Faisal Basri Ramal Moral Pemerintahan Ambruk Sebelum 2024, Simak Lagi Sosoknya

Andi Saputra - detikNews
Senin, 31 Jan 2022 17:33 WIB
Faisal Basri Ramal Moral Pemerintahan Ambruk Sebelum 2024, Simak Lagi Sosoknya
Faisal Basri (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta -

Faisal Basri memprediksi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan ambruk secara moral sebelum 2024. Ia juga mengatakan mayoritas elite di lingkungan pemerintah sudah tidak bisa lagi menutupi skandal-skandal yang dilakukan.

"Saya prediksi sih nggak sampai 2024 secara moral pemerintahan ini sudah ambruk karena mayoritas elitnya sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi, melakukan skandal dan skandalnya makin besar," kata Faisal Basri dalam webinar, Sabtu (29/1/2022).

Lalu, siapa itu Faisal Basri? simak rangkuman informasi berikut ini untuk mengetahui terkait sosok Faisal Basri.


Profil Faisal Basri

Melansir dari situs resmi Universitas Indonesia, Faisal Basri merupakan seorang ekonom dan politikus alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Ia adalah salah seorang keponakan dari mendiang Wakil Presiden RI Adam Malik.

Berikut adalah rincian profil Faisal Basri seperti dilansir dari situs Universitas Indonesia:

Pendidikan:

  1. S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (1985)
  2. Master of Arts bidang ekonomi, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988).

Penghargaan:

  • Pada 1996, Faisal Basri mendapat penghargaan Dosen Teladan III UI.

Perjalanan Karir:

  1. Pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia untuk mata kuliah Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, dan Sejarah Pemikiran Ekonomi (1981-sekarang)
  2. Anggota Tim "Perkembangan Perekonomian Dunia" pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN (1985-1987)
  3. Pengajar pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), dan Program Pascasarjana Universitas Indonesia (1988-sekarang)
  4. Ketua Jurusan ESP (Ekonomi dan Studi Pembangunan) FEBUI (1995-1998)
  5. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta (1999-2003)
  6. Pendiri Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) (1995-2000)
  7. Anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI (2000)
  8. Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Tim Antimafia Migas) (2014)

Pada 2012 Faisal Basri menanggalkan status PNS-nya di UI karena mengikuti pilkada DKI Jakarta lewat jalur independen berpasangan dengan Biem Benjamin. Hasilnya, Faisal-Biem tidak lolos ke putaran kedua, kalah dengan pasangan Fauzi Bowo-Nara dan Jokowi-Ahok.

Sejak Kapan Faisal Basri Mengkritik Pemerintah?

Soal mengkritik pemerintah, bukan dilakukan Faisal Basri belakangan ini saja. Jauh sebelumnya, Faisal Basri sudah terbiasa berseberangan dengan pemerintah.

Saat menjadi mahasiswa FE UI pada awal 1980-an, Faisal Basri aktif di kampus dan ikut menolak kebijakan Soeharto untuk mahasiswa. Setelah menjadi dosen FE UI, Faisal Basri tetap lantang mengkritik rezim Soeharto.

Saat masih menjadi dosen UI itulah, Faisal Basri menjadi salah satu motor penggerak reformasi dari Kampus UI untuk menggulingkan kediktatoran Soeharto. Faisal Basri kerap ikut aksi demonstrasi hingga diskusi-diskusi terbuka mengritik kebijakan Soeharto.

Salah satunya pada 26 Februari 1998. Sekitar 5.000 mahasiswa UI menggelar demonstrasi di Kampus UI Depok. Selain mahasiswa, Faisal Basri juga turut berorasi. Peserta aksi memasang spanduk bertuliskan Kampus Perjuangan Rakyat pada papan nama di dekat gerbang utama UI.

Setelah Soeharto tumbang, Faisal Basri sempat membidani PAN dan duduk sebagai Sekjen. Tapi tak berapa lama, kongsi dengan Amien Rais harus disudahi karena Faisal Basri mencium gelagat tidak sehat di partai itu yaitu upaya mengkultuskan tokoh tertentu.

"Tetapi, apakah kita rela menjadikan Mas Amien sosok yang dielu-elukan seperti perangai Orde Baru memperlakukan Soeharto. Bukankah PAN didirikan untuk menghadirkan budaya politik baru yang sehat?" tulis Faisal Basri yang lahir pada 6 November 1959 itu.

Setelah reformasi, ia sempat duduk menjadi anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Simak informasi selengkapnya di halaman selanjutnya