Komnas HAM Investigasi Dugaan Salah Tangkap Fikry HMI di Kasus Begal

ADVERTISEMENT

Komnas HAM Investigasi Dugaan Salah Tangkap Fikry HMI di Kasus Begal

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 23 Mar 2022 21:49 WIB
Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam (YouTube Komnas HAM)
Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam (YouTube Komnas HAM)
Jakarta -

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menginvestigasi kasus 4 terdakwa begal di Bekasi yang disebut kasus salah tangkap. Komnas HAM mengaku proses investigasi sudah hampir rampung.

"Sampai sore kemarin, konstruksi sudah 90%, jadi tim tinggal melengkapi apa yang memang masih ada lubang-lubang," kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, kepada wartawan, Rabu (23/3/2022).

Hari ini Komnas HAM mengaku mendapatkan tambahan data dari pihak keluarga para terdakwa pelaku begal. Komnas HAM juga mengaku mendapatkan data dari pihak kepolisian.

"Jadi saat tadi keluarga korban memberi bukti itu melengkapi yang kami dapat sebelumnya dari keluarga korban secara langsung beberapa waktu lalu, kami juga sudah cek lokasinya, kami juga sudah dapat dokumen dari kepolisian," katanya.

Saat ini kasus tersebut sudah masuk meja persidangan. Choirul mengatakan Komnas HAM bekerja secara maraton dalam menginvestigasi kasus ini.

Namun dia menegaskan temuan Komnas HAM dalam investigasi ini bukan untuk mengintervensi proses persidangan yang sedang berjalan.

"Yang paling penting, bukan soal proses pengadilannya karena kita tidak boleh mengintervensi hakim. Tapi yang penting temuan Komnas HAM seperti apa konstruksi peristiwanya," ucapnya.

Polisi Tepis Rekayasa Kasus

Sebelumnya diberitakan, Kapolres Metro Bekasi Kombes Gidion Arif menegaskan kasus 4 terdakwa begal bukanlah kasus salah tangkap. Dia mengatakan kasus tersebut diproses hingga dibawa ke persidangan.

"Nggaklah bukan salah tangkap itu, memang sudah diproses sampai ke persidangan," ujar Gidion ketika dihubungi detikcom pada Jumat (4/3).

Menurutnya, Polsek Tambelang sudah memproses kasus sesuai dengan standard operating procedure (SOP). Dia mengatakan alat bukti untuk menetapkan Fikri dan ketiga rekannya sudah mencukupi.

"Udah, sudah prosedur iya SOP-nya sudah betul, kecukupan alat bukti untuk menetapkan menjadi tersangka juga sudah betul," ujarnya.

Gidion yakin fakta-fakta yang terjadi di lapangan sudah benar. Ia pun menunggu hasil putusan pengadilan nanti.

LBH Sebut Kasus Penuh Rekayasa

Sebelumnya, LBH Jakarta dan KontraS memberikan pendampingan hukum kepada Muhamad Fikry, terdakwa kasus begal di Tambelang, Kabupaten Bekasi. Pihak LBH Jakarta menduga kasus yang membuat Muhamad Fikry sebagai pesakitan itu penuh rekayasa.

"Fakta-fakta persidangan tersebut semakin menguatkan bahwa kasus ini merupakan kasus yang direkayasa dan penuh dengan tindak penyiksaan. Di hari kehakiman ini kami juga mendesak hakim untuk berani membebaskan para terdakwa karena selain kasus ini diduga rekayasa, semua bukti diperoleh dengan cara melanggar hukum dan HAM, seperti penyiksaan dan upaya paksa sewenang-wenang," ujar Teo Reffelsen dari LBH Jakarta, dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (2/3).

Dalam persidangan di PN Cikarang pada Selasa (1/3), terungkap fakta bahwa Fikry dan terdakwa lainnya tidak berada di lokasi kejadian perkara. Hal ini terungkap dari kesaksian 4 orang saksi yang dihadirkan pihak LBH Jakarta.

"Dua orang saksi menjelaskan salah satu terdakwa, Muhamad Fikry, pada pukul 01.30 WIB, tanggal 24 Juli 2021--waktu sebagaimana menurut dakwaan terjadi pembegalan--berada di musala di samping rumahnya," katanya.

Keterangan saksi juga mengaku melihat motor milik Fikry, yang dijadikan barang bukti di kasus ini, terparkir di belakang rumah. Saksi juga mengatakan terdakwa mengalami penganiayaan saat ditangkap polisi.

Dalam persidangan, dua saksi lainnya juga menjelaskan latar belakang Fikry sebagai guru ngaji dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

"Kedua saksi juga menjelaskan bahwa Muhamad Fikry merupakan guru ngaji untuk anak-anak di lingkungan rumahnya dan di kampus aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam cabang Bekasi," katanya.

(jbr/mei)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT