Belajar dari Kasus Kakek Halim, Jangan Mudah Terpancing Teriakan 'Maling'

M Hanafi Aryan - detikNews
Sabtu, 29 Jan 2022 14:38 WIB
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes E Zulpan (Yogi-detikcom)
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan (Yogi/detikcom)
Jakarta -

Insiden pengejaran sejumlah pengendara motor terhadap mobil Toyota Rush di Cakung, Jakarta Timur, berujung pengeroyokan terhadap pengemudi, Wiyanto Halim (89). Kakek Halim tewas setelah dikeroyok massa karena diteriaki 'maling'.

Kasus ini hendaklah menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Masyarakat diminta tidak mudah terpancing melakukan aksi main hakim sendiri hanya karena teriakan 'maling'.

"Ya memang kejadian Kakek Halim dikeroyok sampai tewas ini membuat kita prihatin. Masyarakat sebaiknya jangan mudah terprovokasi oleh ajakan yang belum diyakini kebenarannya. Jangan main hakim sendiri," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan kepada detikcom, Sabtu (29/1/2022).

Zulpan mengimbau masyarakat melapor polisi jika mengetahui adanya suatu tindak pidana. Percayakan proses hukum kepada polisi.

"Laporkan kepada polisi apabila mengetahui adanya pelanggaran hukum yang diketahui oleh masyarakat. Percayakan penegakan hukum kepada polisi," ujarnya.

Menurut Zulpan, membantu orang lain mencegah pelaku kejahatan memang tidak ada salahnya. Namun masyarakat diimbau tidak main hakim sendiri.

"Artinya, jangan main hakim sendiri sebelum tahu kebenarannya. Kalau menemukan kasus seperti itu, langsung lapor polisi, panggil aparat RT-RW. Jangan kemudian langsung menghakimi dan melakukan pengeroyokan yang menimbulkan pidana baru," jelasnya.


Kakek Halim Tewas Dikeroyok Usai Diteriaki Maling

Seperti diketahui, Wiyanto Halim tewas setelah diteriaki 'maling'. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (23/1) dini hari itu berawal ketika mobil yang dikendarai Wiyanto diduga menyenggol motor.

"Ini diawali adanya serempetan dari salah satu motor. Di antara 14 orang yang diperiksa, ada satu yang motornya diserempet dan kemudian dia melakukan provokasi dengan teriakan maling," jelas Zulpan kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (24/1).

Zulpan mengatakan pemilik motor yang tersenggol oleh mobil korban ini kemudian meneriaki korban maling. Hal inilah yang kemudian membuat warga beramai-ramai mengejar korban.

"Pemilik motor yang kesenggol tersebut mengakui memprovokasi dengan teriakan maling sehingga mengakibatkan orang-orang di sekitar berempati dan mengejar secara beramai-ramai dengan menggunakan motor terhadap pengemudi Toyota Rush tersebut," tuturnya.

Polisi telah menetapkan lima orang tersangka terkait kasus itu. Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan.

(ygs/mei)