Inspirasi

Semangat Hidup Halil, Atlet Penjual Tisu dengan Tangan-Kaki Tak Sempurna

Anggi Muliawati - detikNews
Minggu, 09 Jan 2022 11:09 WIB
Jakarta -

Tengah hari di sudut Jakarta Selatan ini memaksa keringat pejalan kaki mengucur. Lampu merah membuat para pengguna jalan makin tak sabar ingin pergi cepat-cepat dari sorotan mentari.

Di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, suara klakson bersahutan. Memang beginilah jam sibuk, seolah-olah tiap orang punya urusan yang lebih penting dibanding yang lain, sehingga berharap yang lainnya membukakan jalan untuk dirinya sendiri. Bising klakson terus saja terdengar, lama-lama bikin jengah juga.

Meski begitu, ada satu orang yang tak terpengaruh dengan kebisingan yang ada, tak surut pula oleh intimidasi matahari di atas ubun-ubun. Satu orang itu adalah Halilullah, atau yang akrab disapa Halil (36).

Halil punya tangan dan kaki yang tidak sempurna. Lengan kirinya sampai lengan bawah, namun hanya tersisa jempol saja di ujungnya. Lengan kanannya hanya sampai seperempat lengan bawah, tanpa jari. Kedua kaki Halil tidak sama panjang. Jari-jari kakinya berposisi menyerong. Sandal jepit tak bisa dia kenakan dengan sempurna. Dengan kondisi itu, langkahnya memang tidak setegap serdadu, namun semangat hidupnya boleh diadu!

Di tengah padatnya lalu lintas, Halil menawarkan tisu kepada para pengemudi yang berhenti di lampu merah. Dari kendaraan pertama hingga kendaraan kedua, ketiga, dan seterusnya. Dia meniti median jalan dengan langkah-langkahnya yang terlihat tidak mudah.

Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)

Dengan keterbatasan telapak tangan kiri yang hanya punya satu jari (jempol), dia masih bisa mengacungkan satu kemasan tisu supaya orang-orang di dalam mobil bisa melihat dagangannya. Tas selempang warna cokelat di sebelah kiri tak cukup menampung kemasan-kemasan tisu itu. Pundak kanannya masih memuat satu kantong besar tisu dagangan.

Ketika lampu kembali hijau, Halil yang bermasker hitam ini beranjak. Saat lampu kembali merah, ia kembali menawarkan tisu kemasan itu ke kendaraan yang berhenti. Hal itu terus berulang dia lakukan.

Setiap hari Halil menempuh perjalanan satu jam dari Bekasi ke Jakarta dengan menggunakan bus. Meski begitu, Halil tak pernah mengeluh, karena hidup ini merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa.

"Memang sudah ini yang diberikan Yang Maha Kuasa, jadi syukuri saja," ujarnya di lampu merah Jl Wijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (4/1/2022).

Halil mengatakan setiap hari dari rumah berangkat pukul 06.00 WIB, dan sampai di Jakarta sekitar pukul 07.00 sampai 08.00 WIB. Lalu dia akan pulang pada pukul 18.00 WIB.

"Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 6 sore, kalau sakit bisa lebih cepat pulangnya. Kalau nggak macet, perjalanan satu jam," ujarnya.

Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)

Satu tisu kemasan 180 lembar dia jual seharga Rp 5.000. Sehari dia bisa mendapat Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu. Meski penghasilan sehari-hari tak menentu, Halil tetap bersyukur. Pekerjaan tersebut telah dijalaninya kurang lebih selama tiga tahun.

"Jualan udah hampir tiga tahun. Sebelumnya jualan air mineral di Simpang Kartini (Lebak Bulus, Cilandak) selama lima tahun, tapi sejak mulai pandemi, orang pada takut juga, lalu beralih ke tisu," ujarnya.

Setiap hari Halil membeli 15 sampai 20 bungkus tisu di Pasar Santa untuk dijual kembali. Dia berjalan kaki sekitar 400 meter setiap harinya dari persimpangan lampu merah Jl Wijaya I menuju Pasar Santa, meski dengan langkah-langkah kecil dan pelan.

Selanjutnya, soal kondisinya sejak lahir: