Krisis Air Bersih, Warga Muara Angke Bawa Jeriken-Kirim Surat ke Anies

ADVERTISEMENT

Krisis Air Bersih, Warga Muara Angke Bawa Jeriken-Kirim Surat ke Anies

Nahda RIzky Utami - detikNews
Selasa, 22 Feb 2022 13:36 WIB
Sejumlah warga Muara Angke mendatangi Gedung Balai Kota DKI Jakarta. Mereka membawa jeriken dan meminta Pemprov DKI menyelesaikan krisis air bersih. (Nahda RU/detikcom)
Sejumlah warga Muara Angke mendatangi gedung Balai Kota DKI Jakarta. Mereka membawa jeriken dan meminta Pemprov DKI menyelesaikan krisis air bersih. (Nahda RU/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah warga Muara Angke, Jakarta Utara, mendatangi gedung Balai Kota DKI Jakarta. Mereka membawa jeriken dan meminta Pemprov DKI membuatkan kios air karena mengalami krisis air bersih.

Krisis air bersih itu terjadi di wilayah Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang, Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Salah satu warga Muara Angke, Nur Wenny, mengatakan belum pernah ada layanan air minum dari Pemprov DKI yang masuk ke wilayah mereka. Hanya satu titik kios air yang dibangun pada 2020 di Kampung Blok Eceng, Muara Angke, Jakarta Utara.

"Belum pernah ada layanan air minum dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang masuk ke lokasi kecuali satu titik kios air yang dibangun pada 2020 di Kampung Blok Eceng, tapi itu pun dioperasikan secara komersial," kata Wenny di depan gedung Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/2/2022).

Selama ini warga mengkonsumsi air minum dengan cara membeli dari air isi ulang galon dan air kemasan. Satu keluarga bisa menghabiskan Rp 13 ribu untuk kebutuhan air minum setiap harinya.

"Selama ini warga mengkonsumsi air minum dengan cara membeli air yang bersumber dari air isi ulang galon dan air kemasan dalam botol," jelas isi surat permohonan layanan air minum dari warga Blok Limbah, Blok Eceng, Blok Empang, Muara Angke, yang diberikan kepada Pemprov DKI Jakarta, Senin (22/2/2022).

"Jika dirupiahkan, kebutuhan air untuk minum dan masak dalam satu keluarga per hari sebesar Rp 13 ribu," tambahnya.

Dalam surat itu juga tertulis jumlah kebutuhan air bersih untuk mandi dan mencuci pakaian yang menghabiskan Rp 25 ribu per keluarga setiap harinya. Dengan mayoritas warga yang bekerja sebagai nelayan. Mereka mengaku sangat terbebani oleh pengeluaran tersebut.

"Jika dirupiahkan, kebutuhan air untuk cuci dan mandi per keluarga per hari sebanyak 200 liter dikalikan harga per pikul sebesar Rp 5.000, maka per keluarga per hari mengeluarkan uang sebesar Rp 25 ribu," jelas isi surat warga.

"Dengan mayoritas warga yang bekerja di bidang nelayan tradisional dan sektor ekonomi informal lainnya, biaya sebesar itu sangat membebani ekonomi keluarga," imbuhnya.

Untuk itu, warga Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang, Muara Angke, meminta kepada Pemprov DKI memberikan pelayanan penyediaan air minum menggunakan kios air. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan 4.968 jiwa yang tinggal di wilayah tersebut.

"PAM Jaya melakukan pelayanan suplai air minum menggunakan kios air untuk warga yang berada di Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang sebanyak 293.208 liter per hari untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 4.968 jiwa atau sebanyak 1.286 keluarga," tuturnya.

Mereka meminta pemberlakuan tarif air sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 57 Tahun 2021 untuk golongan rumah tangga sangat sederhana sebesar Rp 1.575 per meter kubik.

"Pemberlakuan tarif air sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 57 Tahun 2021 untuk golongan rumah tangga sangat sederhana, yaitu Rp. 1.575 per meter kubik (pemakaian di atas 20 meter kubik)," ujarnya.

(jbr/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT