Cerita Halil Sang Atlet Difabel, Jual Tisu hingga Raih Medali

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 16 Jan 2022 06:54 WIB
Jakarta -

Halilullah terlahir dengan kondisi tangan dan kaki yang tumbuh tak sempurna. Meski demikian, pria yang akrab dipanggil Halil itu tetap bekerja sebagai penjual tisu di jalanan, bahkan menjadi atlet renang yang berprestasi.

Dikisahkan Halil, semua bermula ketika ia masih dalam kandungan. Saat itu, 36 tahun silam, sang Ibu terkena kanker payudara dan harus menjalani tindakan operasi.

"Mungkin efek obatnya, saya jadi disabilitas. Dan itu pun juga payudara ibu saya itu sempat diamputasi karena sudah berkoreng payudaranya. Selagi saya masih di dalam kandungan. Akhirnya saya terlahir dengan kondisi disabilitas seperti ini," ujar Halil dalam program Sosok detikcom.

Pada masa kehamilan itu pula, ibu kandung Halil mengalami sejumlah keterbatasan. Termasuk belum tersedianya fasilitas ultrasonografi (USG), sebuah teknologi yang mampu memonitor kondisi janin di dalam kandungan.

"Zaman dulu, USG itu tidak ada. Namanya di kampung ya. Begitu saya lahir baru ketahuan kalau saya disabilitas," imbuh Halil.

Meski memiliki keterbatasan, Halil tak merasa minder. Selama ini pun ia belajar di sekolah umum dan tak pernah mendapat ejekan dari teman-temannya. Kondisi itu membuat Halil percaya diri.

Tak hanya dalam prestasinya sebagai atlet, kekuatan mental Halil juga ia tunjukkan dalam keseharian memenuhi kebutuhan hidup. Ketidaksempurnaan di tubuhnya tak menghalangi Halil turun berjualan di jalanan Kota Jakarta, menawarkan tisu kepada pengendara yang tengah menunggu lampu merah.

Pekerjaan sebagai penjual tisu di jalanan telah lama ia jalani, bahkan sebelum menjadi seorang atlet. Halil pun bercerita bagaimana awal dirinya bisa terjun ke gelanggang renang.

"Sebelum jadi atlet, saya memang sudah menjadi pedagang asongan. Lalu saya ditawarkanlah sama teman saya juga atlet disabilitas, itu pun saya kenal juga di jalanan. Akhirnya saya diajak lah ke sebuah tempat atlet disabilitas namanya NPC, National Paralympic Committee Indonesia. Di situ saya diperkenalkan sama ketua pembina atlet disabilitas," ujar pria yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu anak ini.

"Saya ditanya, 'Kamu bisanya apa?'. Saya jawab, 'Bisa berenang'. Lalu saya dites sama pelatih. Alhamdulillah saya bisa," lanjutnya.

Berkat giatnya berlatih, Halil berhasil merengkuh medali perak di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) Bogor, tahun 2018. Kini, Ia pun harus rela membagi waktu demi tetap bisa berjualan dan bisa berlatih renang.

(fuf/ids)