Inspirasi

Hal yang Bikin Halil Semangat Kerja Keras Meski Tangan-Kaki Tak Sempurna

Anggi Muliawati - detikNews
Minggu, 09 Jan 2022 12:47 WIB
Jakarta -

Halil adalah pria penyandang disabilitas. Tangan dan kakinya tak sempurna. Meski begitu, dia tetap bekerja keras di jalanan Ibu Kota. Ada hal yang membuat Halil tetap semangat di tengah keterbatasan yang melekat di tubuhnya.

Pria 36 tahun ini bekerja menjual tisu kemasan 180 lembar di sekitar lampu lalu lintas (traffic light) persimpangan Jl Wijaya I-Jl Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Halilullah, begitu nama lengkapnya, adalah seorang ayah dan suami yang berjuang menafkahi anak-istrinya.

Dengan berbekal kantong dan tas selempang, Halil menenteng belasan kemasan tisu dan menawarkannya pada setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah, saat siang terik, Selasa (4/1/2022).

"Penghasilan sehari memang nggak menentu, kalau sepi cuma dapat Rp 50-70 ribu. Kalau ramai, bisa dapat Rp 150 ribu, itu buat makan, buat nyisihin nabung, dan buat biaya les anak sekolah," tuturnya saat ditemui di persimpangan jalan yang ramai ini.

Meski sengatan matahari seakan membakar kulit, hal itu tak lantas membuat semangat Halil meleleh. Sebaliknya, dia terlihat gesit meniti median jalan, menawarkan dagangannya kepada setiap pengendara yang lewat. Meski kakinya tidak normal, tapi dia tidak lantas berdiam di satu titik saja. Dia berjalan ke sana kemari mendekati mobil yang berhenti saat lampu merah menyala.

Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)

Halil tetap optimistis menjalani kehidupan. Terlebih ada buah hati dan istri tercinta yang menjadi penyemangatnya. Hal itulah yang membuat Halil terus bersemangat.

"Saya datang ke Jakarta tahun 2010, pernah ngontrak di Jakarta Selatan, lalu pindah ke Bekasi. Saya dan istri asli Sumatera, punya anak satu perempuan, umur tujuh tahun," ujarnya.

Dia punya satu putri usia 7 tahun. Istrinya adalah ibu rumah tangga. Demi memenuhi semua kebutuhan anak dan istri, Halil rela berpanas-panas, menghirup asap timbal jalanan Jakarta yang entah sudah berapa banyak mengendap di paru-parunya.

Holil atlet disabilitas penjual tisu di rumahnya, Bekasi. (Anggi Muliawati/detikcom)Halil atlet disabilitas penjual tisu di rumahnya, Bekasi. (Anggi Muliawati/detikcom)

Segala keterbatasannya tak membuat Halil kehilangan percaya diri. Dia tetap ikhlas menjalani kehidupan yang diberikan Sang Maha Kuasa. Kondisi disabilitasnya dia yakini berasal dari konsumsi obat kanker payudara yang diminum ibunya semasa Halil masih di kandungan.

"Ya memang sudah ini yang diberikan Yang Maha Kuasa, jadi syukuri saja," ujarnya.

Halil terus menjajakan tisu untuk menghidupi keluarga. Demi senyum manis anak-istri di rumah, Halil bekerja keras dengan semangat membara.

Jangan ngemis!

Dia juga punya pandangan soal orang yang menjadi pengemis karena menyandang disabilitas. Menurutnya, orang disabilitas tidak perlu putus asa karena solusi penghidupan selain mengemis pasti ada.

"Kalau menurut saya kurang pantas (orang disabilitas mengemis), karena disabilitas itu sebenarnya kalau dia nggak malas maka pasti ada jalan," kata Halil.

Dia menilai, keterbatasan fisik bukanlah alat untuk mengundang iba berlebihan. Kenyataannya, seringkali keterbatasan fisik dijadikan modal mencari belas kasihan dan alasan untuk mengemis.

"Dilihat itu juga seperti memanfaatkan kekurangan fisiknya," kata Halil.

Bila penyandang disabilitas punya kemauan dalam bidang olahraga, kemauan itu bisa senantiasa dimaksimalkan. Bila penyandang disabilitas itu punya kemauan berdagang, kemauan itu perlu diusahakan sekuat tenaga.

"Contohnya seperti saya disabilitas, tanpa harus mengemis atau mengamen kan masih bisa usaha yang lainnya. Kita dagang di lampu merah, nggak masalah. Yang penting jangan ngemis," kata Halil.

(dnu/tor)