ya tangan kosong kita narik satu persatu. Dulu semua dari mulut saya sekarang bisa dibantu dari kawan-kawan yang di sini," pungkasnya.

(dnu/dnu)