ADVERTISEMENT

Korban Luka Kornea Diduga Akibat Debu Batu Bara di Jakut Tambah 2 Orang!

Wildan Noviansah - detikNews
Senin, 28 Mar 2022 17:15 WIB
Polusi batu bara di Marunda, Jakarta Utara.
Polusi batu bara di Marunda, Jakarta Utara. (Wildan Noviansah/detikcom)
Jakarta -

Setelah Raihan (9), korban yang mengalami ulkus kornea di Marunda, Jakarta Utara (Jakut) bertambah dua orang. Diduga, penyakit luka pada bagian dalam mata ini disebabkan abu batu bara yang terjadi di kawasan Marunda.

Kedua korban tersebut adalah Bayu (20) dan Syifa (9). Ketua Forum Masyarakat Rusunawa Marunda (F-MRM), Didi Suwandi, mengatakan kondisi mereka sama dengan Raihan, salah seorang anak di sana yang harus menjalani operasi transplantasi mata akibat debu batu bara.

"Dua warga kami, adinda Bayu dan adinda Syifa, mengalami atau didiagnosa ulkus kornea. Sama seperti Raihan yang bola matanya diganti," kata Didi di Patung Kuda, Senin (28/3/2022).

"Kalau melihat kasusnya kami membaca di media bahwa penyakit tersebut sangat besar berdampak dari debu. Debunya ini kami meyakini debu batu bara. Karena kalau debu biasa tidak seperti itu. Sehingga terbakar korneanya karena kan panas," imbuhnya.

Setelah Raihan (9), korban yang mengalami ulkus kornea diduga akibat polusi abu batu bara di Marunda, Jakut bertambah dua orang. Warga minta pemerintah turun tangan (Wildan N/detikcom)Setelah Raihan (9), korban yang mengalami ulkus kornea diduga akibat polusi abu batu bara di Marunda, Jakut bertambah dua orang. Warga minta pemerintah turun tangan. (Wildan N/detikcom)

Didi mengatakan pihaknya menerima laporan dari korban sekitar tiga hari lalu atau Jumat (25/3).

"(Korban) melapor ke kami, kalau tidak salah tiga hari yang lalu, itu kita sudah edukasi warga, tiba-tiba dia mengadu, dia cerita," ujarnya.

Pengobatan Terkendala BPJS

Didi mengatakan hingga kini kedua korban masih belum menjalani perawatan. Bahkan, kata Didi, kondisi mata Bayu kian memburuk. Di samping itu, program BPJS miliknya mati, sehingga dia tidak kunjung menjalani perawatan.

Padahal, Bayu seharusnya segera menjalani perawatan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sebab, jika tidak cepat ditangani, kondisi matanya akan semakin buruk.

"Dan sangat miris, yang namanya Bayu ini BPJS-nya udah mati dan BPJS-nya berbayar, sedangkan dia orang tidak mampu. Belum (operasi transplantasi kornea), karena masalah biaya tadi dan BPJS-nya tidak aktif," kata dia.

"Dia harus berobat ke Cipto (RSCM), yang saya dengar hari ini dia harus ke Cipto. Karena kalau tidak, matanya yang putih-putihnya (infeksi, red) akan semakin membesar," tambahnya.

Terkait permasalahan ini, Didi mendesak pemerintah segera mengambil langkah komprehensif terkait permasalahan abu batu bara di Marunda. Selain itu, terkait ulkus kornea yang diderita para korban, kata Didi, seharusnya negara mengambil alih.

"Kita harus selesaikan secara komprehensif, bukan hanya LH datang ke sana, tapi kesehatan, psikologi diabaikan. Artinya, bahwa penyelesaian secara komprehensif itu nggak perlu menunggu sumbangan dari KCN, negara aja urus. Biar nanti KCN kami yang action," pungkasnya.

Lihat juga video 'Pekat Debu Batu Bara di Udara Marunda':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT