Terungkap Cara Pengambilan Emas 40 Kg di Sidang Kasus Penipuan Skema Ponzi

ADVERTISEMENT

Terungkap Cara Pengambilan Emas 40 Kg di Sidang Kasus Penipuan Skema Ponzi

Zunita Putri - detikNews
Senin, 04 Apr 2022 17:34 WIB
Sidang lanjutan penipuan emas skema ponzi di PN Tangerang
Sidang lanjutan penipuan emas skema Ponzi di PN Tangerang. (Dok. Istimewa)
Tangerang -

Saksi bernama M Ibadi mengungkapkan cara terdakwa penipuan emas Budi Hermanto mengambil emas seberat 40 kilogram. M Ibadi adalah mantan pengacara Budi.

Hal itu disampaikan M Ibadi di sidang lanjutan kasus penipuan emas di Pengadilan Negeri Tangerang. Awalnya, Ibadi mengaku pernah membuat daftar aset Budi pada Maret-April 2021 ketika korban penipuan sedang menuntut kerugian pada terdakwa. Ibadi juga mengaku pernah mendatangi toko emas Budi yang berlokasi di BSD bersama Budi dan dua orang lainnya.

Saat di toko emas Budi itulah Ibadi melihat emas ditimbang dengan total 40 kilogram dan diserahkan kepada Zam dan Buyung. Namun Ibadi mengaku tidak mengetahui ke mana emas itu dibawa.

Ibadi dalam persidangan menyebut ada 20 kilogram emas diserahkan kepada seseorang bernama Ali Boy. Ali, kata Ibadi, masih keluarga Budi.

"Dalam persidangan ini mulai terungkap ada 40 kg emas yang belum disita dan seharusnya digunakan untuk mengganti kerugian korban," ujar pengacara korban penipuan Budi, Rasamala Aritonang, kepada wartawan, Senin (4/4/2022).

Dalam sidang ini, Rasamala juga mengapresiasi majelis hakim yang telah membuka ruang yang luas bagi para korban dalam persidangan perkara penggabungan gugatan ganti kerugian tersebut. Rasamala berharap majelis hakim dapat memperkuat semangat untuk bisa memulihkan kerugian korban secara adil.

Korban Ajukan Sita Jaminan

Dalam sidang ini, pengacara korban lainnya, Febri Diansyah, mengajukan sita jaminan terhadap aset-aset Budi yang sebelumnya diduga dialihkan pada pihak lain.

"Mohon izin, Yang Mulia, Kami ajukan sita jaminan untuk emas 40kg yang telah terungkap sebagai fakta hukum di persidangan ini," ujar Febri di sidang.

Pengajuan tersebut mengacu pada Pasal 227 HIR karena dalam sidang penggabungan gugatan ganti kerugian ini, Pasal 101 KUHAP mengatur ketentuan hukum acara perdata berlaku sepanjang tidak diatur lain dalam KUHAP.

(zap/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT